ULASAN: MELARANG ITU GAMPANG. MENINDAK ITU LAYAK. MENGGUSUR ITU MANJUR
CENGENG, CENGANG. Larangan penayangan lagu-lagu cengeng di layar televisi (TVRI-red) yang diserukan Menpen Harmoko, bisa membawa ingatan 25 tahun sebelumnya (1963-red). Saat itu, lagu-lagu Beatles terkena larangan yang sama, bahkan pengikutnya, atau dianggap demikian, juga terkena sanksi. “Semangat pembangunan” yang digelorakan juga sama, walau kata-kata pilihan saat itu ditambahi “lagu-lagu ngak-ngik-ngok”. Tak perlu tercengang.
Kata orang, sejarah memang bisa berulang. Dalam menghadapi budaya massa, kita memang masih biasa kagetan. Lagu Hati yang Luka (karya Obbie Messakh yang dipopulerkan Betharia Sonatha-red), yang secara tidak langsung dituding penyebar virus kecengengan, jadi masalah karena ia meledak.
Karena laku, karena banyak yang mau. Seperti juga produk lain ketika komik merajalela, ketika novel pop yang diprakarsai motinggo Boesye, ketika film model Akibat Pergaulan Bebas, ketika tari jaipong merobek pergaulan, ketika produk yang dikonsumir masyarakat kelas menengah menemukan bentuknya.
Karena yang sebenarnya terjadi ialah bahwa dalam struktur masyarakat kita, 1988 ini, kelas menengah makin bertambah jumlahnya. Makin banyak anggota masyarakat yang mampu membeli kaset, buku, nonton film, kaset video, dan mendendangkan atau membiarakan. Mereka ini bukan hanya bertempat tinggal di kota, tetapi juga di kantung-kantung pedesaan.
Yang sebenarnya kesemuanya juga buah dari pembangunan dalam skala besar, yang didukung oleh makin melebarnya jangkauan media massa. Jadilah kita kikuk. Karena suasana semacam itu tak ada sebelumnya. Tak begitu dominan selera dan pilihan masyarakat kelas menengah yang selama itu nebeng selera dan pilihan kelas di atasnya atau di bawahnya. Kegelisahan selalu mencemaskan, bila mana keinginannya adalah rasa aman.
Satu-satunya jalan yang singkat dan cespleng ialah melarang. Lagu cengeng, ‘video game’, buku novel, film, komik, ditertibkan. Seperti juga pasar yang terjadi dengan sendirinya karena kebutuhan belanja masyarakat sekitarnya tiba-tiba tergusur karena mengganggu jalan dan tidak sesuai dengan ‘masterplan’. Seperti juga menindak pelajar yang masa jam sekolah berkeliaran di pertokoan.
Baik-baik saja. Boleh-boleh saja. Terima jadi sajalah. Karena kita dengan mudah akan menyetujui suatu niatan baik, yang ditujukan kepada kepentingan bersama.
Tapi, ada tapinya. Yaitu, yang dinamai dinamika. Yaitu pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat menengah untuk memanjakan dan menjawab tuntutan budaya. Ini yang akan selalu mencari-cari, menemukan sendiri, dengan luwes. Bentuk budaya mana yang sesuai, itu yang kemudian jadi hidup, berkembang. Tnapa bisa direm, dipaksa membelok atau berubah haluan. Tapi, ada tapinya.
Bentuk budaya ini akan terjaga, akan selaras dengan keseimbangan pembangunan, misalnya ada istilah begitu, kalau memang alternatifnya ada, kalau memang pilihan itu menjawab ekspresi budaya mereka. Kalau lagu yang tidak cengeng tidak berbunyi, tidak masuk ke dalam idiom budaya masyarakat yang tengah bangkit ini, ya berhenti pada rumusan belaka.
Memberikan munculnya suasana, dinamika, alternatif tidak gampang. Karena di sini, selain mekanisme, diperlukan sistematika yang menuntut persyaratan beda dengan larangan.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar