WINDU BUJANADI

 
JUARA III GATRA PENDIDIKAN. Windu Bujanadi, (saat itu) 26 tahun, kameramen TVRI SPK Banjarmasin, menganggap kamera KCA 100, generasi 82, berbobot 10 kilo, sebagai belahan nyawa. Ke mana pun pergi, keselamatan kamera dijaga-jaga. Apalagi kalau medannya berat. Harus menyeberang, atau syuting di atas klotok, sejenis perahu misalnya, seperti yang dilakukannya dalam pembuatan paket Menetas Dari Induk Tiruan.

Dalam melaksanakan tugas, Windu yang sejak 6 tahun sebelumnya (1983-red) bergabung dengan TVRI tak pernah mengeluh. Pun ketika harus merambah kolong rumah, menyusup di kandang entok yang bau tahi, yang adanya memang di kolong rumah.

Di sini, dituntut kesabaran dan ketekunan. Soalnya, harus menunggu para itik tenang, baru syuting bisa dimulai. Atau bolak-balik mengeluarkan si entok dari sarangnya, karena pengarah acara pengen mengambil adegan si entok masuk ke saran pengeramannya.

Pun ketika harus begadang. Berangkat malam-malam dari Banjarmasin ke Amuntai. Sampai di Amuntai sudah pukul 22.00. Lalu berangkat lagi pukul 3 pagi untuk pengambilan adegan suasana itik turun dari kandang. Di sini, masih harus menyeberangi sungai, sambil memanggul belahan nyawanya, menunggu matahari terbit.

Anak ke-8 dari 10 bersaudara asal Yogya ini juga tidak merasa jengkel kalau pengambilan agambar diulang berkali-kali. “Yang penting bisa menyelesaikan acara sampai dengan hasil terbaik. Kita ikuti keinginan pengarah acara, keinginan teman-teman lain, soalnya ini kerja kelompok.”

Usaha dan kerja keras Windu memang tak sia-sia. Tahun 1987 ia dikirim membantu pemberitaan TVRI Jakarta meliput kegiatan SEA Games. Waktu TC, 1988, tentang pendhauluan teknik operasional studio, ia keluar sebagai rangking I di antara 20 peserta.

Ditulis oleh: Irene Suliana

Dok. Monitor – No. 151/III/minggu ke-4 September 1989/20-26 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer