SETELAH DISALAHKAN DAN MENYALAHKAN, SEMANGAT DIAH ISKANDAR, 1988, MENYALA (NADA DAN IRAMA, TVRI - JUMAT, 29 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)
SEMANGAT Diah Iskandar sebagai koordinator acara Chandra
Kirana (TVRI), kembali terbakar. “Saya ingin membuktikan bisa mengulang sukses
yang pernah teraih,” tutur putri komposer almarhum Iskandar itu. Belakangan
itu, banyak paket Chandra yang tak beda dengan paket musik lain. Padahal, sejak
awal, dia tampil sebagai inovator, pembaharu, di acara musik TV kita, lebih
berjiwa, lebih variatif, dan lebih bagus.
Lantas, satu per satu persoalan muncul. Acara yang diledakkan pengarah acara Hardy Sofyan tahun 1980 itu, akhirnya susut. Bisa jadi karena ‘chromakey’ yang diperkenalkan acara ini sudah jadi biasa. Bahkan daerah lain pun bisa bikin. Tapi, Diah sendiri mengaku, selain fasilitas yang makin dipersempit, juga kerjasamanya dengan kru kurang dijalin.
Banyak komentar terlontar. Diah menyalahkan dan disalahkan. Perubahan-perubahan lain muncul. Acara yang tadinya sekali sebulan itu, surut menjadi sekali 3 bulan. Persisnya tiap minggu ke-5. ‘Chromakey’ dikurangi. Ini menyangkut studio dan waktu rekaman. “Saya hanya bisa menggunakan studio I. Di sanalah ‘chromakey’ dikerjakan. Selebihnya rekaman di studio VII,” keluh Diah.
Dan (belakangan itu), angin surga mulai berhembus. Ini yang membakar semangat Diah. Selain studio II yang sejak awal tempat rekaman kembali bisa dipakai, dengan kru pun tampaknya dia bisa dialog. Saling rembug ide. Seperti yang dilakukan waktu bikin ‘chromakey’ untuk paket kali ini. Hoediono, pengarah acara yang belakangan itu dipercayai menangani paket ini, melontarkan idenya. Diah mengomentari, sampai ketemu persamaan ide.
Hoedy yang pendiam dan murah senyum itu, tampaknya selalu berusah amenunjukkan persyaratan teknis pada Diah, tanpa langsung menggarapnya. Begitu pula juru kamera, selalu mencoba berdialog dengan sang koordinator.
NADA, DANA. Saking meledaknya, Chandra Kirana menjadi acara
yang selalu dinanti. Orang selalu berpikir, apalagi yang akan dimunculkan pada
gelaran berikutnya. Apalagi, pada awal-awalnya, Diah selalu menghadirkan
sisipan unik – macam sajian musik dapur. Tapi, sisipan macam itu jadi makin
sepi. Lagu-lagu yang dimunculkan memang masih pilihan, tapi sebagai sjaian
musik, dia akhirnya tak lebih dari acara musik lainnya.
Bahkan pemirsa sempat pula dikagetkan dengan hadirnya satu acara dari Medan yang berubrik sama. Diah Iskandar sempat sewot. Akhirnya, yang bertahan memang Diah sendiri. Albert T. Youmin, pengarah acara yang menggarap Chandra Kirana versi Medan pun sempat melontarkan komentar. “Aku sendiri nggak ngerti. Disuruh bikin, aku bikinlah.”
Chandra Kirana, jika ingin berdiri tegak seperti
awal-awlanya, memang harus banyak pembenahan. Dari sisi rekaman suara, selain
waktu panjang harus disediakan, menurut Diah Iskandar, hampir satu bulan untuk
merekam 11 judul lagu yang (waktu itu) akan ditampilkan. Tapi, untuk rekaman
gambar, cuma sekitar 3 hari. “Kami belum memakai studio II. Soalnya, waktu
lihat paket Tahun Baru (1988-red) yang digarap di sana, tampaknya ada yang
bocor.”
Mestinya memang tidak sekadar semangat yang terbakar. Chandra Kirana harus membuktikan diri sebagai acara terapik. Dan untuk begini ini, perlu penyusunan program yang matang. Bukan sekadar menyusupkan lagu kaset karena dana terbatas, atau mencari “kambing hitam” jika muncul kesalahan.
Ditulis oleh: Hans Miller Banureah
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar