TARSIH: "PEWARIS SETUMPUK SPONSOR PENERANGAN" (TVRI - RABU, 21 SEPTEMBER 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 

TAK banyak paket sinetron produksi daerah yang ditayangkan secara sentral. Menurut catatan M. (Monitor) 2 kali (sampai saat itu) TVRI Stasiun Surabaya diberi jatah (Lewat Sebuah Tabir dan Napak Tilas, dua-duanya dibesut pengarah acara Asyik Muhartono), disusul dari TVRI Stasiun Ujungpandang serta 1 paket buatan Medan.

Keempat paket tersebut semuanya berbicara tentang kepentingan pemerintah. Demikian juga sinetron Tarsih produksi TVRI Denpasar kali ini menceritakan pak Warso yang memiliki anak banyak. Tarsih adalah anak tertua yang merasakan beban moral bila keluarganya kekurangan. Tarsih mencoba mengatasi kesulitan materi keluarganya, dengan cara bekerja di kota, sebagai pembantu.

Ia kesasar ke rumah tante Rosa, yang memiliki bisnis pelacuran terselubung. Ia tidak bisa melawan kekuatan keganasan kota, sehingga kegadisannya pun terkoyak. Akhirnya, ia bisa melepaskan diri dari cengkraman tante Rosa.

Bisa diterka maunya: kota itu ganas, sehingga untuk apa ramai-ramai menyerbu kota? Sebagai pembantu pun di kota besar, itu tidak mudah. Persis seperti yang ditayangkan sinetron ini. Sedangkan orangtua Tarsih terlalu mengharapkan hasil kerjanya. Orangtua Tarsih memiliki hutang pada pak Gombloh. Jika pak Warso tidak bisa membayar hutangnya, pak Gombloh meminta Tarsih menjadi istrinya.

Klise. Model-model Sitti Nurbayaan. Di sisi lain, Mat Sani yang mencintai Tarsih tidak rela bila Tarsih menyerahkan diri pada tante Rosa. Dalam kekalutan ini, akhirnya Tarsih memutuskan pulang ke kampung untuk menyerahkan diri pada pak Gombloh. Pak Gombloh dan Mat Sani pun berebut Tarsih.

Tarsih, yang dipermainkan nasib akibat dari keluarga besarnya itu, akhirnya menjadi gila. Ternyata, menurut penulisnya, mengatur keluarga besar itu tidak gampang dalam zaman 1988. Tarsih ini memang membawa misi KB. Jadi, bisa ditebak apa maunya dan apa saja yang dimaui sinetron garapan Didiet Maulana, yang bersubjudul Pewaris Setumpuk Beban ini. Ya, khan?

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer