SUARA SUMBANG DI KEBUN KOPI, MENCIPTAKAN SUASANA ASLI (PAGI DI NUSANTARA, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 25 MARET 1990 Pkl: 08.10 WIB)

SADAP. Bagian dari roda kehidupan masyarakat Kaliklatak: Menyadap karet. Semuanya turun. Pria, wanita, dan kadang anak-anak (era itu).

BAGI ‘arek-arek’ Jawa Timur, kota Banyuwangi merupakan salah satu kota yang patut diabanggakan. Apalagi nama Kaliklatak, dekat lereng pegunungan Kaliguro kecamatan Giri, 15 kilometer ke arah timur laut Jawa Timur. Di sini ada perkebunan kopi, cengkeh, karet, dan coklat. Luas Kaliklatak cukup memuat 2.000 warga, 700 orang di antaranya pekerja di pabrik kopi dan penyadapan karet Kaliklatak.

Dengan pengarah acara Tri Sumahardjo yang juga kepala subsi pora TVRI Stasiun Surabaya, PDN kali ini cuma mengambil satu sisi dari kehidupan warga di Kaliklatak. Mulai dari kegaitan sadap karet pada dini hari, pekerja perkebunna yang berangkat bekerja, suasana desa perkebunan, kegiatan memilih kopi di pabrik, ditingkahi dengan anka-anak sekolah (era itu) yang unik, dengan menaiki traktor milik pekrebunan.

Tak lupa tayangan pekerja perkebunan mengambil karet dan berbondong membawa hasilnya ke pabrik, mencuci peralatan yang digunakan ketika menyadap karet, diakhiri dengan gambar lereng gunung Kaliguro.

BAGUS, HANGUS. Melihat hasil rekamannya, PDN kali ini cukup bagus. Materi yang disajikan, baik visualnya maupun yang dibicarakan, cukup terarah. Pemirsa hanya disajikan tentang kehidupan masyarakat sekitar Kaliklatak, khususnya yang dekat perkebunan Kaliklatak. Bagaimana sebuah keluarga, yang ibu dan bapaknya pergi ke pabrik. Sang bapak, sejak matahari terbit sampai sekitar pukul 6 pagi, menyadap karet di hutan.

Setelah itu, bersama istri mereka membawa hasilnya ke pabrik. Wanita, yang agaknya ada pengaruh daerah Bali, membawanya di atas kepala. Sementara kaum pria, memikul seperti pikulan tukang minyak keliling di Jakarta. Kalau saja pengambilan gambarnya lebih diperkuat dengan ‘sense of art’ kamera oleh Didit Hape, gambar yang dihasilkan pasti bisa bagus dari yang ada pada atyangan ini.

Apalagi dikombinasi dengan ‘directing’ PA (pengarah acara), salah satu dari mereka yang berbondong-bondong itu seolah bercakap-cakap, dengan arahan kamera yang kuat ke mereka, tentu (waktu itu) akan lebih kental ‘human interest’-nya. Akan sangat menarik khan, bila gambar mampu menyedot keharuan kita? Agaknya, PDN cukup potensial, untuk menghadirkan keharuan ini.

Lantas, pengambilan di kebun karet. Seorang pekerja tengah menyadap karet di hutan yang lenggang dan agak gelap. Sayang, gambar di sini nampak ‘under’ cahaya, sehingga tidak sinkron antara gambar dan materi yang akan ditampilkan. Gambar hangus, sementara yang akan dibicarakan amat bagus. Kejelian-kejelian yang bukan sekadar tuntutan tugas inilah yang amat diharpakan bagi semua kegiatan seni, yang notabnee TVRI juga masuk pada kriteria ini.

Tayangan dialihkan pada kehidupan yang semakin meriah di desa Kaliklatak. Kesibukan beralih pada anak-anak sekolah TK (era itu) yang berseragam putih-kuning. Mereka bersama gurunya yang cantik dan (waktu itu) muda, menaiki traktor ke sekolah.

Dengan ilustrasi lagu Desaku (lagu karya Liberty Manik-red) yang dinyanyikan anak-anak (era itu) itu, tanpa iringan musik, justru semakin menarik. Suara yang melengking, fals, justru menambah keaslian desanya. Sekaligus mengundang kelucuan. Pemirsa, agaknya bisa memaklumi suara-suara sumbang beneran itu. Keharuan juga muncul mendnegar nyanyian asli dari anak-anak Indonesia (era itu), seperti yang diucapkan narator Noeng HN.

Satu-satunya ketidaksempurnaan tayangan PDN dari Surabaya ini, minimnya informasi yang diberikan. Narator cuma memainkan kata-kata berbunga tanpa sadar bahwa pemirsa pun butuh informasi yang lain.

Narator tidak menyebutkan atau menanyakan kepada salah satu penyadap karet, berapa liter yang mereka pikul tiap hari. Berapa bayaran mereka kalau dibanding kebutuhan mereka. Berapakah kurangnya atau lebihnya rupiah dari menyadap karet. Berapa juga kebutuhan anak-anak mereka yang sekolah.

Kalau mau lebih lengkap lagi, perlu juga ditanyakan penghasilan wanita-wanita pekerja di pabrik kopi. Mau agak sempurna lagi, apa saja yang mengikat mereka dengan pemilik pabrik. Adakah yang namanya perlindungan buruh. Jangan-jangan, pabrik di Kaliklatak yang besar itu, malah tidak mengindahkan peraturan-peraturan administrasi seperti ini.

Inilah yang jadi kerinduan kita. PDN memang cuma 15 menit, dan agaknya cuma acara stoperan. Tapi, yang stoperan begini pun dituntut kesungguhan. Buat pemirsa apalagi. Tuntutannya, cuma bagus. Berat juga, ya?

Ditulis oleh: Ida M. Palaloi

Dok. Monitor – No. 195/IV/Minggu, 25 Maret 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer