TETANGGA-TETANGGA, KENAPA TERBURU-BURU? (TVRI - RABU, 29 JUNI 1988 Pkl: 22.30 WIB)
PENGARAH acara Yossie Enes, ketika membesut Yang Teguh (M. 76) mengundang kecaman. Bahkan, polemik di media masssa yang melibatkan para pengamat dengan “orang dalam” televisi sendiri. Baik tentang penggarapan atau adanya sponsor yang mencolok mata pemirsa.
Baiklah, masalah itu tidak perlu diungkit lagi. Namun,
mestinya ada hikmahnya, kritikan yang sudah tersebar luas itu dapat membuat
Yossie mawas diri. Dalam arti, Yossie tidak surut karenanya, tapi bisa lebih
menggertak dengan karya-karya berikutnya.
Bagaimana dengan Tetangga-Tetangga (TT) atau judul lain,
La-La-La? Harus diakui, Yossie (waktu itu) belumlah “bangkit” dari “tidurnya”.
Dalam naskah yang ditulis Puntung CM Pudjadi, pengarang asal Yogyakarta,
sepertinya Yossie sekadar mengemas. Sekadar bertanggung jawab sebagai PD.
Padahal, kalau lebih ngoyo, boleh jadi TT menjadi tontonan segar. Materi kisahnya (juga materi pemainnya) memungkinkan untuk itu. Potret kehidupan orang-orang kampung di kota besar, masalah yang memang aktual, diangkat ke permukaan.
TT adalah komedi situasi. Dengan materi pemain yang sudah banyak pengalaman berpentas, sayang, akhirnya TT tampil tanpa letupan. Suasana komedi tidak tertangkap dalam kamera. Segalanya serba serius. Serba ngotot dan – maaf – serba kaku. Sehingga terasa akting yang diperlihatkan jadi artifisial. Tokoh pak Wijaya (sneiman keroncong), Heru (mahasiswa), pak Joni (dramawan), dan sederet tokoh lain, tak ubahnya tokoh yang saling tempel-menempel.
Sekaligus tidak jelas figur-figurnya. Lalu, masalah yang pokok tentang kepadatan penduduk – mendadak pupus begitu saja. Mungkin ini menyangkut soal penafsiran sang pengarah acara. Tetapi bagaimanapun, peran para pendukung sinetron ini tak bisa diabaikan. Mereka keasyikan bermain. Lantas lupa batas: mana ruang dalam pentas dan mana sebenarnya ruang di layar gelas.
Atau seperti yang dituturkan Bambang BS sebagai pengatur laku, bahwa latihan yang terlalu singkat (demikian waktu syutingnya), menjadikan semua serba terburu-buru. Itulah TT, tak ubahnya fragmen-fragmen yang sering ditampilkan di layar televisi (TVRI-red). Hanya saja bedanya: fragmen TT ini tema cerita yang disodorkan terasa ada isi.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
TETANGGA-TETANGGA
SUSUNAN PEMERAN
Sigit Hardadi – pak Aryo (pensiunan)
Purwaniatun – bu Aryo
Budi Adie – Heru
Indah Suprapto – Ratri
Frans Joseph Ginting – pak Wijaya
Diana G. Santoso – bu Wijaya
Arthur Tobing – pak Joni
Rahman Dolob – pak Mur
Pengatur laku: Bambang B.S.
Pengarah acara: Yossie Enes
Dimainkan oleh: Teater Luwes
Pimpinan: Arthur Tobing
Koordinator: Rudi Witanto
Dok. Monitor – No. 87/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar