SEAN YOUNG YAKIN BAHWA DIRINYA HARUS SOMBONG (TENDER IS THE NIGHT, FILM CERITA/TVRI - JUMAT MALAM, 22 APRIL 1988 Pkl: 22.30 WIB)
SIAPA sih Sean Young? Jawaban gampangan: ia main film No Way Out bersama-sama Kevin Costner, yang (kala itu) masih diputar di gedung-gedung bioskop Jakarta kelas tengahan. Atau yang lebih hangat sedikit (kala itu), ia main sebagai istri Michael Douglas dalam film Wall Street, yang mengantarkan Michael meraih Oscar.
Dan kalau mau mengaitkan namanya dengan TVRI, Sean Young adalah pemeran Rosemary Hoyt, bintang Hollywood tahun 1920an, yang juga mencintai Dick Diver, psikiater, dalam miniseri Tender Is The Night. Lama-lama, memang tak hanya data bahwa ia main sebagai ini atau itu dalam film-film ini dan itu. Sean, (waktu itu) 28, adalah aktris yang (ketika itu) punya kesombongan tinggi dan menyadari diri, bahwa ia harus tinggi hati.
Namanya mulai tercatat dalam nota para kritisi semenjak ia main dalam No Way Out. “Tak akan ada aktris lain yang bisa main sebagai Susan,” ucap Sean datar. Maksudnya, kalaupun ada yang bermain sebagai Susan, gendak Gene Hackman sekaligus jadi kekasih Kevin Costner, menurut Sean, tak akan bisa mengungguli kecanggihannya berperan.
Memang angkuh. Tapi biar sajalah. Konon, keangkuhan – atau keyakinan diri – itu ditempa oleh ibunya, Lee Guthrie, penulis biografi Woody Allen dan Cary Grant. Sean memulai karir sebagai bintang film ketika usianya menginjak 19. Lahir dan besar di Ohio, sekolah di Interlochen Arts Academy di Michigan, ia kemudian menembus ke Hollywood. “Aku masuki tlatah Hollywood, dan aku bilang pada mereka, “Inilah aku!”.”
Dan ia kemudian main dalam Stripes, Blade Runner, dan Young Doctors In Love – untuk menyebut beberapa judul. Terakhir (waktu itu), oleh Harper’s Bazaar, ia ditetapkan sebagai salah satu dalam 10 besar cewek-cewek cantik di AS.
KOMPUTER, PRODUSER. Tinggal di sebuah apartemen di wilayah Greenwich Village, Sean punya 2 saudara: Cathleen, (waktu itu) 30 tahun, penulis, dan Donald, (saat itu) 32 tahun, ahli komputer. Mereka, bersama ibunya, tinggal tak jauh dari apartemennya. Keluarga Sean terbilang Istimewa. Mereka, bahkan ayah dan ibunya, hanya sesekali – kalau diperlukan – kumpul-kumpul. Ayahnya adalah mantan produser acara berita televisi.
Sean, konon merasa dirugikan saat harus main dalam adegan singkap-singkapan, termasuk dalam No Way Out. Ketika dulu (jauh sebelum 1988-red) ditawari untuk main dalam 9 ½ Weeks, ia dengan tegas menolaknya, terutama karena buka-bukaan tadi. “Bahkan aku melarangnya untuk nonton film itu,” ungkap sang ibu yang terus memompa ambisi anak-anaknya.
Ucapan Sean bahwa dirinya sangat jijik terhadap adegan semi-nudis itu justru bikin sakit Kevin Costner yang kadung bilang ke hadapan media massa bahwa adegan itu amat dinikmati Sean. Tak cuma Kevin yang pernah dilukai Sean. Juga Charlie Sheen. “Kesuksesan gampang bikin luntur rasa kemanusiaan orang yang sukses itu,” papar Sean perihal Charlie tanpa mencoba merinci macam mana perbuatan Charlie.
Dan Sean tak bakal memaparkannya. Ia tak cukup untuk untuk terlalu cerewet atau mengurusi orang lain. Waktu-waktunya lebih banyak disita untuk belajar menyanyi, dansa, atau membaca Bibel (Alkitab-red), selain melukis. Lebih-lebih, sejak tahun 1973, Sean menjadi penulis untuk sebuah harian.
Sean boleh saja mengritik soal lunturnya rasa sosial orang lain. Toh kenyataannya ia sendiri pun sesungguhnya lebih banyak asyik terhadap dirinya sendiri. “Saya tak pernah prihatin terhadap penyakit AIDS. Jadi tak perlulah aku menyumbang-nyumbang dana. Toh aku tak akan mati karena penyakit itu.” Oh…
Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana
Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar