SOVIET MEMBAGI LAPANGAN JADI TIGA (ARENA DAN JUARA, TVRI PROGRAMA 1 - KAMIS, 20 APRIL 1989 Pkl: 21.40 WIB)

Paket yang (waktu itu) akan ditayangkan kali ini bukannya babak-babak semifinal kejuaran Champions Cup, Winner Cup maupun UEFA Cup yang (saat itu) mulai memanas, melainkan pertandingan persahabatan antara kesebelasan Belanda melawan kesebelasan Uni Soviet yang merupakan partai ulang di final kejuaraan Eropa, Juni 1988. Tujuannya: saling menjajaki kemampuan dalam rangka kejuaraan Piala Dunia 1990 yang lebih akbar.
Di samping itu, Soviet sendiri ingin membalas kekalahannya dalam Piala Eropa sebelumnya. Bisa dimaklumi, mengingat kesebelasan Beruang Merah – sejak babak kualifikasi sampai semifinal – belum pernah terkalahkan. Dalam pertandingan pembukaan, pasukan Rinus Michel, Belanda dikalahkan 1-0. Kemudian, berturut-turut, mereka mengalahkan Inggris 3-1, menahan Irlandia 1-1, dan di babak semifinal, menghancurkan Italia dengan 2-0, tanpa balas.
Melihat grafik yang menaik, hampir semua orang meramalkan Soviet akan unggul di babak finalnya. Kesebelasan Belanda sendiri saja tersisih di babak penyisihan. Untunglah ada Wiem Kieft yang menyelamatkan muka mereka, sehingga mampu melaju ke babak semifinal.
Kesebelasan Uni Soviet yang diarsiteki Valery Lobanovsky memang cukup andal hampir di semu alini, dengan materi pemain kebnayakan dari klub Dynamo Kiev – seperti Igor Bleanov, Alexander Zavarov, Oleg Kutznesov, Oleg Protasov, dan kiper terbaik dunia Dasayev – yang lalu terkenal dengan mana Eksperimen Kiev.
Waktu persiapan ke Piala Dunia 1974, tim yang masuk Piala Eropa 1972 adalah klub super Dyanmo Kiev. Agar tidak susah membentuk tim baru, pemerintah Uni Soviet memerintahkan untuk terus mempertahankan tim itu. Dan sampai Piala Eropa, Juni 1988, kesebelasan Uni Soviet hampir didominasi klub Dynamo Kiev.
Prestasi sepakbola nasional Uni Soviet mencuat ke permukaan setelah mereka mampu merebut emas di Olimpiade Melbourne, 1956, dengan mengalahkan tim tangguh Yugoslavia 1-0.
Berarti, Soviet telah menebus kekalahannya di Olimpiade Finalndia, 1952, saat mereka dikalahkan 1-3. Dalam keikutsertaan di kejuaraan Eropa, Uni Soviet pernah menjuarai, tahun 1960, di final dengan mengalahkan Yugoslavia 2-1. Dan yang lebih membanggakan, kiper Lev Yashin dikukuhkan sebagai kiper terbaik dunia.
Dan selama delapan kali Piala Eropa digelar, sudah empat kali (sampai saat itu) Uni Soviet masuk final dan sekali (sampai saat itu) menjuarainya. Suatu prestasi yang bukan main, kalau dibandingkan negara-negara Eropa lainnya mengingat Soviet kenal sepakbola termasuk (waktu itu) masih baru, tahun 1982-an.
Menurut para pakar bola, Uni Soviet menggunakan sistem blok. Maksudnya, lapangan dibagi tiga: blok belakang, tengah, dan depan. Jadi kalau diserang, blok depan mundur ke tengah dan blok tengah mundur ke blok belakang. Seandainya ada peluang menyerang, maka terjadi sebaliknya.
Kalau dilihat di setiap penampilannya, gaya kesebelasan Uni Soviet seperti mesin, jalan terus tanpa berhenti. Tapi ketika mereka bertanding di final lawan Belanda, sistem blok yang mereka pakai (perkiraan waktu itu) kayaknya macet. Antara pemain satu dengan lainnya seperti tidak saling tahu harus berbuat apa. Padahal, biasanya dalam menit-menit pertama, kesebelasan mereka menggertak duluan.
Belanda, sang lawan, diperkuat tiga pemainnya yang dikontrak AC Milan, Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard.
Ditulis oleh: Idi Pranoto
Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan


Komentar
Posting Komentar