ULASAN - PERFECT STRANGERS (TVRI): "KEMAMPUAN PANITIA PENYUSUN GERR"
HANGAT, SENGAT. Di republik yang memanjakan humor dan komedi
ini, sistem melawak ternyata tak beranjak. Sejak lawak modern dalam Dagelan
Mataram dengan jawara kesohor Basiyo, hingga ke Srimulat, dan melebar ke
tradisi Warkop, “kesalahannya” sama, tak tahan lama.
Bahkan beberapa grup lain yang mencuat, segera “tewas” oleh satu atau dua judul kaset, atau film, atau dua-duanya. Dibandingkan komedi di negeri barat, kelemahan yang terutama adalah menyiapkan materi. Pemunculan Lembaga Humor sesaat (yang waktu itu telah) lalu, mencuatkan masalah ini. Bahwa pelawak yang paling kampiun skealipun, perlu penulis naskah humor, perlu sekian banyak ‘gag writer’.
Sehingga tak ada pengulangan yang menjadi haram untuk dunia lawak, dan yang penting, bisa masuk ke berbagai suasana. Suasana menghibur karyawan, suasana klab malam, suasana kaset, dan/atau film. Perfect Strangers (di Indonesia diputar TVRI-red) bisa dijadikan contoh.
Latar belakang kisahnya pertemuan dua saudara jauh. Balki, penggembala domba dari Mypo, suatu daerah di wilayah Mediteranian, berkamar dengan Larry, yang bercita-cita menjadi wartawan foto, tapi terpaksa bekerja sebagai pelayan toko.
Pengembangan logat dan gaya Balki, sampai dengan pribadinya yang menggambarkan ketololan – tapi dari sikap yang jujur, polos! – diramu dari berbagai kepala.
Untuk pertama kalinya pula pada produksi ini, ada produser, ada tiga pelaksana produser, dua ahli yang menjadi konsultan humor, dan dua tokoh lain. Itu pendamping tetap setiap produksinya. Toh begitu, mereka masih ragu, apakah bisa masuk pasar televisi? Sehingga stasiun penyiaran ABC, tak berani menjajal bulan September 1986, saat ‘preview’ rame-rame, tapi sebelumnya karena takut saingan.
Saat itu sudah ada Who’s The Boss dan Moonlighting (keduanya kemudian diputar di Indonesia oleh RCTI/SCTV-red) yang sukses. Di sini, sekali lagi, kejelian “panitia” untuk mengatur jam siaran, menentukan hari siar, sambil membnetuk tokoh Balki. Bronson Pichot yang mahir menirukan suara dan aksen bangsa lain, diminta hanya satu aksen saja, yang ai ciptakan sendiri. “Bronson sendiri suatu pribadi, tak usah meniru yang lain.”
Penonton yang kemudian merasakan. Ini komedi yang hangat, yang juga menyekat mengneai persahabatan, persaudaraan, yang mengisi pasar karena belum dijamah oleh Cosby. Ada baiknya grup lawak di negeri ini melihat dan menjajal kemungkinan ini.
Kecuali kalau lebih suka jadi mercon, meledak sesaat dan dilupakan. “’Don’t be ridiculous’,” yang mestinya ‘ridiculous’, memang diucapkan dan jadi ciri khasnya Balki Bartokomous, tetapi ada panitia yang menyiapkan itu. Ada otak yang bekerja, sebelum mulut terbuka.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar