ULASAN - BAGAIMANA KALAU ACI (TVRI) DIPUSOKAN SAJA?
OSHIN, OGAH. TVRI berbaik hati mengembalikan bekas serdadu
yang dijuluki The A Team, juga menyambung semangat penderitaan Oshin. Daftar
kebaikannya juga masih terasakan dengan menyiarkan seri Kisah Serumpun Bambu di
hari Minggu siang.
Memang mengakomodasi keluwesan yang menyenangkan. Tetapi, juga membuat capek secara budaya kalau berusaha menyenangkan setiap orang. Kisah, bukan sajian yang buruk. Akan tetapi memperlihatkan kemiskinan gagasan dan penyajian. Seri ini melibatkan sedikitnya dua departemen dalam produksi, selain organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). “Tiga restu” yang bisa menjadi pertanda bahwa TVRI seperti tampungan untuk setiap kepentingan.
Hal yang serupa terjadi dengan ACI (Aku Cinta Indonesia), yang menjadi ACI-PSPB, dan mungkin juga (perkiraan saat itu) berlanjut ACI yang lainnya. Kalau taruhannya adalah “proyek kerjasama” yang tak bisa diubah lagi, apa boleh buat. Akan tetapi, jika taruhannya sasaran penonton untuk menerima informasi kultural, informasi pendidikan, rasa-rasanya ACI bisa saja dihentikan penyiarannya. Atau sekurangnya, harus dipilih betul yang layak siar. Bukan karena apa.
Dari sisi TVRI, yang diperoleh hanya nggak enaknya saja. Keluhan atau juga tambahan kerja, itu biasa. Akan tetapi kerugian budaya yang karena disiarkan, tak bisa dihitung, kalau bisa diganti dengan acara lain. Yang rasa-rasanya (waktu itu) sudah mulai tampak hasilnya. Apakah proyek ACI dipusokan saja? Entahlah. Penyaluran untuk penyiaran cara lain, bukannya tidak mungkin.
Yang menjadi penting di sini, baik keluar maupun ke dalam, TVRI memperlihat sikap. Bahwa segala jenis proyek kerjasama, yang untuk itu pun masih bisa ditelusuri sejauh mana, tetaplah harus bisa memenangkan penonton. Termasuk penyajiannya, karena maksud baik rasanya dimiliki semuanya. Kalau dikaitkan dengan contoh film impor, tidak selalu harus begitu. Karena nyatanya Baruna, kita lebih kurang suka atau melemparkan kritik, bisa pula hadir.
Dan mendapat penilaian yang sama. Kalau ini berhasil ditegakkan, beberapa “proyek kerjasama” bisa diluruskan, bahwa bukan proyek itu yang harus dijalankan, tetapi prioritas utama adalah produk. Karenanya, ketegasan kriteria unsur-unsur yang dinilai juga harus jelas. Kalau ACI yang 1988 ini menjadi contoh, karena selama itu kurang dari 5 episode yang lumayan. Atau jangan-jangan nggak ada yang memperhatikan lagi?
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar