ULLY ARTHA
SUDAH lama (waktu itu) ia tak muncul. Sebelum film Keluarga Markum, nongol terakhir di TV (TVRI-red) – kala itu – ya jadi bintang tamu Losmen, episode ke-17, 10 Desember 1986, judulnya Lembaran Baru. Kali ini oleh pengatur laku Wahyu Sihombing, Ully Artha didapuk jadi Siska, seorang wanita karir. Yang modis, ‘trendy’, dan berorientasi masa kini. Demikian jgua ia didandani. Pas. Begitukah Ully, 1988?
Sedikit betul, tapi banyak juga melesetnya. Ia punya usaha, tapi bukan pengusaha. Ia bisnis, tapi enggan disebut wanita bisnis. Jadi, apa? “’I’m an easy person’,” jawabnya. Begitukah ia membina profesinya? “Yah, pokoknya segalanya yang menghasilkan uang,” tambah aktris menengah yang telah membuktikan kesetiaan pada dunia film selama (sampai saat itu, 1988-red) hampir 2 dasawarsa ini.
Ngomong-ngomong tentang status sendiri? “Saya nggak kesepian seperti dibayangkan banyak orang, kok. Saya punya kesibukan, punya teman, dan punya lingkungan.” Soal rencana menikah tahun 1987 lalu yang luput? “Yah, gimana lagi? Dia sudah pergi, meninggal…kan saya.” Toh, Ully tetap ceria. Masih menunggui sampai malam hingga semua adiknya masuk rumah, masih juga membetulkan genting yang pecah.
Saat-saat 1988, justru ia lebih merasa jadi “ibu”, semenjak ibunya yang menjanda 23 tahun, meninggal pada 22 Desember 1987 lalu. Jadi, cocklah bila Ully ingin mengendapkan keprihatinan dalam kesepian. Sendirian.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi
Dok. Monitor – No. 71/II/minggu ke-2 Maret 1988/9-15 Maret 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar