SAAT REKAMAN ARS, ANAK-ANAK BERJUBEL SAMPAI MEMANJAT TANGGA, PADAHAL LIRIK DAN GOYANG ARTIS BELUM PAS UNTUK MEREKA (ANEKA RIA SAFARI, TVRI PROGRAMA 1 – JUMAT, 7 JULI 1989 Pkl: 20.05 WIB)

 
PENULIS bacaan ini (Hans Miller Banureah) tiba-tiba membayangkan ARS (Aneka Ria Safari, diputar TVRI Programa 1-red) digarap variatif. Misalnya, selagi Sri Maryati mengantar acara, ada gambar artis yang sibuk ber-‘make up’ di ruang rias. Begitu nama sang artis disebut, musik mengalun, si artis bergegas kelaur ruang rias, melangkah di tangga menuju studio.

Manakala dia melwati jubelan pneonton yang bertepuk riuh, tak ada salahnya lagu sudah dinyanyikan. Dan ‘ending’-nya, dia beraksi panggung seperti biasa.

Ini cuma tawaran variasi, ketimbang melihat itu ke itu setiap muncul. Soalnya, ARS pun punya keinginan bikin keren. Buktinya, kelompok Super Kid, juga disyuting di tempat lain. Tak sekadar menampilkan rekaman studio. Ini pekerjaan yang menambah nilai untuk Sofyan dan kawan-kawan sebagai kru penggarap.

 

Tapi, situasi penonton yang makin membludak, terutama dua kali rekaman terakhir (belakangan itu), patut juga diperhitungkan. Lebih dari separuh penonton adalah anak-anak (era itu). Yang bermain-main di depan kamera ketika syuting berjalan. Yang memanjat piano dan jingkrak-jingkrak, atau yang lebih serius lagi, anak-anak (era itu) yang duduk atau berdiri memanjat tangga menuju ruang ’master control’.

Ini tentunya selain mengganggu lalu lintas kru, juga berbahaya kalau sampai jatuh. Bisa jadi, jumlah anak-anak kecil (era itu) ini karena hari libur sekolah.

Tapi, kalau mau dikomentari, rasanya kasihan membawa anak-anak (era itu) tersekap berjam-jam di studio yang ber-AC tinggi dan penuh goyang genit penari-penari latar, serta mendengar lirik-lirik lagu yang (waktu itu) belum pas untuk telinga mereka. Ini jelas salah orangtua yang bawa. Atau keamanan juga perlu melakukan seleksi (lebih) ketat lagi soal klasifikasi penonton?

BAHAYA. Anak-anak (era itu) yang memanjat tangga untuk menyaksikan rekaman ARS bisa berbahaya. Kalau sampai jatuh? 

Sisi penggarapan ARS kali ini lumayan menarik. Selain lampu yang mulai terasa tertata, juga pentas yang tak hadir seadnaya. Ada hasil kerja yang kelihatan, cuma masih tertangkap kekurangan komunikasi. Misalnya, dengan bentuk panggung yang bertingkat dan relatif kecil, sangat berpengaruh pada kehadiran kelompok Billborad All Stars yang puluhan orang. Mereka tak bisa banyak gerak.

Begitu pula saat kemunculan Super Kid yang memboyong peralatan seabreg, akhirnya mengurangi ruang gerak. Deddy Stanzah dan Deddy Dores yang masing-masing memainkan bass dan gitar tak bisa bergerak banyak. Akhrinya, diatasi dengan penggunaan ‘mic’.

Mumpung (waktu itu) belum lama berselang, pada ARS bulan Juni 1989 lalu, ada hal-hal yang pantas diingatkan. Kayaknya, untuk penulisan nama pengisi perlu ketelitian yang lebih. Ada dua nama yang dicatat M. (Monitor) jadi berubah: Emilia Contessa jadi Emillia Contessa (dua “l”) dan Elpamas jadi El Famas. Nah, lho!

Nama penyanyi/judul lagu (di Aneka Ria Safari edisi 7 Juli 1989):

Maryam Mustafa – Siapa

Soraya – Layik Alaik

Super Kid – Gadis Bergelang Emas*

Ayu Soraya – Apa Adanya

Tutty Minarti – Jangan Main Api

Vivi & Solid AG – Bulan Madu Ke Desa

Annie Carera – Malam 1000 Tahun*

Furry Rahayu – Mas Bambang

Chrisye, Rafika Duri & Trio Libels – Hening **

Billboard All Stars – Esok Penuh Harapan **

Dian Piesesha – Pernahkah Kau Berdusta *

Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer