YANG TAK PERNAH USAI: "PENGANGGUR YANG AKHIRNYA TRANSMIGRASI" (KELUARGA RAHMAT, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 18 MARET 1990 Pkl: 21.30 WIB)
PROBLEM kehidupan tak akan pernah berhenti mengejar manusia.
Ketika sejumlah masalah muncul, lalu bisa diatasi, tak lantas kesulitan juga
berakhir, yang satu selesai, yang satu lagi menunggu giliran untuk
diselesaikan. Dan betapa kesulitan itu semakin berlarut-larut ketika kita
mencoba untuk menghindari. Itu kurang lebih moral dari episode Yang Tak Pernah
Usai, yang naskahnya ditulis Benni Setiawan.
Benni mencoba bersikap dalam menghadapi kehidupan. Dan itu dituturkan lewat naskah garapannya ini. Hanya saja, Benni kurang bisa arif dalam bersiasat. “Jalan” yang ia pakai terkesan pintas, dangkal, dan teramat permukaan. Jadinya, gagasan Benni malah tak tertuang dalam naskahnya.
Buntutnya, penonton kebingungan, apa maunya si penulis skneario? Adegan satu dengan yang lain, tak beriringan menuju satu titik temu. Jalinan cerita, tak dikemas dalam satu bingkai yang kokoh. Episode ini masih saja terbata-bata dalam bertutur.
Purnomo, seperti yang dikisahkan minggu kedua Maret 1990 lalu, sudah bekerja di sebuah perusahaan rekaman. Entah di bagian apa. Tapi yagn jelas, ada dialog yang menegaskan kalau di aini penulis lagu atau pencipta. Lalu muncul tokoh lain, Bejo namanya. Tokoh-tokoh yang tiba-tiba saja muncul ini, ceritanya tengah diperdaya nasib. Pekerjaan yang selama ini jadjaminan untuk membiayi hidupnya, terlepas dari tangannya. Jadilah dia pengangguran.
Padahal, ada anak dan istri yang setiap hari harus disediakan uang belanja. Pengangguran itu mencemaskan. Buat si penganggur sendiri atau orang lain, Bejo tak hanya dihadapkan pada kesulitan dirinya sendiri, tapi juga sikap orang-orang lain yang sering melihat dengan curiga. Kepada Purnomo dia sering datang meminjam uang, dengan dalih untuk biaya ngobyek. Padahal Purnomo tahu tak ada kegiatan bisnis yang sedang dilakukan Bejo. Itu hanya siasat agar dipinjami uang.
Suatu hari, ketika tengah bertandang ke rumah Purnomo, datang seorang pengamen. Dari sini Bejo dapat ide untuk jadi seorang pengamen. Lalu ia pakai alasna kalau anaknya ingin belajar main gitar, dia pinjam gitar ke Purnomo. Tentu saja Purnomo terharu mendengar penuturan Bejo ini. Dengan esnang hati, ia pinjamkan gitarnya.
Tapi betapa kaget, ketika ia tahu, gitar yagn ia pinjamkan bukan untuk belajar, tapi dipakai ngamen. Dan parahnya, Purnomo tahu pasti kalau Bejo tak bisa main gitar. Dengan modal nekad, tanpa kemampuan main gitar, nyanyi, Bejo memproklamasikan dirinya jadi pengamen. Kegiatan ngamen Bjeo terpaksa berhenti, ketika tengah menjajakan lagu, kepergok sama Purnomo.
Lalu dinasihati, “Bukan begitu caranya orang mencari uang.” Dan lain sebagainya. Bejo sadar, ia tak mau lagi jadi pengamen. Keputusan Bejo untuk tak lagi jadi pengamen ini, ditentang keras istrinya. “Lalu, dengan apa kamu akan kasih makan anak dan istrimu?”
Tanpa sengaja, pertengkaran suami-itsri ini didengar Purnomo yang kebetulan ingin mengambil gitar yang ia pinjamkan. Purnomo menyesal telah melarang Bejo ngamen. Tanpa ia sadari, kalimatnya justru menciptakan masalah. ‘Ending’-nya supaya kehidupan Bejo tak semakin ruwet, dan dia tak semakin sekarat dihajar nasib, dia ingin pergi meninggalkan kehidupan kota yang menyesakkan. Cerita selesai, semua tokohnya tersenyum. Dan Yang Tak Pernah Usai pun usai.
SELESAI. Problem hidup Bejo diselesaikan dengan bernanagkatnya dia menuju ke tempat baru, yang menurut pendapatnya lebih bisa memberi harapan. Sementara problem lain yang dimunculkan di episode ini, tentang niat Purnomo untuk mencari tempat kos, diselesaikan dengan jalan konsultasi ke pak Rahmat. Purnomo sudah tidak betah lagi tinggal di rumah dengan seorang ibu yang sama sekali tak mampu menciptakan kedamian.
Mungkin memang benar, bahwa kesulitan kita hanya kita sendiri yang mampu mengatasi. Tapi episode Yang Tak Pernah Usai tak konsisten dengan gagasan awal penulis skenarionya. Dengan berangkatnya Bejo, mungkin bukan menyelesaikan masalah. Di tempat baru bisa saja kesulitan lain yang lebih ruwet datang mengancam. Dan urungnya niat Purnomo mencari tempat kos, bisa saja malah membuat kesulitan yang ada semakin berlarut-larut.
Sebetulnya dengan menghentikan cerita ini ketika adegan pertengkaran Bejo dan istrinya, yang kebetulan didengar Purnomo, lebih memudahkan penonton untuk memahami bahwa problem kehidupan itu memang tak pernah selesai. Tapi itulah sinetron TV. Sepertinya sudah ada semacam keharusan untuk memberi contoh keteladanan, bukan mengemukakan kenyataan. Dan ini yang sering membuat penonton keburu jengah.
Belum lagi soal-soal teknis lain yang membuat kepenatan semakin terasa. Tapi, bagaimanapun juga, Benni yang memerankan sosok Purnomo itu, telah mulai memberi nilai lebih atas keterlibatnanya. Jebolan semester VI Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini (waktu itu) mulai mengasah kemampuannya di luar akting.
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Monitor – No. 193/IV/Minggu, 18 Maret 1990, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar