ROCKET RCTI MEROKET, ASAL IDENYA TAK MAMPET
MINIM. Di tengah gebalau kritikan ke RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), Rocket terus mengudara. Sebuah sajian yang lumayan menarik muncul minggu kedua Desember 1989 lalu. Jeffry Daniel Waworuntu tampil berdua dengan “adik” yang diberi nama Jupri.
Mereka tampil berdua dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Jeffry (waktu itu) masih dengan gayanya yang meletup-letup, reaktif, dan sedikit bombastis, sementara Jeffry muncul dengan kemayu, malu-malu, dan manja. Agak kebencongan-bencongan.
Pasangan tetapnya, Gladys Suwandhi tak hadir lantaran (waktu itu) sedang ujian. Sabtu, 2 Desember 1989 ini, Rocket telah mengudara sebanyak 1 kali sejak penayangan pertama pada 5 Agustus 1989 silam. Beberapa kali mengalami perubahan bentuk dan juga pembawa acaranya. Sebelum Gladys, ada Andriani Shanty Sentanu yang akhirnya keluar karena harus ke Eropa.
Nama Rocket ini sendiri diusulkan oleh Scott L. Gregory (Syarif G-red) yang (belakangan itu) menjadi produser pelaksana. Ia yang mengatur skenario bagaimana harusnya Rocket itu meroket. “Nama itu melambangkan pada satu kekuatan dan berkecepatan tinggi,” kata Scott. “Tapi, nama itu bisa juga merupakan permainan kata. Rock sebagai terminologi musik, ‘rocket it’, mengguncang. Jadilah Rocket.” Agak berbau ‘slank’.
Maka mengudaralah Rocket tiap Sabtu pukul 17.30 WIB.
Layaknya sebuah persiapan, tentu Rocket ini pun digodok dulu sebelum ditayangkan,
atau sambil berjalan bisa mengalami perbaikan. Maka menurut Uki Siti Chaerani
Purbasari Djalal (“Karena kepanjangan, panggil saja saya Uki,” katanya) yang bertindak
sebagai ‘executive produser coordinator’ menjelaskan.
“Tujuan utama penayangan acara ini adalah membuka wawasan masyarakat tentang musik internasional. Konkretnya, muncul dalam pemilihan lagu-lagu non-Amerika. Selama ini khan pemirsa sangat ‘America minded’.”
Tampaknya, kita tak bisa memaksa mereka untuk memperbanyak pemunculan artis atau musisi Indonesia, karena musisi dari non-Amerika lainnya harus kebagian jatah. Tapi sialnya, maksud Uki tak mampu diterjemahkan dengan baik oleh Jeffry. Bagaimana bisa membuka wawasan masyarakat tentang musik internasional kalau pembawa acarnaya saja begitu minim pengetahuan musiknya?
Kesalahan pernah dibuat oleh Jeffry, misalnya seawktu ia menyebut ABWH (Jon Anderson, Bill Bruford, Rick Wakeman, dan Steve Howe) sebagai kelompok Yes. Kalau disebutkan sebagai mantan-mantan Yes, baru benar. Selain itu, disebutkan pula bahwa Bill Bruford sebagai anggota yang masuk paling belakang. Padahal Bill adalah salah seorang penggagas kelompok ini dan ia (malah) juga salah seorang pendiri Yes.
Kesalahan kecil saja, menyangkut data, tapi fatal. Bagaimana nantinya kalau ia harus menjabarkan bentuk asal musik satu grup, atau harus menganalisa musik? Bukan mwawasan masyarakat bertambah luas, tapi bikin celaka. Berani taruhan, Jeffry pasti tidak kenal Bernie Taupin. Jadi, bila Jeffry mewawancarai musisi atau artis kita dengan pertanyaan yang mentah-mentah, harap maklum saja.
Toh kita saksikan bagaimana kakunya ia ngobrol dengan Ruth Sahanaya. Salah satu penyebabnya karena, “Saya membaca ‘Rolling Stone’ untuk menambah wawasan saya.” Kalau hanya itu perbendaharaan yang diandalkan Scott sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi untuk penentuan Rocket berikutnya. Itu tandanya “lampu merah” untuk Rocket itu sendiri.
BIKIN. Untungnya, Uki cepat tanggap dengan permasalahan itu. “Ya, kami menyadari kekurangan. Saya tak tahu harus bagaimana acara mengubah gaya Jeffry. Ia tampaknya memang ‘over’ dalam penampilan. Padahal, orang yang kita perlukan adalah yang bisa mengangkat Rocket secara keseluruhan.
Saya sudah bilang berkali-kali, bahwa kita harus merupakan ‘teamwork’ yang kuat, bukan maju untuk diri sendiri,” ungkapnya dengan antusias. Tak hanya itu, malah, “Kalau di layar tampak Gladys cemberut dan kesal karena perlakuan Jeffry, itu betulan, lho. Nggak dibikin-bikin,” tutur Uki lagi.
Tampaknya, Rocket memang (waktu itu) masih perlu perbaikan. Seperti kata Sofyan Ali yang banyak mengamati acara ini. “Acaranya jadi begitu timpang ketika perpindahan penyajian ‘video clips’ barat ke ‘video clip’ produk kita. Baik dari mutu gambar, ‘sound’, maupun adegannya, RCTI perlu memberi ganjelan yang lebih manis lagi.
Tentu sambil memperbaiki mutu produksi. Dengan Rocket, RCTI (waktu itu) masih punya banyak waktu untuk memperbaiki ‘teamwork’ ataupun mutu siarannya. Dan (harapan waktu itu) semoga beberapa minggu (yang waktu itu akan datang) ini, perbaikan itu tercermin.
Ditulis oleh: Ramadhan Syukur
Dok. Monitor – No. 167/IV/Minggu, 17 Desember 1989, dengan sedikit perubahan
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar