SETELAH GATOTGACA GUGAT, GILIRAN MASYARAKAT YANG MENGGUGAT

 

ADILUHUNG, BINGUNG. Nyatanya orang Sunda (waktu itu) masih menyukai wayang golek. Mereka suka menonton pertunjukannya di panggung-panggung selamatan atau menekuni kisahnya dalam pelbagai buku komik. Lebih dari itu, mereka pun suka beraksi jika ternyata pertunjukan wayang golek yang konon mengandung nilai-nilai adiluhung itu, malah menyebabkan mereka bingung.

Lahirnya TVRI Bandung ternyata menghembuskan angin baru. Mungkin segar bagi sebagian orang, tapi malah hambar bagi yang lainnya. Frekuensi pertunjukan wayang golek yang selama itu sering dikeluhkan, terjawab dengan seringnya tayangan wayang golek, meskipun (waktu itu) baru menampilkan dalang-dalang tertentu saja.

Sayangnya, kekerapan tidak selalu berarti kepuasan. Orang Sunda tersentak kaget ketik amenyaksikan pertunjukan pengisi waktu yang berlindung di bawah judul Wayang Ketemu Band. Siaran yang ditayangkan TVRI Stasiun Jakarta, pada waktu itu benar-benar menyebabkan masyarakat Sunda mengelus dada. Mereka menyukai wayang golek, tapi bukan jenis seperti itu. Sebagai hiburan jauh dari memuaskan.

Sebagai pertunjukan adiluhung malah membuat mereka bingung. Mau dibawa ke mana sebenarnya wayang golek Sunda itu? Reaksi atas pertunjukan konyol itu bermunculan di mana-mana. Tertera dalam media massa, tersebar dalam gunjingan, kapan saja di mana saja.

Mereka tidak rela, kesenian yang disebut wayang golek itu nyatanya hanya dijadikan alat untuk menampilkan sesuatu yang diharapkan aneh, sebagai akibat menggeloranya hasrat beraneh-aneh dari mereka yang terlibat dalam pertunjukan itu. Mestinya pelbagai reaksi itu dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi mereka yang berwenang menggelarkan pertunjukan itu.

Suara masyarakat Sunda, mulai penonton awam sampai yang dikenal sebagai budayawan, menyesalkan perkosaan atas pertunjukan wayang golek seperti itu. Mereka merindukan pertunjukan wayang golek yang “sebenarnya”, lengkap dengan pelbagai aspek pelengkapnya. Ada hiburan, tak sedikit renungan, bahkan sarat dengan pendalaman atas hakikat kehidupan.

GETOL, GATAL. Jawaban atas reaksi masyarakat itu ialah berupa bertambahnya kekerapan pertunjukan. TVRI Bandung sebagai pos terdekat dengan masyarakat Sunda begitu getol menayangkan pertunjukan wayang golek. Dalangnya pun mulai beraneka. Ada Asep Sunandar, muncul Dede Amung Sutarya, dilengkapi pula dengan pertunjukan Ade Kosasih Sunarya.

Puaskah orang Sunda karenanya? Nyatanya, tidak juga. Mereka tidak puas menyaksikan pertunjukan wayang golek dengan pola tertentu yang selama itu ditayangkan oleh TVRI. Jika sebelumnya, TVRI Jakrata menyiarkan Wayang Ketemu Band, TVRI Bandung pun begitu gatal menyiarkan wayang golek dengan pola “pawongan ketemu raksasa”.

Simaklah pertunjukan wayang golek dengan dalang Ade Kosasih Sunarya yang mengambil cerita Gatotgaca Gugat. Ditayangkan dua kali, masing-masing selama satu jam. Nyatanya, waktu dua kali itu terlalu panjang bagi sang dalang. Pertunjukan pertama hanya menampilkan pertemuan antara para pawongan dengan raksasa, khusus untuk menampilkan pelbagai ‘trick’ sekaligus berupaya memancing ketawa penonton.

Maka, sia-sialah waktu sejam itu. Sebab, tentunya penonton wayang golek tidak hanya ingin tertawa saja. Apalagi jika adegan serta dialognya merupakan ulangan dari pertunjukan-pertunjukan sebelumnya.

Harapan bahwa pertunjukan wayangnya sendiri akan tampil pada pertunjukan kedua, sia-sia juga. Kali ini pun cuma gelak tawa juga yang digali. Meskipun lakonnya Gatotgaca Gugat, sama sekali tak jelas siapa menggugat apa. Kehadiran Gatotgaca hanya diperlukan karena ia disertai para pawongan yang karena kedudukannya “boleh” bersenda gurau baik di kala santai maupun di kala perang.

Mengapa Gatotgaca menggugat, mengapa daerah Pringgandani digugat, hanya melintas sekailas saja. Padahal, barangkali penonton ingin tahu, mengapa Gatotgaca mau-maunya menggugat daerah itu. Malam itu Gatotgaca menggugat. Tapi, penonton pun ikut menggugat, mempertanyakan haknya untuk menikmati pertunjukan yang lebih baik. Nyatanya, nama besar tidak selalu berarti jaminan atas keberhasilan. Apalagi jika polanya begitu-begitu juga. Mengajak gelak, tapi malah muak.

Ditulis oleh: Min Resmana

Dok. Monitor – No. 91/II/minggu ke-4 Juli 1988/27 Juli-2 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer