SUDAH LAMA ACARA SAFARI BERGESER, TOH MASIH BANYAK TAMBAHAN PR (ANEKA RIA SAFARI, TVRI PROGRAMA 1 - JUMAT, 2 JUNI 1989 Pkl: 20.05 WIB)

Endang S. Taurina di-‘make up’ kru TVRI

ANDAIKAN ARS (Aneka Ria Safari, diputar TVRI Programa 1-red) disiarkan seperti tahun-tahun sebelum 1989 ini – Minggu, 21.30 WIB – jelas lebih pas ketimbang yang Juni 1989. Waktu yang lebih banyak digunakan orang menyaksikan televisi adalah mulai pukul 21.00 WIB, acara Dunia Dalam Berita (DDB). Sementara sebelumnya, tentu bisa dibayangkan, para pekerja baru pulang, mandi, makan, dan istirahat sejenak.

Perubahan ARS dari siaran di atas pukul 21.00 WIB menjadi di bawahnya, cukup berpengaruh. Terutama bagi mereka yang ingin mengenalkan lagu-lagu baru (kala itu) pada pemirsa yang –harapannya – berjumlah cukup banyak.

Seorang produser merasa beruntung, ketika pada awal pergeseran, artisnya justru muncul di ARN (juga disiarkan TVRI Programa 1-red), 2 minggu setelah ARS. Alasannya pada awal pergeseran, orang belum tahu. “Ini sama halnya memperkenalkan lagi. Kalau sudah tahu, berarti mereka akan mulai dari ARN.”

 

RAMAI. Persis kayak pasar, suasana kebut-kebutan merias wajah di ruang ‘make-up’ menjelang rekaman Safari 

Alasannya bisa pas. Tapi yang paling pasti adalah kebijaksanana pergeseran hari dan waktu itu tampaknya memang punya dampak, membuat para produser harus gleleng kepala, dan pemirsa semakin nggak tahu apa-apa. Jumlah acara musik di layar kaca (TVRI-red) memang (waktu itu) makin mbludak. Barangkali, cara menggeser ARS dan Selekta Pop, ke jam di bawah DDB untuk menarik minat pemirsa agar melihat acara-acara televisi lebih dini. Ini bisa dimaklumi.

Cuma, kenapa harus dua paket yang menjadi ajang promosi kaset-kaset baru (kala itu) ini yang bergeser? Kenapa bukan macam acara Dari Masa Ke Masa yang membutuhkan suasana segar untuk menyaksikannya, atau Telerama yang ditempatkan pada acara di bawah pukul 21.00 WIB? Minimal tak keburu ngantuk. ARS, ARN, Kamera Ria, dan Selekta Pop, jelas-jelas dianggap acara hiburan (di TVRI-red) yang (waktu itu) sudah punya tempat. Hiburan yang begitu diminati dan ditunggu-tunggu.

 

Nella Regar, me-‘make up’ wajah sendiri 

Nah, andaikan dia tetap pada posisi hari libur dan jam agak malam, kayaknya malah lebih tepat, orang (waktu itu) tidak akan mengantuk, tidak akan mematikan televisi. Apalagi pada acara acara-acara inilah kita bisa melihat trend musik kita yang (waktu itu) paling aktual. Lepas dari baik-buruk, tapi di situlah kita bercermin.

Masalah lain, yang (waktu itu) bakal bisa terjadi, pada jam di bawah DDB (kala itu) akan selalu ada kemungkinan acara penting (Laporan Khusus-red) yang tak bisa diganggu gugat. Seperti M. (Monitor) pernah menuliskan, pada ARS pertama kali bergeser, ada acara menteri yang bicara soal listrik.

Ini menyita waktu sampai sekitar 15 menit. Maka, ARS pun harus mengikuti pergeseran itu dengan memotong acaranya sendiri. Pasal lain, DDB tak mungkin digeser, misalnya dimulai dari pukul 21.10 WIB, misalnya, karena acara hiburan kepanjangan.

Padahal, acara seperti ARS sendiri (waktu itu) masih harus berbenah. Mulai dari sistem rekaman yang hanya punya waktu sehari. Tentu (waktu itu) sudah dibayangkan yang (kala itu) bakal terjadi. Meski telah diusahakan cara-cara variasi dengan visualisasi, tetap saja tak banyak menolong.

Penggarapan seperti ini sudah menjadi wajar, bahkan menjadi sah karena sistem pengaturan memang (waktu itu) masih demikian adanya. Seperti ARS yang (kala itu) bakal menampilkan antara lain Endang S. Taurina, Nella Regar, dan Kiki Maria begitu mepet dengan hari siaran. Rekaman tanggal 30 Mei 1989, disiarkan seminggu kemudian.

Padahal, penggarapnya juga (waktu itu) masih harus merekam bahan ARN serta paket musik lainnya. Jelasnya, ARS maupun ARN makin ditantang. Makin banyak PR untuk memperbaiki wajah.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 135/III/minggu ke-5 Mei 1989/31 Mei-6 Juni 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer