SJAEFUL ANWAR: "GELAS RETAK" (SEPEKAN SINETRON, TVRI - SENIN, 29 AGUSTUS 1988 Pkl: 22.30 WIB)

 
ACHMAD Sjaeful Anwar, alias Ipul, (waktu itu) 38 tahun, telah begitu melekat dengan Teater Koma, Jakarta. Maklum, ia termasuk pendirinya. Menurut pengakuannya, ia sudah terlibat dalam 40 pementasan. Suatu perjalanan yang panjang. Meski perkawinannya sendiri kandas, sementara anak satu-satunya juga meninggal karena sakit tampek.

Dan ketika anaknya dipanggil Tuhan, maka perceraian pun tak dapat lagi dielakkan. “Saya tahu, Tuhan tak menyukai perceraian, tapi kalau jalan ini yang harus saya lalui, mau apalagi?” Ya, keputusan sudah diambil, risiko pun harus dihadapi. (Keluarga hangat, di hal. 11 Monitor No. 95/Tahun II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988).

DENGAN BERTEATER SJAEFUL ANWAR TEMUKAN KELUARGA YANG HANGAT

 

TONGOS, TEKUN. Bagi Ipul yang lahir di Purwakarta, 13 Maret 1951, dunia teater adalah dunia yagn mengasyikkan. Ini terbukti dengan keterlibatannya dalam dunia pentas yang sampai saat itu tak pernah ditinggalkannya. Mulai tahun 70-an, ia sudah bergabung dengan Teater Kecil, meski masih jadi anak bawang.

Kemudian, ikut Putu Wijaya di Teater Mandiri dan juga Teater Keliling. Kalau kemudian ia kerasan, betah di Teater Koma, itu bukan hanya karena ia termasuk pendirinya, tapi karena ia merasa memiliki kecocokkan dalam menumpahkan buah pikiran. Selain itu, ia juga mreasa menemukan keluarga besar yang hangat.

“Di Teater Koma saya bisa mengejawantahkan diri saya secara lebih utuh. Pun kalau ingin marah atau mengeluh, di sini ada yang menampung. Sebaliknya, terkadang saya juga belajar menerima kemaahan dan keluhan orang lain.” Mau mendnegarkan keluhan atau bisa menerima kemarahan orang lain kayaknya memang tidak gampang. Apalagi bagi Ipul yang masa kecilnya selalu dimanja oleh kakeknya yang asisten wedana, orang yang cukup berpengaruh dan disegani di kampungnya.

Meski dunia teater telah begitu menyatu dengan dirinya, namun bagi duda yang bnagga dengan gigi tongos dan jidat lebarnya ini merasa tidak harus tergantung dengan dunia pentas. Dan karena dulunya ia juga salah satu murid dari IKJ jurusan seni lukis, maka untuk memenuhi gejolak hatinya, ia juga menekuni soal seni lukis dan artistik film. Untuk hal yang terakhir ia sempat menyelesaikan 7 judul film. Bahkan, ia sendiri kadang sering muncul sebagai pemain dalam film yang digarapnya.

“Dalam seni, saya ini hanya sebagai petani. Karena menjadi petani kesenian, maka saya juga tidak memilih-milih. Apa saja yang ada harus bisa saya cangkul, bisa saya garap sesuai kemampuan saya.” Iyalah. Nyatanya, Ipul dapat menjalani semuanya tanpa merasa jenuh. Dalam sinetron Gelas Retak (TVRI) tampaknya ia juga bermain cukup cemerlang.

UTUH. Dalam Sandiwara Para Binatang, Ipul mencoba memerankan lakonnya secara utuh 

RETAK, REMUK. Waktu Ipul memerankan seorang ayah yang nyeleweng yang kemudian bunuh diri dalam Gelas Retak, ia bermain cukup bagus. Seolah ia pernah mengalami hal itu. Padahal, sewaktu cerita itu diproduksi enam tahun yang sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1982-red), ia tengah menikmati indahnya sebuah perkawinan. Dan ketika ia betul-betul mengalami kerteakan dalam berumahtangga, ia hanya bisa bercerita dengan mata berkaca-kaca.

Sebetulnya, perkawinan itu sudah goyah ketika menginjak tahun kedua, tapi karena mengingat anak, ia tetap mencoba bertahan. Kalau kemudian anaknya meninggal dan perceraian tak bisa dihindari lagi, semua itu ia serahkan pada Tuhan. “Saya telah gagal menjadi seorang ayah. Dan mungkin karena saya telah dianggap gagal oleh Tuhan, maka kepercayaan untuk memelihara anak pun telah dicabut kembali.”

Meski telah gagal dalam berumahtangga, namun bagi Ipul, kegagalan itu harus tidak mempengaruhi aktivitasnya sebagai orang seni. Bahkan, kalau bisa ia ingin membawa kenangan pahit ini untuk memacu dan berkaca bagi karyanya (yang waktu itu akan) datang.

“Yang sering mengganggu adalah bayangan anak saya. Mungkin karena masih tahu-tahun pertama saya alami. Tapi ya sudahlah, toh dia sekarang (1988-red) sudah enak di sisiNya.” Lalu, kapan kawin lagi? “Ah, nggak tahulah, nanti kalau sudah ada jodoh.”

Trauma? “Oo… tidak. Cuma sekarang (1988-red) saya harus lebih hati-hati. Saya masih harus belajar banyak untuk bisa memimpin diri saya sendiri. Sehingga nanti tidak mengecewakan atau dikecewakan orang lain.” Dari pengalamannya itu – yang sempat tidak bertutur sapa dengan istri selama (sampai saat itu) 4 tahun – Ipul (belakangan itu) tidak ingin terlalu memaksakan diri.

Apa yang ia anggap cocok ia jalani dan yang tidak, ia tinggalkan. Ipul ingin menjadi air, yang mengalir menuruti kemauannya sendiri. Seperti merokok, misalnya, karena merasa tak cocok lagi, makai a pun berhenti merokok. Dan hal ini ternyata telah membuatnya merasa tanpa beban. Ia bisa mengerjakan karyanya secara total. Kepuasan inilah yang kemudian membuatnya menjadi semakin gemuk, berat badannya naik 10 kilo.

“Perkawinan boleh gagal, tapi dalam berkarya tidak boleh remuk karenanya. Hidup saya toh sudah komplit, sudah pernah lahir, kawin, dan cerai, he… he… he.” Yang (sampai saat itu) belum tinggal mati, ya Pul? (Pihak Monitor waktu itu mengatakan) amit-amit, jangan dulu, deh.

Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi

Alamat Sjaeful Anwar (waktu itu):

d.a Teater Koma

Jln. Setiabudi Barat no. 4

Jakarta Selatan

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer