SUGAR RAY LEONARD VS THOMAS HEARNS: "PERTARUNGAN DUA PENDEKAR YANG SAMA-SAMA TEGAR" (SIARAN LANGSUNG, TVRI PROGRAMA 1 - SELASA, 13 JUNI 1989 Pkl: 08.00-11.00 WIB)

 DENDAM. Pertarungan pertama, 16 September 1981, Thomas Hearns dikanvaskan Leonard di ronde 14, ini menyulut dendam di dadanya

KALAU rencana TVRI untuk menayangka ‘live’ terlaksana, inilah suatu tontonan tinju yang paling memikat di tahun 1989 ini. Sayang, memang, jika partai besar dalam kelas menengah yang mempertarungkan dua petinju besar, Sugar Ray Leonard melawan Thomas Hearns. Dua musuh bebuyutan ini sudah menandatangani kontrak senilai 41 milyar rupiah di New York untuk diadu.

Pertarungan ini merupakan partai ulangan. Mereka pernah bertemu 8 tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1981-red) dan kalau itu dimenangkan Leonard. Maka pertandingan yang dijadwalkan berlangsung di Las Vegas ini diperkirakan (saat itu) bakal berlangsung seru.

Dari segi reputasi, mereka berdua punya prestasi yang mengagumkan. Sugar Ray Leonard adalah pemegang lima gelar sekaligus di lima kelas yang berbeda, kelas welter dan super menengah ringan versi WBA (Asosiasi Tinju Dunia), ditambah kelas menengah berat ringan dan super menengah versi WBC (Dewan Tinju Dunia).


Sedangkan Thomas Hearns pernah mengukir sejarah dengan menjuarai 4 kelas yang berbeda: welter, menengah, ringan, berat ringan dan menengah versi WBC. Hearns (saat itu) baru saja kehilangan gelar kelas menengahnya setelah dikalahkan Iran Barkley dengan KO di ronde ketiga, yang akhirnya Iran Barkley pun dihajar Roberto Duran dari Panama. Tentang Roberto Duran, ia satu-satunya petinju yang pernah mengalahkan Sugar Ray Leonard.

Sugar Ray yang punya rekor 35 kali menang (25 dengan KO), sekali kalah dan tahun 1988 lalu terpilih sebagai petinju terbaik versi WBC mendapat bayaran sebesar (waktu itu) 22 milyar rupiah. Sedangkan Hearns yang menancapkan dengan rekor 46 menang (38 dengan KO) dan 3 kali kalah, dibayar sekitar 19 milyar rupiah.

Pertandingan mereka nantinya (waktu itu) banayk diramalkan, tapi jauh berbeda dari pertemuan yang dulu (sebelum 1989-red): a lot dan bukan tak mungkin menjurus brutal. Tapi di sinilah letak daya tariknya. Salah satu keunggulan yang dipunyai Sugar Ray di usianya yang (waktu itu) sudah berkepala tiga ini, sia pandai menciptakan strategi dan mampu membaca situasi dengan cepat terutama pada saat-saat kritis.

Di samping itu, pukulan beruntunnya yang keras mampu sering mengejutkan lawan. Ambil contoh ketika lawan Donnie Lalonde, November tahun 1988 lalu. Nyaris saja kharisma Leonard luntur tatkala ia tersungkur di ronde keempat, setelah dengan kanan kiri Lalonde dengan telak menghantam kepalanya, hingga ia menggelosor ke kanvas.

Tapi toh pada saat yang kritis itu, menginjak hitungan ke-8, Leonard mampu bangkit, dan mengubah strategi baru, yaitu membuat frustrasi lawan dengan memancing lawan masuk. Dan hasilnya, pada ronde ke-9, Lalonde dipukul KO. Itu pernah dilakukannya pada tahun 1984, ketika menghadapi Kevin Howard. Pada ronde ke-4, Sugar Ray tak berdaya, tapi kemudian bangkit, dan akhirnya ronde ke-9, Kevin Howard dibuat tak berkutik.

Sugar Ray bisa disebut sebagai pendekar tinju sejati dan bersikap ksatria. “Saya banyak dikritik karena tidak mau melakukan tanding ulang,” kata Leonard. Kalau Sugar Ray tak mau meladeni Hearns karena retina matanya cedera. “Sekarang (1989-red) saatnya untuk meladeninya dan saya siap menghadapinya,” ujar petinju kelahiran Welmington, AS, tanggal 17 Mei 1956 ini (waktu itu).

Sugar Ray tak sekadar ngomong. Sejak tiga bulan sebelum bacaan ini dimuat Bintang (Maret 1989-red), Leonard mulai latihan keras. Tapi saat itu ia sebenarnya sedang menghadapi masalah. Pertama, Leonard (waktu itu) baru saja pisah ranjang dengan istrinya (kala itu), Juanita, yang telah memberinya dua anak laki-laki, Ray Jr. dan Jarrel.

Selain itu, untuk pertarungan nantinya, ia (waktu itu) tak akan ditemani lagi pelatih bertangan dingin, Angelo Dundee dan Janks Morton. Ini yang menjadi tanda tanya: apkaah ia mampu mengatasi dendam Hearns? Namun, jangan lupa juga, satu hal yang menjadikan Leonard jadi petinju besar keyakinannya yang tak mudah goyah. “Itulah kunci sukses saya,” ujarnya “membuka rahasia”.

Ditulis oleh: Idi Pranoto

Dok. Monitor – No. 136/III/minggu ke-1 Juni 1989/7-13 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer