RONA-RONA HATI MARINA, HATI YANG TERUS-MENERUS LUKA (FILM CERITA AKHIR PEKAN, TVRI - SABTU, 20 AGUSTUS 1988 Pkl: 22.30 WIB)

TENAR. Meski pahit dan getir jalan hidupnya, toh Marina (Camelia Malik), kiri, sempat juga menjadi bintang tenar. Seseorang (figuran) selalu menguntitnya

MASALAH paket akhir pekan, belakangan itu hangat lagi. Perkaranya bukan lantaran paket yang ditayangkan mutunya kelas dua. Tetapi masih berkisar soal itu-itu melulu, yakni penggusuran yang dilakukan tiba-tiba. Jika perihal itu dikemukakan secara mencolok, bisa jadi akhirnya menjadi problem basi atau kritik yang usang.

Namun, apabila dibiarkan begitu saja, lama-lama pemirsalah yang terus dirugikan karena terkecoh. Dan pihak penyelenggara siaran pelan-pelan (waktu itu) akan kehilangan kepercayaan. Bila sederet dosa atau setumpuk catatan soal gusur menggusur itu dibeberkan di sini. Rasanya terlalu cengeng. Namun, tidak pula dipungkiri, bahwa paket akhir pekan untuk 20 Agustus 1988 terjadi silang pendapat yang bisa-bisa merugikan banyak pihak.

Sampai detik terakhir yang akan ditayangkan adalah film Selubung Hitam – dengan pemeran utama Sitoresmi. Toh, detik paling akhir, mencuat film Rona-Rona yang dibintangi Camelia Malik dan Harry Capri.

Kenapa tak ada kesepakatan? Beberapa sumber M. (Monitor) menyebutkan film Selubung belum 100% selesai. Bahkan ada adegan yang mesti diulang. Sedangkan film Rona-Rona tidak ada ‘problem’. “Kami siap putar. Hanya tinggal pasang huruf nama-nama pemain dan kru. Pokoknya sudah oke,” cetus sumber berita itu.

Katakanlah Rona-Rona yang diputar. Maka, ada yang patut diperhatikan dengan seksama. Pertama, karena cerita-skenario ditulis artis Rita Zaharah. Kedua, melalui Rona-Rona, Rita mencoba jadi sutradara. Magang gitu. Dia mendampingi sutradara muda (era itu) produk TVRI, Lambinsar.

Sebagai penulis skenario, (sampai saat itu) sudah dua tiga kali karya Rita diproduksi TVRI. Tapi, keinginan sebagai sutradara adalah impian dia sejak lama. Merupakan pula bagian dari ambisinya. Demikian pun cita-cita jadi sutradara tidak lain ialah langkah akhir dari perjalanan panjagn karir seorang aktor-aktris. Tidak heran muncul ungkapan klise; seorang bintang yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pasti mengidamkan jadi sutradara.

Sebab, terdapat anggapan kalau pangkat tertinggi dipegang profesi itu. Hasil Rona-Rona? Lambinsar maupun Rita (waktu itu) masih perlu diuji. Andai kata Orna-Rona karya pertama mereka, praktis tidak memenuhi standar. Biasanya karya pertama mencerminkan banyak hal, plus dikerjakan dengan semangat habis-habisan.

Titik lemah film produksi TVRI ini, terpatri pada naskahnya. Terus terang, naskah Rona-Rona tidak ada apa-apanya. Gagasan yang ingin diketengahkan sudah jamak. Tidak memiliki getaran yang menggugat, selain sekadar mengumbar kecengengan yang teramat naif. Bagaimana nggak naif bila sosok Marina (perempuan) yang digambarkan makhluk lemah) kerjanya cuma kawin-cerai dan beranak? Tentu penulis skenario berpihak pada Marina, tapi kok kelewatan sekali?

Duka nestapa yang dipikul Mairna sungguh di luar jangkauan. Kepiluan dan kepedihan hati perempuan itu ibarat pepatah. “Sudah jatuh, tertimpa tangga melulu.”

Marina adalah penyanyi yang lagi meniti karir. Tidak disangka, jalan hidupnya terelincir. Ia kesengsem sama Boy – pemain band – sampai akhirnya melangsungkan pernikahan. Mulanya mereka bahagia. Begitu punya satu anak, badai datang. Ternyata, Boy sudah lama beristri, bahkan punya 3 orang anak. Yang terjadi dalam cerita berikutnya, merka pisah. Boy kembali ke istri tuanya. Marina berasma Rino – anaknya – mencoba mandiri. Menyanyi lagi pada sebuah ‘pub’.

Supaya tambah sedih, diceritakan juga ibu kandung Marina meninggal dunia. Babak selanjutnya, hadirlah seorang wartawan bernama Sandi. Sandi ini berasal dari Yogyakarta, dan hijrah ke Jakarta.

Pasalnya, menghindari perjodohan yang sudah ditetapkan orangtua – Sandi menolak untuk menikah dengan gadis ningrat. Singkatnya, Marina-Sandi saling berkenalan. Lantas mereka menikah. Perkawinan mencapai satu tahun (Marina hamil delapan bulan), “topan” datang lagi. Kakak Sandi, Midar, melabrak Marina.

Pokoknya, kisah Rona-Rona serba sedih. Rumah tangga Marina berantakan. Ia ditinggalkan Sandi dengan hati yang luka, meski ia hidup dalam keadaan esesrba kekurangan. Pada babak yang lain divisualkan pula bagaimana Sandi dan kakak permpuannya, Midar, saling bertentangan.

Midar nggak setuju kalau Sandi menikahi perempuan yang tak memiliki trah. Sebab, hal itu bisa merusak martabat kelaurga. Kisah sedih makin emnjadi-jadi tatkal aibu Sandi meninggal dunia. Terus kian berkepanjangan saat-saat Sandi tidak mampu melupakan Marina. Dicarinya Marina, tapi susah ketemunya.

Di akhir film ini, mereka (Sandi-Marina) berkumpul kembali, Marina malah jadi bintang film tenar. Sedangkan Sandi menempati jabatan penting dalam suatu penerbitan surat kabar. Dan pertemuan mereka begitu haru. Sandi baru sadar kalau benih yang dikandugn Marina telah tumbuh. Ia jadi gadis mungil bernama Ratih.

Begitu kecengengan Rona-Rona. Begitu langkah yang diayunkan Lambinsar dan Rita Zaharah. Namun, secara seksama dapat diperhatikan bahwa sedikit sekali sutradara wanita yang kita punyai. Rita – satu di antaranya – yang ingin mewakili.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

RONA-RONA

Marina – Camelia Malik

Sandi – Harry Capri

Hartyoyo – Piet Pagau

Bu Sukri – Dien Novita

Bi Inah – Rina Hasyim

Boy – Mark Sungkar

Dahli – Boby Silvia

Malisa – Ritawaty

Wati – Lia CHaidir

Ibu Sandi – Rita Zaharah

Alex – Anton Indracahyo

Jemmy – Firman Nurjaya

Herman – Chaidir KR

Tukang kebun – Herman Ngantuk

Bakar – Zainudin Idris

Sutradara: Lambisar & Rita Zaharah

Cerita/skenario: Rita Zaharah

Produksi: TVRI Pusat Jakarta

Batas usia: 17 tahun ke atas

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer