TOTOK TOWEL: "MENYESAL KAWIN"
TUR SHOW ’89. Immanuel Herry Hertoto alias Totok Towel, (saat itu) 31 tahun ,salha satu gitaris tangguh kita saat itu (1989-red), merasa menyesal pernah kawin. “Saya jadi lebih hati-hati. Bukannya karena akhirnya perkawinan saya gagal, terus saya jadi takut. Tapi untuk memulai lagi, banyak pertimbangan.”
Kata Totok, yang (saat itu) punya satu putri ini, kawin muda memang banyak risikonya. “Tapi satu ketika saya pasti ketemu yang paling pas. Saat ini (1989-red), biarlah saya pacaran sama gitar.” Ia juga cerita kebandelannya di hal. 8 (Monitor No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989).
TOTOK TAK TAHU TANGGAL LAHIR ANAKNYA
MALU, LUCU. Pada dasarnya, Totok kelahiran 1 Januari 1958
adalah pemalu. Tapi, jika gitar sudah disandang, lampu sudah menyala di pentas
dan ‘sound system’ sudah ngang-nging-ngung, semua itu hilang. Dia berbalik
menjadi pemberani. Bisa atraksi lari-larian di pentas sambil mengalunkan bunyi
petikan gitarnya. “Sejak kecil saya sudah suka main musik. Ayah dan abang-abang
asya juga suka. Bahkan ayah selalu menyuruh saya menyukainya.”
Pada saat duduk di kelas 5 SD, Totok yang dulunya bercita-cita jadi tentara, sudah memeluk bass, main di band gereja. “Teman main saya sudah tua-tua, teman-teman abang saya.” Betapa lucunya Totok yang berbadan kecil memeluk badan bass. “Saya senang diajak main, tapi kemudian perhatian saya beralih ke gitar. Makanya, sejak punya band di SMP, saya berganti mainan.”
Menurutnya, untuk main gitar dia sempat kursus sebentar. Tapi yang lebih banyak dijadikannya tempat belajar adalah kaset dan video. “Saya melihat siapa saja yang main gitar. Mendnegar rkemaan mereka dan mencoba mengadaptasinya.”
Totok yang menghabiskan masa kecilnya di Malang mengaku sebagai anak bandel. “Biasalah, karena lingkungan. Pokoknya kebandelannya pun sudah bisa dibayangkanlah.” Tapi, justru kebandelan inilah yang memaksanya harus menikah. “Ini pernikahan lucu. Pokoknya waktu itu saya nggak mau, tapi harus. Akhirnya kami berikrar, kalau anak sudah lahir, kami pisah lagi.”
Ada rasa tak tega setelah Ruth, putrinya lahir. Tapi, Totok harus konsekuen. “Agar saya tega, ada saja cara yang aneh-aneh. Ah, bialrah… Masa lalu kadang-kadang memang harus begitu.” Anaknya kemudian dibesarkan kedua orangtuanya. Dan Totok tak menyalahkan anak itu memanggilnya bukan dengan sebutan appa, tapi memanggil nama.” Justru dia memanggil ayah saya papa.”
Totok memang lebih banyak tinggal di Jakarta. Meski di kotanya dia sempat bergabung dengan Ogle Eyes dan Q Red, tapi baginya Jakarta adalah kota yang memungkinkan mengubah nasibnya sebagai gitaris. Di Jawa Timur pula dia sempat menyabet gelar gitaris terbaik tiga tahun berturut-turut dalam festival rock Tingkat nasional versi Log Zhelebour, promotor musik rock asal Surabaya itu.
Lantas nama Totok pun terpancang bagus di sana. Dia pula yang menjadi pasangan akrab almarhum Mickey Jaguar bila sedang mentas. “Saya tidak banyak tahu kemampuan saya sendiri. Tapi yang jelas, banyak pengaruh dari Richie Blackmore dan Ingwie Malmsteen,” komentarnya.
MAMPIR, MASUK. Ketika Elpamas berulang kali ganti formasi, Totok pun mampir di sana. Lantas, kesatuan grup ini yang terakhir (kala itu) adalah Eddy Daromi, keyboard, Totok, gitar, Didiek Sucahyo, bass, Rush Tatto, drum, dan Baruna, vokalis.
Kelompok terakhir inilah yang semkain melambungkan nama. Sejak mereka menjadi pendamping God Bless tur Sumatera dan Sulaewsi, kemapanan makin teraih. “Kami semakin menyadari kestauan ini sangat ideal.” Lantas melangkah lagi masuk dapur rekaman, menurut Totok adalah hal baru. “Kami ini seperti anak jalanan yang masuk dapur rekaman. Kaget dan harus banyak belajar.”
Tapi, mereka sendiri menggariskan cara baru, harus mampu rekaman ‘live’. Maksudnya, semua musik masuk sekaligus. Ini berbeda dengan rekaman yang biasanya, saling tumpang tindih. “Jadi, kalau ada yang salah berarti semua harus ulang dari awal.”
Di bawah bendera Logiss, mereka telorkan album Dinding-Diding Kota. “Tapi yang bakal kami tampilkan di ARN (Aneka Ria Nusantara, diputar TVRI Programa 1-red) adalah Untukmu Generasiku,” kata Totok. “Bagi saya pribadi, dapur rekaman bukan hal aneh. Bebeapa kali saya juga ikutan membantu teman musisi macam Areng Widodo. Tapi secara grup, ini langkah awal.”
Lepas dari apa yang diungkapnya, Totok memang kelihatan berambisi untuk maju. Ini cita-cita dia sejak dulu (jauh sebelum 1989-red). “Ayah saya dari dulu (jauh sebelum 1989-red), bangga kalau melihat saya main band. Bahkan sayaa disuruh gondrong, karena menurutnya, epmain gitar itu pantasnya berambut panjang.”
Dalam kesendiriannya, Totok (waktu itu) bisa merenung. Mumpung (saat itu) belum begitu besar, katanya dia harus beprikir tentang anaknya. “Bayangkan, tanggal lahirnya saja saya bisa lupa.” Lantas, dia juga mencoba mencipta lagu. Untuk album ini dia bikin 2 judul. Sebagai gitaris, Totok merasa harus mencintai gitarnya satu-satunya. “Ini murahan, mas. Mau beli yang mahal nggak punya duit. Ya, ini saja.”
Sampai saat itu, lelaki bertinggi-berat (waktu itu) 165-47 dan mengagumi tokoh Snoopy ini paling tidak bisa mencari jalan keluar agar berhenti merokok. “Apalagi saya paling suka baca komik, ya, rokok pas-pis-pus terus.”
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Alamat Totok Towel Elpamas (waktu itu):
PO Box 4238
Jakarta
Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar