TAK ADA IKLAN DALAM BERITA ARMY-TV THAILAND

 SEPI. Gedung Channel 5 (HS-A-TV) Thailand. Agak sepi dari hiruk-pikuk produkis, meski tak sepi dalam isi. Buktinya, mereka punya acara pagi setiap Sabtu dan Minggu, esrta hari libur, di luar programa rutin. Jadi, masih lebih banyak daripada kita

STASIUN, SATELIT. Thailand, negeri penuh senyum, ternyata lebih awal memasuki babak pertelevisian dibanding kita. Akhir 1950an, mereka telah membangun stasiun penyiaran.

Beberapa stasiun beroperasi berturut-turut. Sampai 3 dasawarsa pertumbuhannya, mereka telah punya 5 jaringan. Masing-masing punya nama khas, tapi orang Thai lebih sering menyebutnya dnegan nomor kanal (‘channel’) saja. Ada kanal 3, kanal 5, kanal 7, kanal 9, dan kanal 11. Ada yang milik pemerintah, ada yang di bawah lembaga non-departemen, ada yang patungan dengan pihak swasta, dan ada pula yang swasta murni.

Saluran 9 tercatat sebagai pionir. Stasiun yang resmi beroperasi sekitar 1955-1957 ini berada di bawah naungan otorita komunikasi massa pada Kementerian Pendidikan. Saluran 5 dan 7 berada di bawah ‘royal army’ (angkatan darat) kerajaan Thailand. Yang satu (kanal 5) berada dalam 1 garis langusng, sementara yang kedua (kanal 7) lebih dioperasikan pihak swasta.

Kanal 3 yang beroperasi kemudian (1970an) adalah jaringan swasta murni, sementara yang paling belakangan dibangun adalah saluran pendidikan yang lazim disebut Kanal 11. Masa siarnya pendek (waktu itu), dengan materi sebatas ilmu pengetahuan dan pengajaran.

Dari 5 stasiun yang mengisi kemarakan pertelevisian sana, salah satu yang Istimewa adalah Kanal 5. Bukan apa-apa, masalahnya, saluran yang punya nama “HS-A-TV” alias “Army TV’ ini punya banyak keunikan. Selain sebagai lembaga siar milik AD Thailand (loyal kepada kelompok militer ini, tak peduli siapa yang jadi panglima), juga pasang-surutnya yang terbilang Istimewa.

Apalagi kalau dilihat contoh negara-negara lain, barangkali tak ada duanya. Selain itu, Army-TV menyewa transponder satelit Palapa untuk memancarluaskan siaran. Dengan sendirinya, sebagian saudara kita di sini bisa melihat, lewat antena parabola atau peninggian ‘gain’ antena.

LOKAL. Tayangan drama kebanyakan bukan produksi sendiri. Karena ada uang (meski menurtu peraturan hanya sebatas ongkos produksi), mereka punya banyak kelelausaan membeli dari ‘production house’ yang menjamur di Bangkok. Dalam gambar, tampak Linda Kathancharuen (berdiri) dan Phayuda Karasil (duduk) dalam sebuah adegan drama modern 

TENTARA, KENTARA. Kanal 5 remsi beroperasi sejak 25 Januari 1958. Ide awal adalah menggunakannya sebagai lembaga siar yang memuat instruksi militer, sekaligus memberi hiburan kepada rakyat.

Stasiun ini dikelola oleh sebuah komite yang anggota-anggotanya perwira tinggi AD Thailand. Tokoh pertama dalam organisasi ini pada waktu itu adalah Jenderal Boriboon Chulacharit, wakil kepala staf AD. Sementara Kolonel Prasit Chuenboon ditunjuk sebagai kepala administrasi. Nilai anggaran pada saat berdirinya 10.101.212 baht (waktu itu – sekitar 708 juta rupiah). 4 tahun kemudian, pemerintah kerajaan Thailand menambah dana 500.000 baht (sekitar – waktu itu – 35 juta rupiah).

Pada tahun pertama, stasiun ini cuma mengoperasikan peralatan tak lebih dari 3 hari siar dalam seminggu. Tahun kedua, operasional sudah menginjak 6 hari. Dan pada 1961, programa Sabtu pagi dimulai. Pada saat siaran terhenti 10 hari di tahun 1962 (maklum, ada revolusi), pemirsa menuntut. Satu staisun tak cukup untuk rakyat Thailand.

Tentara-tentara – khususnya yang tergabung dalam kesatuan AD-Thailand – menyadari. Babak baru – yang waktu itu disebut oleh Jenderal CHulacharit sebagai “membuka jendela tentara menjadi lebih lebar’, segera dimulai. Penataan dilakukan. Organisasi dibentuk sebagaimana organisasi profesional. Tentara-tentara berseragam dipekerjakan secara maksimal. Sejalan dengan itu, pihak sipil pun dilibatkan.

Ini berpuncak dengan bergantinya peralatan untuk siaran berwarna, pada 1978. Saat itulah, saluran berpindah. Dari kanal nomor 7 pada pesawat televisi Thailand, menjadi nomor 5. Sampai pada sebutannya, 1989, Channel 5.

Sampai 1989, gedung di jalan Phaolyothin, Snaampao, Bangkok, itu tumbuh dalam stabilitas maksimal. Materi acara tidak lagi dijejal oleh kegiatan dan bau-bau angkatan darat. Selain karena jumlah tentara yang terlibat dibatasi (sekitar 15%, dari sekitar 350 personal), juga karena kompromi dengan unsu rkemajuan, telah dilakukan. Dominasi AD menyusut tak kentara.

Menara siar setinggi 205 dengan 2 transmisi yang masing-masing berkekuatan 10 kW, adalah sedikit pertanda. Materi siaran yang 60-70% bikinan sendiri, berbanding dengan produksi luar selebihnya, menyangkut banyak hal, yang rasanya lebih komplit dari kita. Ratusan program ditayangkan setiap minggu (termasuk mata acara khas ketentaraan 2-3 kali seminggu), hampir semuanya ada iklan. Hampir semua karena sementara (waktu itu) ini, berita pantang iklan.

Tiga studio siap beroperasi. Satu bilik untuk berita, dua untuk produksi lainnya. Bisa yang berukuran sedang (100 meter persegi), bisa pula konser ‘live ‘atau rekaman dari studio besar (350 meter persegi). Komposisi acara, hampir sama dengan TVRI kita. Bedanya, mereka lebih sering mendasarkan pada paket-paket produksi luar. Baik film-film impor (kebanyakan dari Jepang atau Hongkong), atau drama buatan ‘production house’ lokal Thailand.

Dari segi musik, barangkali kita bisa sedikit ketawa. Asal tahu saja, kebudayaan musik modern lebih dahulu kita alami. Sedikit unik, masa siar (‘airtime’) untuk musik, kebanyakan dijual kepada pihak lain, produser atau artis penyanyi.

Kalau ada produser rekaman ingin mengiklankan produk, misalnya, mereka membeli ‘airtime’ itu. Harganya bisa bervariasi, tergantung klasifikasi artis dan saat penayangannya. Tentu, yang seperti ini tidak semuanya. Untuk program yang memang dimaui Army-TV, mereka juga berkewajiban memanggil dan membayar artis. Sedangkan mata acara lain, ya apalagi yang cukup dominan selain olahraga, sepakbola, tinju (tradiisonal maupun Thai Boxing), atau bela diri semacam silat.

Kapasitas, mungkin sama dengan kita. Tapi, soal kebaruan bahan, mereka (waktu itu) lebih punya. Artinya, paket-paket semacam liga sepakbola Inggris maupun Italia, tenis Wimbledon, dan sebangsanya, mereka tak terlalu telat. Kalaupun terlambat, paling-paling 4-5 hari atau masih pada minggu yang sama. Ya, apalagi pangkalnya, kalau bukan kehadiran penaja?

Ditulis oleh: Slamet Riyadi (Bangkok)

Dok. Monitor – No. 115/III/minggu ke-2 Januari 1989/11-17 Januari 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer