TEATER STEMKA DAN CHAIRIL ANWAR PUNYA DARAH, TVRI YOGYA PUNYA SIKAP OGAH (LEMBAR SASTRA BUDAYA, TVRI YOGYA - KAMIS, 21 APRIL 1988 Pkl: 17.55 WIB)
BULAN Oktober dan April aadalah bulannya bahasa/sastra. Yang
satu lantaran kesepakatan Sumpah Pemuda, yang salah satu butirnya menegaskan
bersatu lewat bahasa. Satunya lagi, justru kraena kematian penyair besar
Chairil Anwar. Jadinya, di bulan keempat, selain ada Kartinian, juga ada
Chairilan.
Tetapi, memepringati kebesaran dan ketegaran Chairil Anwar tidak harus dengan berbusana dekil macam sang tokoh ini untuk menganalogikan peringatan Hari Kartini yang lantas pada bersanggul dan kebaya. Umumnya, ber-Chairil-an dicetuskan dengan pembacaan puisi, terutama karya-karyanya.
Yang tidak umum, mengemas puisi-puisi Chairil Anwar dalam satu paket yang berlatar kehidupan tokohnya, dan digarap dengan apik. Yang tidak umum inilah yang digelar Teater Stemka dalam Lembar Sastra Budaya. Setidaknya, Landung Rusyanto Simatupang, penyusun adegan sekaligus sutradara dan deklamator, tidak sekadar berba-bi-bu baca puisi.
Ada siratan warna lain. Ada informasi tentang apa, siapa, dan bagaimana Chairil – yang kesemuanya dihadirkan dalam dramatisasi yang meyakinkan. Landung memberi label Lembar-Lembar Chairil Anwar (LLCA) – melibatkan sekitar 30 orang esesbagai pemusik, ‘background’ vokal, koor puisi, narator, maupun deklamator/tris. “Aslinya, garapan ini makan waktu dua jam.
Tapi, karena TVRI punya keterbatasan, akhirnya diciutkan jadi 25 menit,” kata Landung sambil menjelaskan bahwa karya yang sama pernah dipanggungkan di Karta Pustaka, tiga tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1985-red). Seperti diakui, juga dirasakan Hasmi yang memerankan Nasjah Djamin, “Banyak kemungkinan dramatik yang hilang.” Hamsi bilang, “Rasanya memang tidak ‘nges’ lagi.”
LIKA-LIKU. Landung menganggap hal begituan sebagai
konsekuensi logis nongol di layar kaca. Namun, bukannya dia tak berupaya agar
penyajiannya lebih pas – paling tidak pas dengan hari dan tanggal peristiwa
sesungguhnya.
Dalam narasi yang dikutip dari Hari-Hari Akhir Si Penyair karya Najsah Djamin, disebutkan Chairil meninggal hari Kamis, 28 April 1949. Landung punya keinginan menyajikan LLCA secara bersambung, Kamis, 20 April 1988 memapar cerita bagian awal, Kamis berikutnya cerita menit-menit terakhir si “binatang jalang”.
Dengan begitu, kecuali hasrat berdramatisasi bisa ‘keturutan’. “Khan hari dan tanggalnya persis aslinya.” Boleh juga dia punya mau, meski akhirnya TVRI punya ogah. Dalam hal ogah, pihak penyelenggara siaran juga kurang berkenan dengan sejumlah kata dalam puisi dan narasi. Artinya, ada yang diseyogyakan untukt idak diucapkan – untuk tidak menyebut disensor.
Petikan narasi yang disensor, yaitu penjelasan faktual tentang ganasnya penyakit yang menggerogoti sang penyair: …”Chairil buang-buang air besar”; dan …”kotorannya bercampur darah”. Sedangkan kata yang digunting dalam baris-puisi: “Coca-Cola” dalam puisi Tuti Artic. Barangkali disangka iklan, betapapun kita bisa bilang, “Alangkah naifnya kebijaksanaan begini.” Dan untungnya, Landung yang sarjana sastra UGM masih normal, “Tetap saya bacakan, meski dengan vokal yang lirih.”
Melalui LLCA, pemirsa digiring untuk memahami lika-liku hidup penyair Chairil Anwar. Bagaimana situasi kekeberatan para seniman di Jakarta, bagaimana karakter Chairil yang pemberontak, kesepian, dan cemas pada maut, bagaimana penyair ini ternyata doyan ngotot, dan bagaimana ia menyikapi keluarganya.
Puisi lain yang ikutan dituturkan, oleh Landung maupun deklamatris Rini Djajanti dan Betti Roosmarline, antara lain: Sajak Taman, Ajakan, Tuti Artic, Buat Album DS, CIntaku Jauh Di Pulau, Huesca, Doa, Catetan Th 1946, dan Derai-Derai Cemara.
Yang menarik, LLCA kaya visualisasi dan menyodorkan keragaman cara baca atau cara deklamasi – bahkan cara mempuisi-musikkan. Untuk hal terakhir, kemampuan vokal kerabat teater Stemka dan aransemen Lono SImatupang, bolehlah diimbuh nilai lebih. Kelompok nyanyi Stanza memang tidak sekadar meneriakkan puisi, tetapi mereka mempertegas makna. Dan ini langka.
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar