ULASAN: LAKI-LAKI DAN JURAGAN SULAIMAN BISA DISEWA. SEBENARNYA SUDAH LAMA JUGA

 
PASAR, PANEN, PAS. Siaran televisi itu promosi, pamer. Apa saja bisa menjadi tenar karena disiarkan. Seorang ahli kecantikan yang membicarkaan jerawat, bisa membangun citra dari suatu siaran. Dan ini sah, pas, baik, dan benar. Maka, sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika drama TVRI seperti Laki-Laki, Juragan Sulaiman, Derai-Derai Cemara, Mahkamah, serta sejumlah judul lain bisa direkam, diulang, dan disewakan.

Demikian juga sejumlah lagu pop yang biasa muncul di Aneka Ria Safari, Selekta Pop, yang bisa mencapai 12 volume. Ini sekaligus menandai bahwa siaran TVRI (sampai saat itu) masih selalu ada penggemarnya yang rela mengeluarkan uang untuk bisa menikmati, yang sebenarnya bisa gratis.

Pasar telah bisa diraih dengan siaran di televisi, apalagi kalau bisa berulang. Bahkan Losmen menjadi Pondokan Bu Broto juga menunjukkan bahwa panen bisa terjadi kalau mampu memanfaatkan kesempatan. Sementara Tino Sidin, kak Alex, Pranajaya – untuk menyebutkan beberapa nama saja, bisa laris dan “buka warung”.

Ini artinya ada dinamika bisnis yang serta-merta menyertai, mengogda, dan membelai. Ditutupi atau ditahan-tahan, akhirnya toh akan menyerobot keluar juga. Karena ada pasar yang sudah disiapkan – langsung atau tidak, ada kebutuhan.

Ini artinya sehat. Dibandingkan penyewa kaset video hanya berurusan dengan produk dari luar. Ini artinya, sebuah masalah bagi TVRI. Bagaimana sebisa mungkin menjabarkan dinamika ini dari satu garis komando. Semacam tata krama, bagaimana membagi hasil panen. Satu hal yang jelas, tata krama ini mengurangi kemugnkinan adanya usaha dalam ‘perusahaan”, hal lain adanya konsentrasi pengaturan dana dan hal lain lagi, lebih terbuka.

Sebab kemudian, ada yang bisa memanfaatkan untuk “jual beli”, ada bagian yang hanya bisa “dengar lihat”. Perbedaan bagian ini kalau dibiarkan akan merongrong di dalam, yang pada gilirannya memberi kesempatan pencatat tamu atau satpam ikutan “berkarya” secara langsung.

Memang ini rada melelahkan, dan menyinggung rasa dan hati-hati untuk merumuskannya. Tetapi, selalu lebih baik daripada dibiarkan mengganjal, dan atau diselesaikan dengan tidak dibicarakan. Memang ini rada meletihkan, karena secara langsung tidak berkaitan dengan penonton. Tetapi, wibawa dan kepercayaan bisa dibangun dari sisi ini. Hanya yang menanam berhak untuk panen, kata peribahasa. Makanya jangan sampai yang lain menanam, lain pula yang memanen.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer