THOMAS HEARNS TAK HANYA MEMBENCI LEONARD, TAPI JUGA AYAHNYA (SIARAN LANGSUNG, TVRI PROGRAMA 1 - SELASA, 13 JUNI 1989 Pkl: 08.00-11.00 WIB)
PERTARUNGAN melawan Leonard, 12 Juni 1989 di Caesar Palace,
Las Vegas, Amerika Serikat, bagi Thomas Hearns merupakan pertarungan
hidup-mati. Kalau kalah, habis sudah riwayatnya sebagai petinju yang pernah
disebut “raja” kelas menengah.
Balas dendam itulah istilah yang tepat bagi Hearns untuk menyebut pertandingan kali ini. Tanggal 16 September 1981, yang disebut-sebut sebagai pertarungan klasik, Hearns semula mengumpulkan angka lebih banyak, ia hanya butuh 1 ronde lagi untuk muncul sebagai pemenang.
Tapi apa lacur, justru pada detik-detik ronde ke-14 berakhir, dia lengah, sebuah ‘hook’ kanan Leonard yang keras membuat Hearns sempoyongan dan mencium kanvas. Wasit menghentikan pertarungan itu dengan kemenangan KO untuk Leonard. Padahal, Hearns bersikeras untuk melanjutkan pertarungan. Rupanya, wasit tetap dengan keputusannya. Itulah sebabnya, Thomas Hearns begitu dendam pada Leonard.
Empat bulan ia mempersiapkan diri di markasnya di Detroit. Sayangnya ia punya kelemahan mencolok, mentalnya tak setegar lawannya. Padahal banyak keunggulan yang dia punya, ‘jab’-nya bagus, pukulan kanannya sangat keras, pertahanan dan keseimbangan badannya juga bagus.
Kalau Hearns terlalu bernafsu untuk menghabisi Leonard, dikhawatirkan akan jadi bumerang dan itu merupakan makanan empuk bagi Leonard yang memang pandai memancing lawan agar emosi, sehingga terjebak masuk ke ruang pukulnya.
Kayaknya, Hearns sadar akan hal itu. Kekalahan pahit di tahun 1981 itu dipakainya sebagai pengalaman yang berharga. Tapi banyak pengamat meragukan kemampuan Thomas Hearns, lantaran penampilannya terakhir (kala itu) mengecewakan. Kekalahan atas Iran Barkley, Juni tahun 1988 lalu, sedikit menurunkan pamornya.
Sedang kemenangannya ketika menghadapi James Kinchen, November 1988 lalu, dianggap sebagai partai yang tidak bermutu dan dinilai kontroversial. Bertarung dalam 12 ronde, Hearns dibikin gontai di ronde ketiga, bahkan sempat jatuh di ronde keempat, pada ronde ke-11 dihajar habis, dan ronde terakhir sempat gontai lagi. Tapi juri tetap memberi kemenangan bagi Hearns.
Komentar Leonard: “Hearns lebih memikirkan saya ketimbang lawannya.” Ada betulnya, Hearns memang belum puas sebelum tanding ulang dengan Leonard. Maka, di setiap penampilan, kayaknya Hearns tak begitu semangat.
Thomas Hearns yang lahir di Memphis, 18 Oktober 1958, ini terbiasa susah sejak kanak-kanak. Dia begitu benci kepada ayahnya, yang tega meninggalkan ibu dan keluarganya. Dia anak ketiga dari sembilan bersaudara, ibunya harus bekerja keras, membanting tulang untuk menghidupi keluarganya sebagai pelayan toko.
Hearns bertekad untuk mengubah hidup kelaurganya, mulai belajar tinju. Ia melihat dunia tinju merupakan jalan yang tepat untuk menggapai cita-citanya. Dunia tinju amatir dia temui ketika menginjak umur 17. Setelah merasa cukup, ia berlaih ke profeisonal yang akhirnya mampu mendudukkannya di deretan elit petinju-petinju tangguh dunia. Dan dialah petinju pertama yang mampu merebut empat gelar di kelas yang berbeda.
Cita-citanya untuk mengangkat keluarganya dari kemiskinan memang (saa titu) sudah kesampaian. (Saat itu) tinggal harapan yang lain: mengalahkan Sugar Ray leonard. Tercapaikah keinginannya itu? (Ajakan pihak Monitor saat itu) mari kita tunggu.
Ditulis oleh: Idi Pranoto
Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar