OPINI: TV SWASTA = TV OKE?

BEBERAPA waktu sebelum bacaan ini dimuat Citra, di usianya yang ke-5, ada banyak kegiatan menarik yang digelar RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Selain acara hura-hura, stasiun TV swasta tertua ini, antara lain juga menggelar acara lomba penulisan esai bagi para wartawan.

Bagi putra-putri guru yang berprestasi, RCTI juga menyediakan sejumlah beasiswa yang siap dibagikan. Sebuah pilihan kegiatan sosial yang sugnguh menarik. Asumsinya mungkin peran guru sebagai figur yang bisa jadi ‘counter’ bagi dampak negatif budaya TV dewasa itu.

Tak kalah menariknya, adalah tema yang diambil dalam lomba penulisan esai RCTI. TV “semua mengatakan oke” ini mencoba menggali pemikiran: “Kontribusi apakah gerangan yang mungkin bisa diberikan sebuah TV swasta dalam Pembangunan bangsannya?”

Tema ini jelas oke punya, berat dan berbobot. Apalagi mengingat dahsyatnya pengaruh TV sebagai sebuah budaya yang dominan bagi segala umur. Seorang bocah (era itu) bernama Havel Hardian yang umurnya baru 18 bulan, bahkan sudah bisa tertawa ngakak melihat dagelan Basho (RCTI). Maklum, sejak masih bayi, ‘cenger TV’ sudah menjadi “santapan” sehari-harinya.




 Kenyataannya, TV memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita (waktu itu). Sebuah kajian sosio-kultural bahkan tak segan-segan mengidentifikasi ritual interaksi antara kita dan TV sebagai sebuah ritual agama (baru – waktu itu) masyarakat modern.

Artinya, secara intens dan mutlak, hidup kita “dipandu” oleh TV. Anak-anak kita (era itu) secara pasti dibentuk dan dikondisikan untuk mengidolakan (dan memuja) Ksatria Baja Hitam atau Bart Simpson. Selera kita, obsesi-obsesi kita secara pasti juga mengacu pada dunia yang ditawarkan TV kita.

 











DALAM kondisi semacam ini, tema Peran TV Swasta dalam Pembangunan jadi makin menarik untuk dikaji. Dapatkah TV swasta punya peran yang oke? Pertanyaan ini dengan sendirinya adalah sebuah tantangan bagi TV swasta kita. Dlaam hal ini, poin pertama yang perlu diperhatikan adalah upaya (atau sebutlah perjuangan untuk lebih kerennya) untuk menjaga agar gagasan itu tidak menjadi absurd.

Ini penting sebagai landasan idiil bagi pengaturan strategi perjuangan riilnya. Pasalnya, bila gagasannya sendiri sudah absurd, lha bagaimana itu bisa nyantel dengan pembangunan yang nyata-nyata, jelas-jelas konkret adanya? Entah, bila pembangunan sendiri ternyata juga absurd adanya. Ini lain soal tentunya. 

Langkah kedua (dengan asumsi perjuangan poin pertama sudah berhasil), barulah tentang cara bagaimana sebuah materi tayangan bisa punya peran dalam Pembangunan. Perdebatan tentang ini, sebagaimana kita ketahui, (sampai saat itu) sudah lama berlangsung di kalangan pakar komunikasi.

 










Umumnya, inti perdebatan berkisar dalam soal tawar menawar seberapa banyak dampak negatif sebuah tayangan TV (kekerasan, sadisme, dan seks) bisa direduksi oleh karakter tayangan yang lebih edukatif. Contoh konkretnya: bisakah kekerasan dalam sinetron semacam Si Buta dari Goa Hantu (di Indonesia diputar RCTI-red) atau film seri Highlander (di Indonesia diputar SCTV-red) dinetralisir, misalnya oleh tayangan Sesame Street (di Indonesia diputar oleh RCTI/SCTV-red).

 












Terhadap permasalahan semacam itu, Solusi teknis yang ditawarkan biasanya adalah pada soal strategi pengaturan jam penayangannya. Dalam korelasinya dengan soal peran serta untuk pembangunan, solusi ini memang belum cukup relevan sebagai puaya memberi kontribusi.

Untuk menemukan cara urun rembug yang pas, pertama-tama kita memang harus kembali ke fungsi utama media TV sebagai sarana pemberi informasi. Baik dalam bentuk ‘entertainment’ maupun dalam bentuk yang lebih serius macam Nuansa Pagi (RCTI/SCTV) atau Laporan ANteve.
















DENGAN menyadari fungsi ini, maka kontribusi yang paling mungkin diberikan oleh TV swasta dalam pembangunan adalah informasi yang baik, benar dan jujur tentang pembangunan itu sendiri. Inilah hal paling mendasar yang juga vital dalam proses pembangunan bangsa ini.

Soal dampak negatif dari porsi tayangan-tayangan lainnya, itu adalah persoalan yang bukan menjadi tanggung jawab media TV sendiri. Itu adalah persoalan seluruh bangsa ini karena itulah memang tantangan terbesar dalam iklim keterbukaan masyarakat modern. Peran agama di sini juga ditantang untuk menjadi antisipator utama terhadap dampak-dampak itu. Peran orangtua juga harus dominan dalam hal ini.










 













Jadi, kalau memang mau oke, TV swasta harus jelas oreintasinya pada nilai strategis dan ideologis yang disandang perannya sebagai media informasi dan hiburan. Kepentingan modal harus mewakili ruang pada nilai-nilai tersebut. Kongkretnya, acara-acara yang mewakili nilai strategis dan ideologis itu (Seputar Indonesia, Buletin Siang – keduanya di RCTI/SCTV, red, Berita ANteve, dll) harus benar-benar mengacu pada nilai-nilai itu.








Jadi, informasi yang disampaikan, haruslah yang benar-benar baik, benar, dan jujur. Dengan begitu, maka TV swasta pasti oke punya, karena telah ikut berperan membentuk manusia-manusia yang juga oke. Manusia-manusia yang punya kesadaran, visi, dan semangat juang untuk menegakkan kebenaran dalam Pembangunan bangsa ini. Dan ini adalah sebuah peran yang sungguh tidak mudah. Nah, penulis bacaan ini (FX Rudy Gunawan, waktu itu mengucapkan) selamat berjuang TV swasta!

 

Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer