OBITUARI RYAN HIDAYAT

 


SOE HOK GIE, mahasiswa UI, aktivis dan pemikir di tahun 60-an, dalam catatan hariannya senang sekali mengutip:

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan

Yang kedua dilahirkan, tapi mati muda, dan

Yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu.

Bahagialah mereka yang mati muda.”

Kalimat yang dikembangkan dari percakapan Midas dan Silenus, yang tercantum dalam ‘The Birth of Tragedy’ karya Frederich Nietze itu, memang dikagumi Soe Hok Gie, adik kandung sosiolog Arief Budiman. Tak heran bila ia berusaha mencari penjelasan-penjelasan rasionalnya.

Sedangkan Ahmad Wahid, aktivis mahasiswa dan pemikir asal Madura di era yang sama, juga mengemukakan ketakutan, kecemasan, dan keraguan, yang menjadikan keduanya memandang hidup ini serba hitam. Demikian juga James Dean, bintang Hollywood yang kematiannya di usia 24, begitu mengguncang dunia perfilman. Ketiganya mati muda, setelah sebelumnya terkenal, begitu dihormati, dan besar lewat bakatnya.

Ryan Hidayat pun sempat mengungkapkan kecemasan dan keraguan pada kehidupan dengan cara senada pada ibunya. “Saya tidak mau hidup terlalu lama. Buat apa?” Tapi apakah kemudian itu dianggap sebagai tanda mereka adalah orang-orang skeptis, pesimis, dan tidak ingin berbuat apa-apa? Nyatanya tidak.

Soe Hok Gie memimpin mahasiswa turun ke jalan tahun 1966 dan aktif mengabarkan pikirannya lewat tulisan, begitu pula Ahmad Wahid. Sedangkan Ryan Hidayat, yang berada pada ruang dan waktu berbeda, bergiat terus di dunia hiburan: televisi dan film. Sebagai satu kecintaannya terhadap pilihan hidup dan negerinya, Ryan sangat berkeinginan membangun kembali perfilman Indonesia. Itu diungkapkannya berkali-kali pada keluarga maupun sahabat dekatnya, Tio Pakusadewo.

Soe Hok Gie, Ahmad Wahid, James Dean, dan Ryan Hidayat, memang pribadi yang berbeda, hidup dalam dunia dan kurun waktu yang berlainan. Tapi nampaknya mereka, “Manusia-manusia baru”, punya benang merah, ‘sense of mission’ (mengutip istilah Daniel Dhakidae) yang besar.

Ada semacam semangat untuk mengubah kondisi yang terlanjur stagnan dan mapan. Lalu apakah semangat itu lenyap setelah mereka “pergi”? Ataukah Ryan akhirnya hanya menjadi musafir kesepian yang meneriakkan keinginan tanpa ada sambutan?

Agak sulit memang melacak jejak pikiran Ryan Hidayat. Ia bukan Soe Hok Gie atau Ahmad Wahid yang rajin menulis catatan harian. Juga, ia jarang sekali membicarakan tentang dirinya sendiri di media massa, yang selama itu biasanya menjadi medium bicara para artis dan pekerja dunia hiburan.

Selain itu, dia bukan tipe artis yang dibicarakan khalayak ramai akibat sensasi atau gosip yang dihadirkan (paling-paling, Ryan pernah ramai dibicarakan ketika berciuman dengan Nike Ardilla dalam film Ricky Nakalnya Anak Muda dan kisah cinta singkatnya dengan Titi DJ). Cara yang paling sederhana, melacak jejak pikiran Ryan lewat orang-orang yang selama itu dipercaya dan dekat dnegannya: ayah, ibu, adik, dan sahabat.

Bagi kebanyakan penggemar, wartawan, dan artis, Ryan terkesan sebagai sosok yang dingin. Ia bukanlah artis yang mudah membuka diri. Meskipun ia dapat menyatukan diri sebagai pribadi populis dan biasa, berkumpul dalam lingkungan dan gaya eksklusif. Bahkan bisa dibilang Ryan berusaha keras untuk memisahkan dirinya sebagai pribadi biasa sama seperti manusia lainnya dan sebagai artis. Itu terungkap di berbagai kesempatan.

Ryan paling tidak suka bila ada penggemar meneriakkan namanya di pertokoan atau tempat umum lainnya. Ia akan memanggil orang itu dan mengatakan, “Tolong dong hargai gue seperti manusia lainnya! Kalau memang kepengen ngobrol, datang saja langsung dan gue akan melayani!” Ini diceritakan oleh Robi Noor Dewo, sahabat dekat Ryan sejak 10 tahun terakhir (belakangan itu/1987 hingga 1997-red).

Atau di lain kesempatan, saat Ryan terbaring di rumah sakit sehari sebelum “kepergiannya”, ia sempat marah pada seorang perawat yang mengagumi ketampanan dan permainan Ryan di televisi. “Suster, saya tidak suka bila mengaitkan pribadi saya sebenarnya dengan kehidupan di teve. Suster pun sangat menyenangkan dan cantik ketika sedang bekerja. Tapi apakah dalam keseharian suster juga pribadi yang sama?” Demikian kenang ibunda Ryan.

Pertanyaan Ryan ini cukup menghentak, memang. Belum lagi kebiasaannya melakukan aksi “tutup mulut”, bila keluarga dan teman-teman lain menanyakan kebenaran gosip seputar kehidupan artis. Baginya, itu persoalan masing-masing orang, dan ia tidak mau membicarakannya. Ia lebih memilih untuk mewujudkan keinginannya menghasilkan karya terbaik.

Maka tak heran bila ia bersedia bekerja pada VIP Production, rumah produksi milik Ria Irawan. Main di film eksperimental (layar lebar-red) Kuldesak garapan Rizal Mantovani, Mira Lesmana dkk, atau belajar menyutradarai pada sahabatnya, Tio Pakusadewo. Toh, tidak berarti Ryan orang yang sangat dingin terhadap lingkungan. Ia justru mendapatkan dan memberikan kehangatan pada orang-orang yang dianggap sangat mempercayai pandangan gaya hidup dan pribadinya.

Pada sang bunda, Eva Hidayat, Ryan tak ragu untuk membuka diri dan menceritakan setiap pengalaman yang singgah dalam kehidupannya. Dari situ, sang bunda bisa memaparkan Ryan sebagai pribadi yang sensitif dan mudah tersentuh akan hal-hal yang mungkin remeh-temeh untuk orang lain. Contoh paling jelas, ketika Ryan kehilangan mobilnya. Ia seperti patah semangat dan kehilangan daya.

“Kepergian” Ryan Hidayat di malam takbiran 1997 itu memang terasa menyentak. Semua seperti diingatkan kembali keberadaan Ryan Hidayat. “Ada rasa perih, nyeri, dan marah dalam dada saya ketika mendengar berita itu!,” ujar Ria Irawan.

Maka tidak heran ketika para teman melayat sampai pukul 04.00 dini hari, ada bisikan terucap, “Ryan, apa yang kamu lakukan tidaklah sia-sia dan kamu tidak sendirian.” Entah Ryan mendengar atau tidak bisikan itu, suara talu bedug dan takbir menutupi bisikan itu.

Ditulis oleh: Tavip Pancoro, Ida M. Palaloi, Lukmanoelhakim, Adi Pamungkas, Sandra Kartika, Dicky Lopulalan (berbagai sumber)

Ryan Hidayat, Catatan Hari Demi Hari

Bersama Katie yang dinikahinya di Australia. 

DUA puluh enam tahun yang sebelumnya, tepatnya tanggal 11 September 1970, Ryan Hidayat lahir di kota Praha, Cekoslowakia sebagai putra pertama dari pasangan Ir. K.A. Hidayat-Eva Jarylova Hidayat. Hanya dua setengah tahun merasakan udara kota Praha, Ryan diboyong orangtuanya ke Indonesia.

Sejak taman kanak-kanak (TK), kakak dari Claudia Hidayat dan Denny ini sudah akrab dengan kamera televisi. Ovaltine, Susu Cap Nona, dan Royco adalah beberapa iklan yang membuat wajahnya dikenal masyarakat. Akting Ryan dalam iklan Susu Cap Nona rupanya menarik perhatian Hasmanan, sutradara ternama Indonesia.

Ketika itu, tahun 1979 Hasmanan menyaksikan aktingnya yang wajar dalam siaran niaga TVRI (sebelum iklan di TVRI dilarang mulai tahun 1981-red). Ia yang kebetulan sedang membutuhkan pemeran anak-anak untuk film Anna Maria langsung mencarinya.

Nama Ryan langsung melambung karena film tersebut. Bahkan Piala Walikota Semarang jatuh ke tangannya pada FFI 1980 untuk pemeran anak-anak terbaik. Tidak hanya itu, Ryan juga berhasil masuk dalam jajaran unggulan pemeran pria terbaik untuk film yang sama. Karir Ryan dalam film terus bergulir. Ia membintangi 12 film lainnya, antara lain Buah Hati Mama, Nakalnya Anak-Anak, Gema Hati Bernyanyi, sebelum masa vakumnya yang dimulai tahun 1982.

Lima tahun tanpa film, tahun 1987, Ryan kembali lagi dengan film serial Lupus, diangkat dari novel laris dengan judul sama. Gara-gara membintangi serial ini, Ryan kerap diidentikkan dengan tokoh remaja rekaan tersebut. Ryan juga membintangi beberapa film lainnya yang masih bertema remaja, seperti si Roy, Ricky, dan lain-lain.

Langit Kembali Biru menjadi satu dari sedikit film layar lebarnya yang menantang akting Ryan. Sementara Kuldesak merupakan film layar lebarnya yang terakhir. Film yang dibesut empat sutradara muda Indonesia (era itu) ini – waktu itu – belum lagi diputar di bioskop tanah air.

Mandulnya perfilman nasional dan suburnya sinetron mau tak mau membuat pria muda (era itu) ini beralih ke industri televisi. Beberapa sinetron yang sempat dibintanginya adalah Bella Vista, Mentari Di Balik Awan (keduanya diputar RCTI-red), Melangkah Di Atas Awan (Indosiar), dan Tirai Kasih Yang Terkoyak (RCTI). Tidak puas sebagai pemain, Ryan mencoba karier sebagai sutradara. Adalah Tio Pakusadewo, sahabatnya, yang memberinya kesempatan itu dalam sinetron Anak Menteng (ANteve).

Filmografi: 

1979 – Anna Maria

1980 – Gema Hati Bernyanyi, Di Sini Cinta Pertama Kali ZBersemi, Buah Hati Mama, Nakalnya Anak-Anak, Darna Ajaib, Kemilau Kemuning Senja

1981 – Lembah Duka, Tali Merah Perkawinan

1982 – Sangkuriang

1987 – Lupus I, Lupus II

1989 – Lebih Asyik Sama Kamu, si Roy

1990 – Lupus IV, Ricky Nakalnya Anak Muda

1991 – Langit Kembali Biru

1996 – Kuldesak 

“Saya Tidak Mau Hidup Terlalu Lama”

PRAHA, Cekoslowakia di tahun 70-an, beberapa mahasiswa Indonesia (era itu) menggandneg bocah cilik (era itu), berambut pirang agak gondrong di jalanan kota. Cleoteh-celoteh kecil keluar dari anak (era itu) berumur (waktu itu) 2 tahun itu. Ketika ada serombongan gadis Cekoslowakia (era itu) di hadapan mereka, para mahasiswa (era itu) tadi “melepas” sang bocah (era itu), yang tanpa merasa sungkan mendatangi gadis-gadis cantik (era itu) itu.

Ini mengahdirkan kegembiraan tersendiri bagi para gadis (masa itu). Mereka pun menggoda sang bocah (masa itu). Saat itulah, para mahasiswa Indonesia (masa itu) bergabung dengan berkenalan dengan para gadis (era itu) kebangsaan Cekoslowakia itu.

Kenangan itu lekat dalam bneak K.A. Hidayat, ayah bocah kecil (era itu) bernama Ryan Hidayat yang kemudian dikenal sebagai bintang iklan, film, dan sinetron Indonesia. Ryan memang gampang sekali bergaul dan sering “dipinjam” teman-teman kuliah Hidayat semasa di Eropa Timur itu.

“Dari awal, saya memang menginginkan anak saya disukai banyak orang. Nama Ryan, saya ambil dari nama penyanyi Inggris, Barry Ryan. Penyanyi itu sangat simpatik dan digemar ibanyak orang. Saya ingin Ryan sesimpatik penyanyi idola saya itu, meski saya tidak pernah beprikir suatu hari Ryan akan menjadi ‘public figure’,” kenang Hidayat di rumah duka, Villa Delima, Cinere, Jakarta Selatan.

Memang dalam kesedihan yang mendalam, kenangan demi kenangan seperti terpampang di depan mata. Seperti tidak ada habisnya, meski Ryan telah menghembuskan nafas penghabisan pada tanggal 8 Februari 1997, pukul 19.00 WIB atau tepat saat seluruh umat Islam menyerukan kebesaran nama Tuhan.

Ryan memang dikenang sebagai pribadi yang hangat oleh keluarga Hidayat. Sedari kecil, ia selalu menghadirkan pesona keakraban tersendiri bagi orang-orang di sekeelilingnya. Tak heran bila Ryan disukai dan diingat jelas. Dokter dan perawat yang menangnai kehadirannya di Praha tanggal 11 September 1970, tetangga di Ceko maupun Semarang dan Jakarta, para tukang becak di Tebet, menjadi saksi betapa cepatnya Ryan beradaptasi dan mandiri.

“Pernah satu kali saat syuting Anna Maria, Ryan naik taksi sendiri ke lokasi syuting, gara-gara penjemputnya tak kunjung tiba. Itu membuat sutradara panik dan memarahi bagian penjemputan,” ujar Eva Jaryfova Hidayat, sang ibu, sambil mengusap air yang mulai menggenangi kedua pelupuk matanya. Keheningan pun tercipta.

Tidak berarti segala sesuatunya berjalna dengan sempurna. Ada saat ketika Ryan Hidayat sangat terpukul. Kemurniannya untuk bersahabat dnegan siapa saja, ternodai ketika mobil Toyota Starlet kesayangannya hilang dicuri saat diparkir di IKJ, tempatnya kuliah dulu. Mobil itu memang punya makna tersendiri. Ia mencintai dan menyayangi sepenuh hati. Di mobil itulah, setiap kenangan hidup dijalani.

“Saking sayangnya dengan mobil itu, Ryan sering “curang”. Kalau hujan turun dengan deras, ia cepat-cepat memasukkan mobil ke garasi dan meminjam mobil saya untuk bepergian,” ujar Eva Hidayat sambil tersenyum getir. Sepertinya masih terbyaan gekspresi Ryan Hidayat saat merayu sang bunda.

Mungkin ada yang menganggap Ryan terlalu sentimental dan romantis. Kehilangan mobil saja bisa melunturkan semangat hidup. Tapi itulah cara Ryan memandang hidup. Setelah kehilangan mobil tahun 1992 itu, Ryan memutuskan pergi berlibur dan mengunjungi kakek-neneknya di Cekoslowakia selama beberapa bulan. Setelah itu, ia memutuskan untuk sekolah audiovisual di Australia. “Saya cukup beruntung terlahir sebagai adik Ryan Hidayat.

Ia memberikan banyak perhatian di tengah kesibukan. Kami bersama-sama di Australia itu,” ujar Claudia Hidayat, adik Ryan yang terpaut usia 4 tahun ini. Australia kembali menumbuhkan semangat Ryan.

Di kota itu, ia memahami dunia yang digeluti selama itu secara lebih konseptual dari menemukan cinta tulus. Ia berkenalan, berpacaran, dan menikah dengan seorang gadis cantik bernama Katie. Itu menumbuhkan semangatnya untuk kembali berkreasi demi kecintaannya pada Indonesia.

Sayang jejak yang ditapaknya tidak terlalu panjang. Obsesinya untuk membangun kembali perfilman nasional pun tak kesampaian. Di antara selang-selang oksigen, infus dan pengobatan intensif di rumah sakit Puri Cinere, Ryan tidak mau kehilangan semangat. Berkali-kali, ia mengungkapkan keinginannya untuk segera pulang dan kembali berkarya. “Saya sedih sekali melihat penderitaannya saat itu. Ia merasa badannya sangat sakit, sesak nafas.

Pasti sakit sekali sehingga ia tidak bisa mengnedalikan tubuhnya. Ia meronta-ronta, sampai-sampai untuk menenangkannya pihak rumah sakit harus mengikat Ryan ke tempat tidur dan menyuntikkan obat penenang. Saya benar-benar tidak tega. Tapi saya harus tetap berada di sampingnya. Karena itu, memang keinginannya dan keinginan saya untuk melepas kepergiannya,” suara Eva Hidayat hilang tertelan isak tangis.

Komplikasi tipus, demam berdarah, dan pneumonia menjadi pengantar kepergian Ryan. Diantarkan rekan-rekan karib, Titi DJ, Karina Suwandi, Tio Pakusadewo, Sophan Sophiaan, Widyawati, Alba Fuad, Silvana Herman, Paquita Widjaya, Ari Sihasale, Teuku Ryan, Rizal Mantovani, dan masih banyak lainnya, Ryan beristirahat selamanya di pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Hujan deras yang mengguyur Jakarta saat itu mengentalkan misteri tentang kematian dan hidup manusia.

Dan rasanya (waktu itu) masih segar jawaban Ryan pada ibunya ketika sang bunda khawatir akan kesehatan dan bobot tubuhnya yang semakin kurus. “Ah, untuk apa hidup lama-lama? Bisa sampai umur 60 tahun saja sudah baik. Saya tidak mau hidup terlalu lama, karena saya tidak tahu harus berbuat apa.” (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) selamat jalan kawan, semoga engkau tenang di sana.

Ria Irawan: “Ada Rasa Perih, Nyeri, dan Marah Dalam Dada”

Ryan dan Ria dalam selamatan acara AIR 

Hubungan Ria dan Ryan terbina sejak kanak-kanak. Saat mereka bocah dan main film bareng. Begitu dewasa, keduanya tetap karib. Banyak kegiaitan yang dilakukan bersama. Salah satu yang dicatat BI adalah saat keduanya terikat kerjasama dalam memproduksi video musik Nike Ardilla (Suara Hatiku), Nia Zulkarnaen (Kanda Di Sini). Dalam video itu, Ryan menjadi model klip, sementar aRia, sutradaranya.

Ada dialog yang dicatat BI saat syuting video musik Nike Ardilla, di kediaman Ria, dua tahun sebelum bacaan ini diturunkan Bintang (1995-red). “Saya dan Keke (panggilan Nike Ardilla-red) belum lama kenal. Tapi sejak syuting ini kok kayak tak terpisahkan?,” katanya. Keakraban ini yang mungkin memudahkan Ria men-‘direct’ keduanya melakonkan adegan percintaan.

Keakraban ini yang mungkin memudahkan Ria men-‘direct’ keduanya melakonkan adegan percintaan. Obrol-obrol BI bersama Ryan dan Nike Ardilla terjadi di meja makan rumah Ria. BI (Bintang Indonesia) – waktu itu – masih ingat saat Ria memotret Ryan dan Nike berpelukan untuk keperluan syuting. Ryan berpersan untuk dikirimkan cetakannya.

“Saya harus punya foto bersama Keke,” kata Ryan. Foto hasil bidikan Ria ini yang BI pakai untuk ‘cover’ edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997 ini. Di situ Ryan dan Nike tampak begitu bersahaja.

Selain menjadi model untuk video musik yang disutradarai Ria Irawan, Ryan juga pernah dijadikan sutradara untuk acara Agama Islam dan Remaja (TPI). Ria mendengar kabar meninggalnya Ryan saat umroh. Anehnya, beberapa kali ingatannya melayang pada Ryan dan Nike. “Selain Ryan, saya ingat terus pada Nike, makanya saya berniat mengumrohkan Nike. Setelah umroh saya selesai, ada baiknya saya mendoakan teman-teman saya dari tanah suci,” cerita Ria.

“SAYA sedang umroh ketika mendengar beirta kepergian Ryan Hidayat. Ada rasa perih, nyeri, dan marah dalam dada. Tapi saya tidak bisa menjelaskan kenapa perasaan demi perasaan itu hinggap dalam diri saya. Semuanya datang menyergap dengan cepat. Saya membalikkan badan dan ingin rasanya menangis. Tapi saya menguatkan diri untuk tidak meneteskan air mata. Saya bukan apa-apanya, hanya sekadar teman.

Pengalaman demi pengalaman bersama Ryan berpadu dengan pengenalan saya atas dirinya. Di kepala saya berputar rol film kenangan dari ketika kami main bersama dalam Nakalnya Anak-Anak di tahun 1980, sampai dengan syuting video musik Nike Ardilla dan kerja bareng menggarap paket Agama Islam dan Remaja (AIR-TPI).

Semuanya mengalir begitu cepat dan menyesakkan. Perjalanan bersama itu, saya dan Ryan, telah menempatkan diri sebagai saksi dan pendengar setiap teriakan suka dan keluhan duka Ryan menjalani hari-harinya. Di salah satu pojok kota Mekkah, saya pun tertunduk. Jari saya mengguratkan beberapa baris puisi. Semoga ini menjadi senandung pengantar perjalanan adik tercinta, Ryan Hidayat.

Adikku, pada saat kita kehilangan seorang sahabat sempat kita sesali kepergiannya. Kenapa begitu cepat!?!

Hari-hari kemarin… kau masih berbagi rasa, tentang langkahmu yang mencari arah…. Dan berjuta tanda tanya di dasar dada.

Juga kau berbagi rasa tentang cita-cita, tentang cinta dan perempuan yang akan menjadi ibu anak-anakmu. Ah…

Adikku, aku bersimpuh di Masjidil Haram,

Malam ini sejagad manusia bertakbir

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Tnagnaku membentang di sermabi rumah Tuhan

Mataku basah, kalbuku tengadah menatap MataNya.

Ya, Allah… hentakkan langkah-langkah adikku

Biarkan adikku berlari dan menancapkan panji-panji kemenangan di puncak sana.

Ya Allah, pancangkan tiang-tiang beton bercakar baja di rongga hatinya… Jangan biarkan sukmanya limbung, jangan biarkan derapnya gontai.

Dan berbatas dinding empat sisi, berjarak jutaan mil, Allah menyelmaatkanmu adikku. Kau bicara tanpa suara… “Ya, Khalik aku datang.”

Selamat jalan adikku…

Tapaki perjalanan panjangmu dengan obor kebebasan

‘Allahu Akbar Walillaahihamd’.”  

 

Tio Pakusadewo: “Ryan Titip Adik-Adiknya”

 

Terakhir (waktu itu) Tio kerja bareng Ryan saat menggarap sinetron Anak Menteng yang ditayangkan ANteve (Andalas Televisi). Sebagai ‘co’-sutradara – kadang menggantikan posisi Tio – ada sekitar 6 episode sinetron Anak Menteng yang sempat diselesaikan Ryan.

“SAYA mengenal Ryan sejak 10 tahun lampau (1987-red). Ketika itu Ryan sangat terkenal sebagai pemeran Lupus. Sejak ketemu itu kita langsung cocok. Mungkin karena sama-sama lahir di bulan September (Tio lahir 2 September 1963, Ryan 11 September 1971). Walaupun Ryan lebih muda, dia bisa ngomong segala macam hal soal film nasional. Saat kenal itu, saya sudah di IKJ. Setelah dia masuk IKJ, kita malah jadi jarang ketemu.

Ketika menggarap Anak Menteng, saya langsung menawari Ryan untuk mendampingi. Orang mungkin berpikir, Ryan hanyalah astrada (asisten sutradara) Anak Menteng. Sebetulnya dia sutradara juga. ‘Co-director’-lah. Bila saya berhalangan, dia yang memegang kendali, menyutradarai.

Saya percaya sama dia, bukan saja karena saya dekat. Tapi kedekatan itu membuat saya jadi tahu potensi yang ada dalam diri Ryan. Jadi bukan karena dia sering main sama saya lalu jadi sutradara. Saya memilihnya karena dia memang punya potensi dan pantas menjadi sutradara.

Dalam 10 tahun berteman, 5 tahun kita selalu jalan bareng. Pernah kita ke Surabaya, berdua. Nyetir gantian. Kebayang dong, dari Jakarta ke Surabaya, berdua. Yang kami bicarakan banyak sekali, dari unek-unek soal pacar, soal keluarga, soal keinginan, sampai dengan soal cita-cita yang sudah pernah dibicarakan sebelumnya.

Dia punya cita-cita yang sangat sederhana sebetulnya, Ryan ingin film Indonesia bisa ngomong di negeri sendiri, nggak usahlah di dunia internasional. Bisa jadi karena dia sudah mengenal film dari kecil. Dari umur 4 tahun sudah pernah menikmati surganya film. Karena dia pernah dapat piala Citra dari kecil. Saat main di Lupus, dia malah sempat jadi idola. Mungkin itu yang membuat Ryan betah di film. Semangatnya untuk film luar biasa. Dia mau main di Kuldesak tanpa dibayar.

Tiga hari sebelum meninggal, dalam keadaan masih lelah karena sakit, dia memaksa untuk bergabung dalam produksi Anak Menteng. Setelah menerima telepon Ryan, saya merasa ada yang aneh. Tiga hari kemudian, ada kabar Ryan meninggal dunia.

Saya sempat nggak percaya. Saya baru percaya setelah melihat jenazahnya. Suatu hari Ryan memang pernah berpesan sama saya. Dia titip adik-adiknya, karena dia berencana kembali ke Australia. Rupanya, makna pesannya itu baru saya bisa artikan sekarang (1997-red), setelah yang bersangkutan pergi ke alam baka.”

Selamat Jalan Kawan

Selain Tio Pakusadewo dan Ria Irawan, beberapa rekan dan produesr Starvision mengungkapkan perasaan kehilangan yang mendalam.

Bucek (pemain Anak Menteng)

“SAYA hanya ingin mengucapkan kekecewaan terhadap pandangan banyak orang akan sebab kepergian Ryan. Orang sudah meninggal, ya sudahlah. Yang peniting kita bisa mengingat dan meneruskan niat dan kegiatan positifnya. Soalnya, dari Ryan saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Baik saat menyutradarai saya di Anak Menteng (ANteve), bermain bersama dalam Bunyi (RCTI), maupun saat kami jalan bersama Titi DJ dan Katie.” 

Ramon P. Tommybens (pemain Anak Menteng)

“SATU kali di akhir tahun 1992, saya dan Ryan Hidayat duduk di tepi Pantai. Ryan yang saat itu sedang berpacaran dengan Titi DJ mengungkapkan rencana-rencana masa depannya. “Saya khan sekolah ke Australia. Saat ini (1992-red) saya memang mencintai Titi, tapi saya belum tahu berakhir di perkawinan atau tidak,“ ujarnya saat itu. Kita semua akhirnya tahu, Ryan pergi ke Australia dan menikahi Katie, sedangkan Titi DJ menikah dengan Bucek.

Di malam takbiran lalu (1997-red), saya bermaksud mengunjungi sanak saudara saat mendapat pesan di ‘answering machine’. Sebuah pesan dari Ira Wibowo yang mengabarkan Ryan telah tiada. Tidak percaya, saya mengulang pesan itu. Saya langsung melarikan kendaraan ke rumah Ryan, dan mendapati banyak mobil berderet di depan rumahnya.

Saya baru yakin, Ryan telah tiada. Entah kenapa, ada perasaan “tidak rela” di hati saya melihat Ryan Hidayat di usia 26 tahun telah terbujur kaku, dingin, dan pucat. “Orang ini Istimewa dan disukai banyak orang, kenapa harus pergi begitu cepat?””

Shanker RS, B. Sc. (produser Kharisma Starvision Plus)

“DI LUAR dirinya sebagai pemain, Ryan boleh dibilan pendiam. Kalau datang ke kantor, dia banyak diam. Paling-paling, dia cerita soal mobil barunya. Dan dia sepertinya bangga dengan mobil yang dibleinya. Karena sayangnya pada mobil, dia tidak jarang mengambil honor dulu untuk membeli ban dan aksesori. Kalau jalan ke café ramai-ramai, dia paling-paling duduk di satu temapt menikmati musik sembari minum. Dia tidak pernah iseng.

Nah, sebagai penghargaan atas dedikasi Ryan kepada Starvision, dua serial yang dia bintangi, yakni Tirai Kasih Yang Terkoyak (RCTI) serta Melangkah Di Atas Awan (Indosiar) akan kami teruskan. Artinya, Ryan sempat syuting sekitar 30 hingga 40% di dua serial tersebut tidak dihilangkan. Penggnati Ryan hanya akan meneruskan adegan yang tidak sempat dia jalani.”

 

Karena Tipus, Sejak Masuk Rumah Sakit Ryan Diinfus

 


KEMATIAN Ryan Hidayat, agaknya, tak mesti dicurigai macam-macam. Sebab, sama persis dnegan keterangan yang diberikan oleh keluarganya, seorang dokter di RS Puri Cinere mengungkapkan lewat telepon pada hari Jumat (14/2/97) lalu, bahwa Ryan memang meninggal akibat komplikasi tipus dan demam berdarah.

“Sejak masuk pada 31 Januari (1997-red), pukul 10.30 pagi, panas tubuhnya tinggi terus, sehingga ia pun mesti terus-menerus diinfus,” ungkap dokter itu. Tercatat, pada awal perawatannya, Ryan diinapkan di Ruang Anggrek selama 4 hari, sebelum kemudian dimasukkan ke ruang ICU. “Jadi tak benar kalau ada yang mengatakan dia dirawat di ruang gawat darurat!,” tegas dokter yang ikut merawat Ryan.

Pemindahan tempat perawatan itu sendiri, menurut dokter itu, tiada lain, karena kondisi Ryan betul-betul memerlukan pemantauan khusus. “Dokter yang merawatnya pun tidak lagi satu orang, tapi sudah melibatkan dokter-dokter lainnya,” ujar dokter tersebut. Namun, ternyata meski usaha keras sudah dilakukan, Tuhan telah berkehndak: Ryan harus “kembali” ke haribaanNya.

 

 Ryan dalam pembuatan acara paket Tahun Baru 1997 

“Seingat saya, sejak awal perawatan sampai meninggalnya, Ryan terus menerus ditunggui oleh ayah, ibu, dan kerabatnya yang lain,” kata dokter itu. Ia kemudian menjelaskan pula, sesuai ‘medical record’ yang ada, Ryan baru kali itu dirawat di RS Puri Cinere.

“Menilik siklus sakitnya, bisa jadi dia pernah dirawat di rumah sakit lain. Tapi, bukan tak mungkin, menilik kesibukannya, almarhum (Ryan Hidayat-red) tidak menyadari penyakitnya itu, sehingga saat dibawa kemari, keadaannya sudah terlanjur parah,” ungkap dokter itu. Alhasil, di RS Puri Cinere, pada 8 Februari 1997 lalu, pukul 19.00 WIB, Ryan pun menghembuskan nafas penghabisan.

Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer