SINETRON PULANG TEGUH KARYA DIGARAP UNTUK TVRI. SATU UPAYA UNTUK MENGEMBALIKAN CITRA MEDIA LIHAT-DENGAR
KOMPLET, KONDANG. “Sebelum membuat film lagi tahun mendatang
(1988-red), sebetulnya saya ingin membuat dulu film teve. Jika ada waktu, dan
segalanya berjalan baik, saya juga ingin membikin serial. Tapi, saya akan
melihat-lihat dulu keadaannya, kondisinya. Sebab, saya tak bisa seenaknya
menyodorkan suatu gagasan.”
Obrolan itu diucapkan sutradara Teguh Karya, sekitar bulan September 1987 dalam suatu pertemuan ringan. Dna berkali-kali bertemu ia masih tetap bersemangat untuk mewujudkan gagasannya. Tak lupa ia menyebut beberapa lakon yang disodorkan, lengkap siapa-siapa yang bakalan main.
Dalam hal ini sangat terasa bahwa sang sutradara yang banyak menghasilkan film bermutu, karya terakhirnya (kala itu) Ibunda, begitu serius terhadap apa yang diingini. Keinginannya memang susah dilupakan begitu saja. Dari waktu ke waktu, Teguh selalu membicarakan rencananya. Entah itu bikin film layar lebar atau untuk televisi. Semuanya itu kayaknya sudah dirancang komplit, berikut menyodorkan judul-judul yang (kala itu) akan digarap. Serta visi-visi yang mau ditampilkan.
Namun, ada satu hal yang menjadikan kenapa Teguh Karya terlibat lagi pada media televisi. Yakni: kerinduan. Setelah sekian lama absen nggak nampang (bersama kelompoknya), ia mencoba kembali meraskaan suasana yang telah lama tak “dihirupnya”. Ia pun memahami bahwa kondisi teve yang tentu berbeda dengan zamannya dulu (jauh sebelum 80an-red).
“Buat saya, yang terpenting, bagaimana kami menciptakan kerjasama. Tetapi yang terpenting lagi, kami tak ingin menyelesaikan pekerjaan semaunya. Setiap hari kami tetap berlatih, tak perduli apa yang akan terjadi.”
Wejangan seperti itu ditularkan kepada krunya, ketika Teguh telah memberikan pernyataan siap produksi untuk TVRI. Sambutan dari pihak TVRI pun tidak kalah intimnya. Diadakan pertemuan yang membahas secara jauh soal produksi, sampai Direktur Televisi, Drs. Ishadi SK, M. Sc., bertandang ke sanggarnya. Sebaliknya Teguh Karya kerap pula menjadi tamu di TVRI. Bahkan menengok ke studio segala.
Akhirnya, ditetapkan secepatnya kalau Teguh Karya diharapkan memproduksi untuk tayangan akhir Desember 1987 – paket Natal. Waktu toh mepet. Soal ‘editing’, Direktur Televisi Ishadi memintanya untuk dikerjakan di Bandung, mengingat di Jakarta peralatannya banyak yang dipakai.
Rencana Desember 1987 gagal. Terdapat pula perubahan di sana-sini, termasuk pengarah acaranya yang semula dipegang Irwinsyah, 1988 ini ditangani Dedi Setiadi. Tentang perubahan kecil ini tak memberikan pengaruh. Pihak TVRI tetap mengharapkan adanya satu sajian terbaik. Dan pesan ini khusus disampaikan Direktur Televisi Ishadi kepada pengarah acara.
Harapan Ishadi sungguh wajar. Setidak-tidaknya ini upaya untuk meningkatkan kembali citra TVRI. Tempat kediaman Teguh Karya sudah ditata rapi. Andai kata seketika diadakan syuting, mereka siap tanpa menunggu ini itu. Tinggal tancap. Katanya, syutingnya (waktu itu) akan dilakukan 15 Januari 1988 dan memakai studio II TVRI Stasiun Pusat Jakarta.
Sedang di Sanggar Populer yang terletak di Kebon Pala itu, Teguh Karya sejak awal Januari 1988 terus mengadakan latihan. Latihannya lancar, masing-masing pemain sudah hafal dialog. Dalam latihan selalu saja tercuat diskusi.
Pada setiap latihan jgua ditandaskan soal sikap keterbukaan. Apabila masing-masing pemain mempunyai problem akan lebih baik bicara terbuka dengan sutradara. “Fungsi sutradara harus tahu karakter pemain. Jangan takut bocor pada orang lain. Sutradara haru smenyimpan rahasia pemainnya. Itu kode etik.”
Pihak TVRI yang diwakili pengarah acara Dedi Setiadi bersama kru, tak kalah tekunnya. Selama seminggu lebih, Dedi hadir dalam latihan itu. Dedi dapat menyimak perubahan posisi tiap pemain. Dan ini memudahkannya untuk memperhitungkan bagaimana posisi kamera dan lampu.
Yang juga ikut sibuk adalah pernacang muda (era itu), Samuel Wattimena, penata kostum. Ia berkeinginan dapat bekerjasama dengan Teguh Karya. Sebelum Sammy – demikian panggilannya – melangkah jauh menangani film besar, mulai dulu dengan sinetron. “Saya harus belajar dari yang kecil. Pertama, dari sinetron baru nanti tahap berikutnya di film.”
Untuk itu, Sammy tidak memikirkan dana yang harus dikeluarkan. Pulang, sinetron yang (waktu itu) bakalan digarap Teguh Karya, kisahnya sederhana. Intinya mengenai kerinduan, dan tentang pembebasan rasa kesepian di tengah keramaian. Bagaimana seseorang menginjak masa tua harus menghadapi suasana tersebut.
Seorang bapak yang kehilangan istrinya dan mesti menentukan pilihan untuk hidup sendiri. Sedang dua anak perempuannya menginjak dewasa dengan sifat yang berlainan. Kesederhanaan problem yang dituangkan Teguh dalam sinetron itu rasanya seperti milik kita. Juga milik Teguh pribadi. Judul Pulang juga tak lain kerinduan Teguh Karya untuk kembali menghirup udara TVRI – ini sebelum membuat film besar.
Kerinduan juga merupakan kebahagiaan. Kebahagiaan itulah yang membuat mereka giat berlatih, mencari diri serta bekerja keras. Dan dalam latihan pun terdapat adegan yang membuat hati tercekam. Rini S. Bono sempat terpeleset di latihan hari keenam, dan Niniek L. Karim menghantam kaca pintu. Tangannya harus dibalut kena pecahan kaca.
Ditulis oleh: Gunawan Wibisono, Syamsuddin Noer Moenadi, Rachmat Riyadi
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar