THENZARA ZAIDT: "PROGRAM CERIWIS" (KELUARGA RAKHMAT, TVRI PROGRAMA 1 - RABU, 7 JUNI 1989 Pkl: 20.05 WIB)

 
THENZARA Zaidt, (waktu itu) 48 tahun, belakangan itu (1989-red) dikenal sebagai bu Subangun. Itu perannya dalam drama seri Keluarga Rakhmat (TVRI Programa 1). “Saya tidak keberatan dipanggil bu Bangun.”

Tapi, ia membantah bila ada yang bilang bu Subangun seperti orang gila. “Setiap orang memiliki kegilaan semacam itu. Saya bila sudah memasuki peranan bu Bangun, seperti terprogram sendiri.” (Program kesabaran di hlm. 9 Monitor No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989)/

BAGI PEMERAN BU SUBANGUN, KETIDAKSABARAN BISA JADI SEBAB PERCERAIAN  

ANAK. Kasih sayangnya hanya dicurahkan pada anaknya, Letitcia 

SABAR, BUBAR. Thenzara Zaidt dilahirkan dari pasangan L. Zaidt dan Jumainah, di Padang, 20 Juli 1941, tapi dibesarkan di Medan. “Hidup itu seperti ikut gelombang laut. Kita tidak bisa menentukan terdampar di mana.”

Setelah umur 7 tahun, ia masuk sekolah ULO (Uitgebreid Lager Onderwys). Sekolah dasar (SD) di Medan. Ia termasuk gadis lincah dan terkenal galak di antara kawan-kawan sekolahnya. “Saya tidak senang dipermainkan.” Ia pernah digoda anak-anak Belanda. Tak peduli musuhnya besar atau kecil, ia berani menonjok lawannya.

Ia diajari hidup disiplin dan berani melawan keswenang-wenangan. Sejak kecil, ia menjalani hidup rutin. “Setelah pulang dari sekolah, saya membantu orangtua di dapur.” Malamnya, bersama-sama grup Lelios, ia mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan gurunya. “Saya merasa senang dengan lingkungan itu.”

Tapi, ketika ada peristiwa Irian Jaya, tahun 1957, sekolah ULO dibubarkan. Ia sedih dan menangis, karena kehilangan kawan sekolahnya. Akhirnya, ia disarankan belajar sendiri oleh orangtua. Ia tidak mau. Maka, ia pun masuk SMP Buana, terus ke SMA Kenangan di Medan. Pada tahun 1960, ia ikut kakaknya ke Jakarta. “Saya sangat terpesona dengan ibukota ini.”

Ia sangat senang sekali, ketika diajak kakaknya mengunjungi Museum Gajahmada, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan kebun binatang. Lantas, ia pun hanyut di Jakarta. Kecantol lelaki? Itu rahasia perusahaan.”

Yang jelas, ia melangsungkan perkawinan dengan Nurdin, pada 1963. Perkawinan itu dibangun dengan harmonis, sehingga melahirkan dua anak: Letticia Alfridea Nurdin dan Muhammad Alfredo Nurdin. Perkawinan yang (sampai saat itu) sudah terbina 19 tahun (1970 hingga 1989-red) itu, akhirnya berantakan di tengah jalan.

Karena masakannya tak enak? “Kalau soal masak-memasak, sayalah jagonya. Suami saya, sangat senang dengan masakan saya.” Jadi sebabnya? “Di dalam rumah tangga saya, ada sebab. Sebab, itulah yang menjadi akibat perceraian.”

Memang, ia tidak mau menjelaskan “sebab” itu. “Saya tidak enak pada anak-anak menjelaskan sebab-sebab perceraian itu. Tapi, saya tidak menyesal memutuskan perceraian ini. Sebab, sebelum saya putuskan cerai, sudah saya renungkan 40 hari.” Ia tidak menyalahkan suami ataupun dirinya. Tidak sepenuhnya keduanya salah. “Tapi yang jelas, saya kurang sabar menghadapi sebab itu.”

Ia mengaku, ia selalu kurang sabar bila menghadapi suatu masalah. Toh, dari perceraian itu, ia bisa banyak mengambil hikmahnya. Bagi pengagum Nani Wijaya dan pernah bercita-cita jadi dokter ini. Janda atau tidak, tidak ada perbedaannya. “Memfungsikan bapak dan ibu, ternyata tidak begitu sulit.” Masalah keuangan? “Bekas suami saya masih bertanggung jawab dengan kehidupan anaknya.”

Bagaimana rasanya pisah sebegitu lama? “Saya tidak mau menjawab masalah itu. Saya tidak kesepian kok. Saya punya anak-anak yang menghibur.” Tapi, kalau anaknya sudah kawin? “ya, dengan cucu. Pokoknya saya tidak takut kesepian.” Kalau bekas suami mengajak balik lagi? “Tidak mungkin itu! Sebab, bekas suami saya sudah membentuk rumah tangga.”

Jika dilamar orang lain? “Saya nggak bisa menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu hanya tinggal pertanyaan, sebab bukan sebuah kenyataan.”

Dalam mengarungi hidup, ia lebih banyak pasrah pada kehendak Tuhan. Rumusan itu didasarkan pengalamannya, yang sering menjadikan jalan pikirannya pada orang lain. “Saya sekarang (1989-red) ingin mencoba menerima pikiran orang lain,” jelas janda yang menguasai bahasa Inggris, Perancis, dan Belanda ini (waktu itu).

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

Alamat Thenzara Zaidt (waktu itu):

Jln. Dahlia G. 15

Cijantung 11

Jakarta Timur

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer