SH MINTARDJA (PRAHARA, TVRI YOGYA - RABU, 6, 13, 20 JULI 1988, 3 AGUSTUS 1988 Pkl: 20.00 WIB)
PENGARANG beken Singgih Hadi Mintardja merasa tidak ada masalah seumpama Februari tahun 1989 jadi pensiun. Kecuali memang (waktu itu) sudah saatnya, dia (sampai saat itu) sudah 30 tahun mengabdi di Depdikbud DIY. “Saya malah punya waktu longgar untuk nulis.”
Baginya, pensiun merupakan kodrat pegawai negeri. Itu risiko yang mesti ditanggung. Tidak perlu disesali. Kalaupun nantinya ada yang berubah. “Paling banter secara pergaulan jadi ndak pernah ketemu kawan-kawan. Toh itu juga bukan masalah lantaran di luar kantor masih ada kesempatan.”
Pendeknya, penulis cerita serial Mahesa Jenar, Api Di Bukit Manoreh, ini maju ke depan tanpa ganjalan. Namun, begitu dia belum punya rencana khusus untuk mewarnai saat pensiunnya nantinya, kecuali meneruskan kebiasaan bikin cerita. Kalau biasanya pagi dan malam mengetik, nantinya bisa sesuka hati. Karena itulah, pak Singgih – begitu dia biasa dipanggil – (waktu itu) tidak bakal menolak seumpama ditawari bikin cerita serial untuk sayembara lagi.
Dia merasa puas dengan hasil Prahara yang garapannya mencerminkan kesungguhan kerja. Baik pelaku cerita dari Sapta Mandala, maupun kru TVRI. “Mereka memperlihatkan usaha yang pantas dipuji,” tutur bapak 8 anak dan kakek 9 cucu yang selalu berkemeja putih ini. Ini berbeda dengan ketika Mahesa Jenar-nya diketoprakkan grup lain, beberapa tahun sebelumnya. Dulu (jauh sebelum 1988-red), dia bilang tidak sreg.
Ada sejumlah kejanggalan dalam tayangannya. 1988, semuanya emngalir lancar dan pas seperti maunya, betapapun ia harus menanggung risiko lantaran sayembara itu. “Setiap ketemu kawan di manapun, saya jadi bahan kelakar. Mereka pada merajuk minta bocoran jawaban, sambilb ilang, nanti kalau menang, hadiahnya dibagi.”
SH Mintardja tetap memegang rahasia itu. Bahkan, kepada anak-anaknya yang juga pada ribut sehabis nonton Prahara setiap Rabu malam, Singgih juga pelit informasi. “Jawaban sayembara itu disimpan di TVRI Yogya. Saya masukkan sampul tertutpu dan disegel. Yang menyimpan kepala stasiun,” jelasnya.
Dengan begitu, menurutnya, dia tidak bakal seenaknya membelok-belokkan cerita. Ini etika sayembara. “Beda dengan judi buntut. Nomor yang dikeluarkan tergantung sedikitnya jumlah penebak.”
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar