ULASAN - SIARAN PASTI MEMBAIK, SELAMA PENGUMPULAN IURAN SIMPATIK

 









BAIK, BALIK, KRITIK. TVRI mungkin (waktu itu) sudah harus tahu posisi. Selama itu, harapan sumber pembiayaan dari iklan, pelan-pelan dilupakan. Pemasokan utama (waktu itu) masih bisa dari beberapa bentuk kerjasama, yang terbatas dan tertentu. Terobosan lain seperti yang dilakukan lewat acara “dunia bisnis” TVRI Programa 2, (waktu itu) tak akan leluasa.

Namun, untuk sementara dan “ongkos tranpsortasi”, rasa-rasanya tak perlu ditinggalkan dan atau ditanggalkan. Malahan bisa lebih dilengketkan dengan perusahaan nasional yang besar, apalagi yang setengah atau dua per tiga dikelola pemerintah – dan melayani kepentingan masyarakat umum. Satu-saunya, kandungan yang bisa dicadangkan untuk jangka panjang adalah iuran bulanan. Jumlah tiga ribu rupiah, relatif murah, untuk siaran selama satu bulan.

Cara-cara pihak pengelola mengingatkan peranan dan partisipasi “pembayar iuran televisi” melalui siaran langsung, apalagi pertandingan akbar, sangat simpatik. Sentuhan pada kesempatan lain, selain teks yang terpasang, juga lebih merangsang. 

Akan tetapi, semua yang dari segi ide baik, bisa berbalik hasilnya. Artinya, hasilnya tetap tak banyak berbeda.Terutama karena (waktu itu) masih ada kebiasaan enggan, atau menganggap tidak perlu benar. Berbeda dengan pelanggan telepon yang langsung bisa diputus, penunggak iuran televisi (iuran TVRI-red) bisa menunggak dengan enak.

Ada beberapa kemungkinan yang bisa dijalankan. Yaitu melibatkan, misalnya saja, pamong setempat. Seperti aparat di Tingkat Erte, atau bahkan misalnya saja lewat Karang Taruna. Mereka inilah yang bergerak, mengingatkan, menyetorkan dengan “sukarela”.

Kebetulan ada pengalaman pribadi di wilayah lingkungan penulis bacaan ini (Arswendo Atmowiloto) tinggal, di mana remaja (era itu) bisa mengurus masalah seperti ini, meskipun terbatas pada pembayaran rekening listrik. Remaja (era itu) ini hanya menyisihkan sedikit waktu, yang berlimpah dimiliki.

Remaja (era itu) ini, sebagian mungkin putus sekolah, sebagian menunggu bekerja, sebagian memiliki keinginan cara mengekspresikan diri. Mau gabungan dari itu, yang justru tidak dimiliki wajib bayar. Yang sebenarnya rela, mau, selama tidak merepotkan.

Titik pertemuan kepentingan ini (waktu itu) akan bermuara pada pengumpulan dana siaran yang tak sedikit jumlahnya. Kalau intensif, bisa mencapai angka 10 juta kali 3.000 rupiah atau 30 milyar sebulan. Skeurangnya bisa menjadi sasaran dalam dua tahun pertama. 80% dari itu, bersih, cukup bagus untuk pola operasional seluruh stasiun yang ada.

Kesemua proses tadi, menjadi bagian yang (waktu itu) akan berjalan enak dengan sendirinya. Bukan hanya antara pembayar iuran dengan penerima, tetapi tentu juga bagian-bagian yang terkait di dalam lembaga negara. Berapa mengalir ke mana dan bagaimana prosedurnya.

Dalam hal pengelolaan iuran televisi, seperti juga di BBC Inggris, masalah utamanya bukan bagaimana menarik iuran, tapi bagaimana mengelola dana – yang diatur oleh “pusat”. Akan tetapi sebelum sampai ke situ, dari tangan pertama masyarakat, bisa merasakan secara jelas. Ini berarti TVRI harus lebih terbuka, dan salah satu sifat keterbukaan adalah menghadapi kritik, bukan menghindari.

Barangkali pertanyaan sepele kenapa film seri The Bold and The Beautiful tahu-tahu tersisih, atau yang lebih mendasar seperti: kapan “film cerita lepas anak-anak” – ataukah harus menunggu setiap akhir bulan Juli yang cuma setahun sekali? Atau bahkan sepekan sinetron anak-anak. Rangkaian dari pertanyaan itu bisa beraneka ragam. Mau atau tidak, TVRI harus melayani, dengan menjawab dalam bentuk konkret, dan bukan mengelak.

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer