ULASAN - WAJAH PEMERINTAH: "YANG BERUBAH DAN BERTAMBAH"

 

WAKTU, WAKIL, WAKAF. Media massa di Indonesia boleh dibilang media massa pemerintah. Terutama kalau ditilik bahwa sumber berita utama dan terbesar, dari pemerintah. Bahkan kalau dipersempit media massa elektronika, TVRI dan RRI, wajah itu “99% ‘pure’”, meminjam bahasa iklan. Tak ada yang salah. Alasan ini bukan mau membenarkan berdasarkan situasi dan kondisi, melainkan bukan tidak mungkin pengelolaan model begini.

Karena kenyataannya, penyajian banyak yang berubah. Ada yang bertambah, ada yang berubah, ada yang dibenah. Hanya saja, kecenderungan utama sebagai media elektronika, (saat itu) masih terbatas. Salah satu ciri media elektronika ialah kemampuannya menangkap dan mengutarkan kembali dalam persaingan aktualitas waktu.

Berbeda dengan media cetak, upacara sakti 17 Agustus misalnya, baru sehari atau seminggu atau sebulan sesudah acara tersebut berlangsung. Televisi dan radio, bisa pada saat yang bersamaan. Tak ada waktu wakaf, tak ada jeda. Keunggulan mendasar ini hanya terasakan saat-saat tertentu.

Selebihnya program yang tersaji tak bisa ‘live’. Selebihnya merupakan program kalengan, tidak segar lagi. Memang untuk jenis acara seperti drama atau musik atau anak-anak, atau film, atau kelaurga dan lain sejenisnya, lebih aman begitu.

Akan tetapi, dari sisi aktualitas, waktu dan aktualitas masalah, berita-berita tak bisa begitu lagi. Acara Siaran Berita Terakhir atau Pusat Perhatian di TVRI, misalnya, atau berita-berita selewat pukul 22.00 WIB di RRI, misalnya, sulit dibedakan dengan nama lain, dilihat dari kehangatan waktu dan masalah.

Ketimpangan ini sudah kita terima. Namun agaknya, satu terobosan jenial (waktu itu) akan terasakan dampaknya, jika faktor dan esensi media elektronika dimaksimalkan. Dengan demikian, yang (waktu itu) akan segera muncul adalah mekanisme dan sekaligus dinamisme. Mekanisme mengatur man-mana yang pokok dan perlu direkam, dan mana-mana yang bisa menangkap dinamika. Pada saat itu, perkembangan ke arah bobot, ke arah dimensi, lebih jelas dan terarah.

Bisa jadi (perkiraan waktu itu), (waktu itu) saat menggeluti kembali masalah yang hakiki, sebagai pendekatan untuk mengusut asal mula kekusutan yang nampak dan/atau terdengar dalam penyajian. TVRI, yang (waktu itu) hampir berulang tahun lagi, dan RRI menjadi wakil dari wajah pemerintah.

Segala keberhasilan dan kegagalan, rasanya terdeteksi dari sini, dimaui atau tidak. Karenanya, kedua media elektronik ini tidak sekadar gambaran bagaimana mengelola penyiaran, tetapi ada wajah pemerintah yang tertempel di situ. Apa boleh buat kalau itu yang terlihat.

Dan memang dari yang kelihatan itulah masyarakat memberikan penilaian. Seperti juga bahwa wajah seorang polisi lalu lintas dibebani dengan berbagai penilaian, karena ia berada di garis depan. Seperti juga perkeretaapian bukan sekadar masalah transportasi. Seperti kantor pos, kantor telepon, yang karena jangkauannya jauh merasuk melibat dalam kebutuhan dan kehidupan sehari-hari.

Dimensi ini tercangkul dengan sendirinya, tanpa memperhatikan atau tahu akar permasalahan. Bahwa siaran yang gagal atau berhasil memikat, tidak selalu berarti pemerintah sedang begitu, misalnya saja. Kadang bahkan hanya ditentukan satu kelompok saja, yang bisa mencakup seluruh penilaian.

TVRI dan RRI, dengan demikian menjadi bagian dari hubungan masyarakat, untuk menegakkan citra positif sehingga menimbulkan kepercayaan dan harapan, lewat program yang terarah. Beban itu memang terbagi kepada semua unsur di luar jaringan Departemen Penerangan, akan tetapi kayaknya mengumpul di situ.

Apakah tantangan ini bisa dibuah menjadi peluang, sangat tergantung sikap dasar, sangat tergantung mengenali hakikat media elektronika, sangat tergantung dalam membuahkan wajah yang berwibawa atau cuma berwicara.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer