TANAH MERDEKA JANUARI 1988: "DI DARAT KETEMU PENGAMEN, DI UDARA ADA 50 PESAWAT CURENG" (TANAH MERDEKA, TVRI YOGYA - SELASA, 26 JANUARI 1988)
KETIKA mars Tanah Merdeka (TM) karya Rudy Alwi ikutan nongol
pada tayangan edisi hari libur Tahun Baru 1988 lalu, banyak pihak berprasangka
bahwa salah satu acara unggulan TVRI Stasiun Yogya ini nantinya bakal disiarkan
secara sentral. Bukan lantaran Drs. Ishadi SK, si empunya gagasan, (belakangan
itu) punya kuasa sebagai Direktur Televisi. Tapi, TM memang punya potensi untuk
mengusik jiwa remaja (era itu ketimbang – misalnya – Temu Remaja.
TM punya nilai plus. Ada hasrat membetot patriotisme di kalangan muda (era itu), dan memotivasi semangat kejuangan. Bukan sekadar goyang pinggang dan pamer kecantikan.
“Kalau memang mau diambil untuk tayangan pusat, ya ‘mangga’. Malah lebih baik, karena materi garapan bisa lebih meluas,” kata Sri Kustilah Priyono, produser pelaksana. Kus dan kerabat TM yang rata-rata dari seksi pendidikan, dibantu sejumlah remaja (era itu) nan tampan jelita, menikmati kerepotan itu dengan ikhlas.
Yang dimaksud kerepotan adalah keterbatasan waktu, tenaga, dan fasilitas. Soal fasilitas yang sering bertabrakan dengan acara lain, terlalu biasa untuk stasiun daerah. Ini sebagian “kepahitan” yang harus diderita penyandang acara unggulan. “Idealnya, TM itu 2 bulan sekali. Sebulan terlalu mepet. Edisi kelima, Desember lalu (1987-red), kami kerja mati-matian dikejar waktu. Jam 7 masih ‘editing’, padahal jam setengah 8 harus ‘on-air’.”
Dan hasilnya? Memang rada ‘under’ dibanding edisi sebelumnya. Paling tidak, tampak sekali mengulur-ulur waktu dengan visualisasi yang tak bermanfaat. “Apa boleh buat, daripada tidak disiarkan.”
SRI PADUKA. TM tidak selamanya harus punya cantelan pada
aktualitas – sebagaimana nomor perdana dikaitkan dengan kekeramatan bulan Agustus.
Umpamanya ada, ya lebih relevan. Namun seandainya tidak – seperti edisi VI Januari 1988 ini – garapan lebih difokuskan ke sisi lain. Yaitu memancing gairah remaja (era itu) supaya rela berkarya. Rela berbagi nasib bagi lingkungan sosialnya. Pendeknya, menggoda minat anak muda (era itu) untuk hal-hal yang idealistik. “Bulan depan (Februari 1988-red), TM dikaitkan dengan Hari Pers Nasional,” ujar Kus lagi.
Ini kali, selain tetap mendendangkan mars Tanah Merdeka dengan busana belacu berselempang merah di Monumen Pelataran, Sleman, TM (waktu itu) akan menamiplkan wawancara dengan Paku Alam VIII, Wagub DIY, ngobrol dengan pengamen Malioboro yang beberapa di antaranya mahasiswa IKIP (era itu), berbincang dengan pelukis Hardjiman yang berhasil memotivasi anak muda Tamansari (era itu) mewujudkan “desa-seni”, dan informasi komplit mengenai akademi angkatan udara.
Dari sejumlah materi itu, yang bisa dikaitkan dengan gairah perjuangan dalam konteks politik, tentu saja hanya Paku Alam VIII. Setidaknya, peranan dan ketegasan sikapnya sebelum dan sesudah kemerdekaan 1945.
SEPAKAT. Pemaparan AAU yang lokasinya di Maguwo, Yogya, juga ditarik dalam kesepakatan cinta tanah air. Jawaban-jawaban Marsekal Madya Rukandi, gubernur AAU, dalam wawancara, bisa dipastikan berkisar ke soal itu, mengingat akademi ini merupakan perangkat pendidikan dalam mempertahankan udara Indonesia.
Dengan modal 50 pesawat cureng bikinan Jepang, AAU yang awalnya bernama sekolah penerbangan, di bawah pimpinan Adi Sucipto, senantiasa mengkaderkan pengawal negeri. Karenanya, TM juga diwarnai penggambaran latihan pertahanan pangkalan bersama para taruna.
Ada pesawat terbang melayang, ada pesawat tak bermesin di udara. Yang disebut terakhir ikut ditumpangi pengarah acara dan kameramen. “Meski deg-degan, enak lho, ikut terbang layang,” ujar Siti Wahyuni Arifin, yang bertugas menggarap edisi ini.
Tentang masuknya pengamen, Kus menjelaskan, “Untuk mengetahui motivasi yang dikandung mereka. Ada yang sekadar ikut-ikutan, namun ada pula yang menyikapinya dalam semangat wiraswasta. Misalnya, mengamen untuk biaya kuliah.” Kru TM mendeteksi kehidupan pengamen di Malioboro. Mereka mendatangi domisilii dan akhirnya diperoleh sekelompok anak muda (era itu) – di antaranya Banuri dan Ipung – yang (waktu itu) masih kuliah di IKIP.
Dari ketiga acara unggulan cetusan Ishadi, TM satu-satunya yang (waktu itu) dirasakan masih rawan. Tapi dengan diplomatis Kus bilang, “Kelahirannya memang terlalu dini. Sekarang (1988-red) kami sedang berupaya untuk menjadi mapan.”
SPEKULASI. Kerawanan ini mungkin disebabkan faktor spekulasi menggunakan tenaga luar yang awalnya nol sama sekali. Seperti diketahui, acara ini diranang oleh 20 remaja berprestasi (era itu) tingkat SMA dan perguruan tinggi semester awal. Mereka direkrut TVRI secara ‘door to door’. Model comot begini, kata Kus, dipandang lebi hefisien dibanding dengan sistem pendaftaran.
Maka cara serupa tetap (waktu itu) akan dipakai, seandainya armada kali ini (waktu itu) tidak remaja lagi. “Kru yang sekarang (1988-red) ini kami kontrak hanya setahun. Tapi mereka maunya terus.” Untuk menguji loyalitas dan keseriusan, sebulan sekali mereka wajib kumpul di TVRI. Baik yang dari Semarang, Purwokerto, Solo, dan – tentu – Yogya.
Kesempatan ini juga difungsikan untuk menentukan siapa yang (waktu itu) bakal tampil. Tanpa cara begini, terkadang memancing kecemburuan sesama kru, kenapa yang satu sering muncul dan satunya kok tidak? Maklum, mereka sama-sama cantik dan cerdas. TM edisi VI kali ini, digilirkan kepada JE Rento Dwi Astuti (Wiwis), Suryani Trismiasih (Menik), Sitowati Sandrarini (Sandra), dan Paramita Wikansari (Wikan).
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar