YANTRI YANUARTI: "TIPIS" (PONDOKAN, TVRI - RABU, 6 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
YANTRI Yanuarti, (ketika itu) menjelang 27, pemeran Keke, bintang tamu seri Pondokan (TVRI), episode Suara-Suara Sahabat, tak perlu malu mengungkap dirinya (waktu itu) masih suka main dan mengumpulkan boneka. “Honor dari main sandiwara sering saya belikan boneka dan kaset.” Koleksinya (waktu itu) hampir memenuhi kamar pribadinya.
Manja, kolokan, itulah sifatnya. “Mungkin, karena waktu kecil saya pernah sakit parah, malah kata dokter harapannya tipis. Itulah menyebabkan orangtua memanjakan saya.” Giliran, kau memanjakan siapa? (Putus tunangan di hal. 10 Monitor No. 62/Tahun II/minggu ke-2 Januari 1988).
YANTRI YANUARTI OGAH DIIKAT. SETELAH SETAHUN TUNANGAN, KATANYA SUDAH TAMAT
SEDIH. Yantri lebih suka tutup mulut perihal kegagalan
pertunangannya. Padahal, ikatan setengah resmi itu telah berjalan 1 tahun. “Ah,
lebih baik ngomong lainnya aja, deh.” Kalaupun rada didesak, ia cuma bilang, “Habis
gimana lagi kalau memang nggak ada kecocokan?”
Kendati ada perasaan sakit, Yantri tak selalu menyesali. “Jelas, bagi saya itu memang pahit, tapi untungnya itu terjadi bukan di saat kami telah melangkah ke yang lebih jauh lagi.” Seperti biasa, pengalaman tersebut bisa ia jadikan pelajaran.
Walaupun ia diminta menjelaskan penyebab sebenarnya, Yantri akan memberikan jawaban yang sudah umum. “Kita sih bisa berusaha dan mencoba untuk bertahan. Tapi kalau Tuhan menentukan lain. Kita khan nggak dapat berbuat apa-apa.” Katanya, bukannya berlarut-larut dalam kesedihan bila ia suka menenggelamkan diri di kamar mendengar musik, memainkan organ, atau menghabiskan malam Minggu bersama keluarga.
“Dari dulu (jauh sebelum 1988-red) saya memang paling suka dengerin musik, nonton film. Sedih? Buat apa saya begitu terus? Buat apa saya begitu terus? Pokoknya saya udah lupain yang dulu-dulu (kejadian jauh sebelum 1988-red). Makanya, udah deh, jangan menyinggung yang itu lagi!,” pintanya (waktu itu).
Penyuka warna kuning dan merah, bertinggi-berat (waktu itu) 162-47, ukuran sepatu (waktu itu) 38, dan celana (waktu itu) 27 ini sebelum muncul dalam Pondokan telah terlibat di beberapa sinetron ataupun drama remaja (semuanya juga diputar TVRI-red). Sebut saja Jalan Tembus, Tigor, Hikmah, Jaring Jerat, Semakin Sunyi Semakin Indah, Menggenggam Bara, dan yang (waktu itu) baru saja diputar untuk Film Cerita Akhir Pekan, Miranti. Kesannya?
“Gimana ya…? Kayaknya biasa-biasa aja. Soalnya, saya merasa belum memberikan apa-apa. Bolehlah saya dibilang masih taraf belajar.” Toh, tampaknya (perkiraan waktu itu) Yantri memang mau total di situ. Setidaknya jalan menuju keseriusan ke arah itu telah ia rintis.
Terbukti, ia (belakangan itu) kuliah di Akademi Teater, dan meninggalkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Publisistik, sekalipun (waktu itu) sudah memasuki tahun keempat. “Sebenarnya sih sayang juga. Tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya saya lebih sreg di sini.”
LEBIH. Lahir di Jakarta, 21 Januari 1961, ketiga dari 6 bersaudara keluarga Moh. Yusup AS dan Yusnair, Yantri mengenal pentas sejak umur 10, dengan bergabung di Teater Cordova. Menginjak remaja, pindah ke Teater Gemanti. Prestasi di pentas adalah jaura ketiga dalam lomba pergelaran teater tahun 1982.
Sedangkan kiprahnya di layar televisi (saat hanya ada TVRI saja-red), berkat Yossie Enes, pengarah acara. Prosesnya gampang ditebak: kebetulan. “Waktu main ke TV (studio TVRI Senayan-red), sekalian mengantar teman rekaman, saya sendiri malah juga diajak. Udah gitu saja. Terus, ya sampai seperti ini.”
Ada larangan dari orangtua pada mulanya. Namun, kebebasan untuk memilih toh ia dapatkan kembali. Setelah ia merasa bahwa akting lebih dari sekadar hobi, lantas muncul kebimbangan. Meneruskan studi untuk mewujdukan cita-cita awalnya sebagai wartawan, atau memilih untuk mencurahkan segalanya di dunianya yang (waktu itu) baru.
Kalaupun ia lalu mengambil pilihan seperti 1988 ini, Yantri
punya pertimbangan sendiri. “Saya lebih cocok dengan pekerjaan yang tidak
terlalu banyak ikatan.” Maka, kerja di sebuah departemen, hanya mampu
membuatnya betah selama 7 bulan. Kendati syuting di luar kota untuk beberapa
film terkadang mengambuhkan penyakit maagnya yang parah itu, ia tak jera. “Malah
kalau nggak ada tawaran syuting atau rekaman, rasanya nggak enak banget.”
Lebih sering memakai celana panjang dibanding rok, pengagum Sylvester Stallone ini mengaku rada tomboy. Mulai kenal dekat dengan cowok, saat di SMA. Katanya, tak sampai berganti berkali-kali, namun ia enggan menyebut jumlah pastinya. “Saya sendiri nggak tahu apa masa itu bisa dibilang pacaran atau cuma cinta monyet.”
Yang serius, ya dengan yang sampai menjalin ikatan setengah resmi tadi, walau pada akhirnya patah di tengah jalan. Bila Yantri hingga 1988 masih memilih sendiri, bukan pula masa lalunya (jauh sebelum 1988-red) menjadikan trauma. “Rasa khawatir memang ada, tapi saya nggak menutup diri, kok. Cuma belum ada yang sreg aja.” Padahal, yang ia dimbakan cuma, “Bisa menyayangi dan memanjakan saya.” Sudah selesai.
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar