YANG BERBINTANG GERILYA MENGADILI PERAMPOK YANG MELARAT DI ALAM KEMERDEKAAN (TVRI - RABU, 17 AGUSTUS 1988 Pkl: 22.30 WIB)

VONIS. Joko di tengah sidang menunggu vonis yang akan dijatuhkan oleh hakim Hartoyo, akibat perbuatannya merampok

JIKA pada tayangan siang hari pemirsa menggerutu terhadap sajian yang dibesut Yossie Enes, karena sinetron Pejuang Tua tidak menampilkan greget, maka (waktu itu) coba tontonlah Bintang Gerilya (BG/TVRI) ini. Setidaknya, sinetron yang diangkat dari skenario Burhan Effendi merupakan salah satu lakon terbaik hasil sayembara tahun 1985 yang diselenggarakan TVRI) lumayan lancar untuk diikuti.

Pengertian lancar, yakni Yossie sudah sanggup merangkai suatu cerita. Adegan demi adegan berjalan mulus. Konflik yang diketengahkan berurutan, tidak terpatah-patah macam sinetron Tangismu Milikku (M. 74 – Monitor No. 30 Maret-5 April 1988, red) dan Yang Teguh (M. 76 – Monitor No. 13-19 April 1988, red).

Dari sudut materi naskah, kisah BG sangat mendayu-dayu. Juga setidaknya inilah lakon khas Melayu (atau lihat film India dan sebagian film Hongkong) yang berorientasi memanjakan penonton dalam memeras air mata. Sungguh mengharu biru semua sosok yang diketengahkan dalam BG. Dan BG nyaris tidak memiliki gagasan yang pantas dibicarakan. Tema yang ingin ditonjolkan terasa cengeng, malah ketinggalan mengenai kepapaan keluarga bi Inah.  

Dengan model sorot balik, Yossie mencoba membuka rahasia siapakah sebenarnya bi Inah itu. Dan adakah hubungannya dengan hakim Hartoyo, si tokoh sentral. Secara cermat pula Yossie menyusun kasus per kasus tanpa pretensi. Tentu, hal ini di luar kebiasaan Yossie, sehingga tontonan BG menjadi “bersih”. Menjadi sebuah cerita melodrama, bukan lakon perjuangan yang menggambarkan para pejuang melawan penjajah atau cerita dor-doran.

Bermula dari Hartoyo, mantan pejuang yang kini menjadi hakim, dan sukses karirnya. Pada bagian lain, dikisahkan tentang Achmad Buchari yang terlilit penderitaan. Achmad adalah cermin dari masyarakat yang miskin dalam alam kemerdekaan ini. Karena kebutuhan keluarga (kebetulan istrinya hamil tua), Achmad nekad merampok.

Tentu saja bukan cuma Achmad atau si Palon atau si Dadap yang melakukan. Tetapi jika keadaan terpepet, semua orang akan bertindak yang sama. Bahkan pada akhirnya semua orang juga membutuhkan materi. Bahwa dalam zaman kemerdekaan sekarang ini memang susah membedakan mana seorang yang patut dicap penjahat atau tidak.

Bahwa BG mencoba menyentil perihal tersebut terasa punya nilai lebih. Ringkasnya, dalam perampokan itu, Achmad tertangkap. Lalu, Hartoyo menjatuhkan hukuman 15 tahun, karena Achmad pun membunuh 2 orang. “Sudahlah, pak hakim. Saya ini lebih baik dihukum gantung,” rengek Achmad yang menyesali kesalahannya.

Mendengar rengekan Achmad, Hartoyo iba. Pak hakim ini menyadari kalau Achmad harus berpisah dengan sang istri. Dan ini kisah cuma terjadi pada sinetron. Istri Achmad – yaitu bi Inah – akhirnya bekerja sebagai pembantu di rumah Harotyo. Sekaligus Hartoyo mengangkat anak mereka menjadi anak kandungnya.

Namun, kisah BG tidak berhenti pada bagian tersebut. Rahasia hubungan Hartoyo-bi Inah dan Ernie (anak angkat Hartoyo) yang membuat pemirsa terbuai, masih ditambah lagi dengan konflik lain. Pokoknya, penulis skenario BG habis-habisan menguras air mata. Achmad mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di dalam sel.

Sebelumnya, Achmad bercerita pada Subarja tentang dirinya. Termasuk nasib istri dan anaknya yang sudah diangkat menjadi anak kandung Hartoyo. Di sini, konflik kian panjang. Disusul Subarja mengadakan pemerasan terhadap pak hakim. Pemerasan makin berkembang, jika usul Subarja tidak dipenuhi. Segalanya runyam. Apalagi Ernie akan melangsungkan pernikahan dengan Olan Pronggodigdo, pemdua turunan ningrat dan kaya raya.

Subarja terus mendesak pak hakim supaya mau membayar uang yang jumlahnya 25 juta rupiah. Awalnya, pak hakim galau, merasa ciut kalau rahasianya terbongkar. Lebih-lebih buat Ernie yang bakal menikah (bisa-bisa kelauraga Pronggodigdo membatalkan).

Tapi, peristiwa tersebut tidak terjadi. BG diakhiri serba beres. Masalah pemerasan pupus begitu saja, maklum diplomasi Hartoyo yang sudah banyak makan asam garam dalam perjuangan Hartoyo sudah tidak terhitung dapat bintang tanda jasa. Karena akhir kisah serba beres, pemirsa pun terkuras air matanya. Dan Ernie sudah mengetahui ibu kandungnya ialah bi Inah, begitu pula Ernie-Olan yakin menikah, maka unsur kejutan – sayang – tidak terkemas rapi oleh Yossie.

Perkembangan figur bi Inah-Ernie tidak tergarap. Kesannya bi Inah betul-betul berfungsi sebagai pembantu saja. Berbeda dengan sosok Subarja dan Hartoyo yang meyakinkan, pemirsa dibuat gemas terhadap tingkah mereka. Dan untuk Yossie, kita juga dibuat manggut-manggut karena sanggup membesut BG secara lancar. (Harpaan waktu itu) mudah-mudahan sinetron berikutnya lancar pula.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi/Bujang Praktiko

BINTANG GERILYA

Hartoyo – Sabarudin Lubis

Bi Inah – Yani Maslian

Ernie – Ratu Tria

Pak Pronggodiedo – Deddy Wijaya

Bu Pronggodigdo – Mila Karmila

Subarja – Krisna

Joko – Johan Jehan

Rizal – Hasan Sanusi

Pengarah acara: Yossie Enes

Skenario: Burhan Effendi

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer