SETELAH SOPHIA LOREN, SIAPA LAGI? GRACE KELLY?
LIBUR, LIBUR. Hari libur pertama tahun 1988 ini, TVRI
memberikan hiburan yang tak kepalang tanggung. Wawancara khusus dengan Prof.
DR. Sumitro, pertandingan tinju, ilmu pengetahuan populer, dan “tayangan gambar
Inggris” Sophia Loren, Her Own Story. Yang terakhir ini tanpa teks dan hanya
sedikit pengantar. Mungkin ada baiknya dicerijtakan latar belakangnya.
Paket ini, di AS, disebut ‘TV-movie’, yaitu film cerita yang khusus dibuat untuk siaran TV. NBC yang mulai menyiarkannya, 26 Oktober 1980. Kisahnya – sesuai judul – tentang riwayat hidup Sophia Loren? Atau riwayat ibunya? “dua-duanya. Inilah kisah Cinderella dengan ibunya,” kata yang bersangkutan saat film tersebut dikampanyekan.
Romilda Villani, yang dimainkan oleh Sophia sendiri, mempunyai ambisi main film. Ia terpilih sebagai “gadis mirip” Greta Garbo. Hadiah keliling Hollywood tak disetujui ibunya. Karena kecewa, ia lari ke Roma untuk memenuhi ambisinya. Gadis dusun Pozzouli (era itu) ini ketemu dengan Riccardo Siccolone, yang kemudian anak, Sophia, dan kemudian Maria tanpa menikahi secara resmi.
Di sinilah ambisi Romilda ditumpahkan habis-habisan untuk Sophia. “Tidak, saya tak akan mengorbankan semua ini untuk mendidikmu sebagai guru sekolah.” Ditatapnya Sophia yang hitam matanya, dan mulai tumbuh pantat dan dadanya. “Semua berjalan sesuai dengan keinginan saya. Kamu akan menjadi gadis yang terkenal, menjadi bintang film.”
Mulailah Sophia hidup sebagai pengikut kontes, dan
mendapatkan hadiah ‘wallpaper’, serta kursus akting. Harta dan kekayaan memang
tujuan utama untuk membebaskannya dari kemiskinan. Dan Sophia, menurut ibunya,
mempunyai ‘selling points’, yang bisa dijual untuk memenuhi ambisinya.
HIDUNG, HITUNG. Kalau kemudian hidung Sophia dianggap terlalu “beda”, ia sudah punya kebolehan menjawab: “Kameramenlah yang harus menyesuaikan diri, macam mana cahaya yang jatuh di hidung saya, bukan saya yang harus operasi. Saya tidak cantik, saya wanita biasa. Tapi saya punya pribadi.” Sophia memang bukan wanita cantik. Mulutnya kelebaran, hidungnya rada menyeruak. Tapi ia memiliki kepercayaan diri, itu yang ditonjolkan dalam film ini.
Yang juga ditonjolkan ialah dominasi ibunya. Sophia yang penurut itu, ternyata menjadi pemberontak ketika dihalangi pernikahannya dengan Carlo Ponti, yang dimainkan oleh Rip Tom. Apalagi ketika ditemukan gelang pemberian Carlo. “Apa yang kamu jual pada dia?” Romilda teringat terhadap yang dialami dulu. Pemberian duit sebagai imbalan “tertentu”.
Sophia murka. Teriaknya – yang agak susah diterjemahkan – berbunyi: “Hentikan pencarian mama di bawah setiap ranjang dengan Riccardo. Hentikan penyaluran kegagalan mama pada diriku.” Momen yang menyayat. Justru karena ada adegan lain yang juga menyayat – Romilda mengemis, berlutut, untuk sepotong roti bagi anaknya!
Apakah harus selalu memperhitungkan harta, dalam asmara? Entahlah. Tapi, Sophia sempat kepincut Gary-Grant, dimainkan oleh John Gavin, ketika suaminya dicurigai pemerintah Italia – dituduh terlibat urusan bisnis ilegal.
SUKA, SUKAR. Kisah yang mengahbiskan biaya 4 juta dolar dan
dua setengah bulan (belakangan tiu) ini, berakhir dengan hidup yang sukacita.
Sophia Loren mendapatkan dan meraih sukacitanya. Perjalanannya sebagai gadis
miskin tanpa ayah, berubah menjadi Lazzaro. Lalu… “Boren, Coren, Doren… Loren….,”
dan bisa remsi menikah dengan Carlo Ponti, mempunyai dua anak, setelah dua kali
keguguran.
Sukses? “Sukses itu kebahgaiaan. Kebahagiaan itu berada dalam diri seseorang,” tuturnya berfilsafat. “Kemujuran? Ada unsur itu. Tapi juga kerja keras. Usaha keras. Bukankah banyak wanita cantik yang main film, tapi tak meninggalkan tanda apa-apa?” Cerita di balik pembuatan film itu memberikan bukti kuat. Sophia Loren, dalam usia 46 saat itu, sudah menjadi bintang tenar. Tapi ia kerja keras dan tak menuntut macam-macam, walau harus di lokasi yang panas dan sempit.
“Saya bisa memainkan peran sebagai ibu saya dengan objektif,” kata kritisi: bagus. Tapi untuk memernakan dirinya, antara usia 20 hingga 40 tahun, ia tampak kikuk. “Saya seperti telanjang bulat, tak bisa apa-apa. Tak ada yang mengontrol atau memberitahu.” Maklum ini riwayat hidupnya sendiri. “’Figlio mio’!” Anak lelakiku, itulah yang diteriakkan dengan menggerakkan kepala yang khas, ‘alla napoletana’, ketika akhirnya menggendong Carlo Ponti Jr.
Tidak persis begitu. Tetapi TVRI juga bisa menemukan apa yang dicari, jika saja tradisi cerita film ini dilanjutkan. Seri biografi macam begini (waktu itu) masih ada seperti riwayat Grace Kelly, Elvis, atau Joplins – kalau dari dunia bintang. Atau dari tokoh-tokoh pahlawan yang diproduksi BBC. Sampai nantinya bisa bikin sendiri. Tapi ini saja dulu sudah baguslah, tak perlu buru-buru. Masih banya khari libur – apalagi kalau Minggu juga diperlakukan sama.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
“MALAIKAT” BENAR-BENAR TERBANG
HIGHWAY TO HEAVEN. Michael Landon, sering jadi bahan cemooh
karena memilih peran sebagai malaikat dalam film seri, Highway To Heaven. Ia
memang suka bertindak aneh-aneh yang dianggap norak. Misalnya, ia memainkan
peranan Amazing Man, jagoan yang bisa terbang menuju Superman.
Dalam episode itu ia menolong seorang anak, Stevie, yang dimainkan Garette Patrick Ratliff yang suka mengkhayal sjeka kematian ayahnya. Jaonathan Smith alias si “malaikat’, seperti biasanya jadi tuan penolong.
Tapi, tekniknya tidak gampang. Ia harus berbaring di sebuah papan yang diangkat oleh ‘forklift’ setinggi tiga meter. Merenggang seperti terbang, lalu dicantelkan dengan tali yang warnanya dibuat sama dengan warna langit, biru. Baru bisa dibuat filmnya, setelah alat berat ‘froklift’ ditarik.
Dari sini dengan teknik ‘superimpose’, digabungkan dengan film mengenai kota Los Angeles, jadilah ia seperti terbang di atas kota. Jadilah ia benar-benar malaikat yang bisa terbang. Hanya saja karena ternyata merepotkan, ia bilang, lain kali ogah adegan semacam itu lagi.
Dok. Monitor – No. 62/I/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar