"ROCKERWATI" ITA PURNAMASARI DIBANYOLI BENYAMIN (ANEKA RIA SAFARI, TVRI - JUMAT, 15 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

Benyamin S.

NASIB rockerwati – kalau istilah serampangan ini dipakai untuk menunjuk penyanyi rock wanita – tidak terlalu ber-‘ster’ di jagat musik kita. Terutama di dunia rekaman yang menjadi adem, sekurangnya jika dibandingkan dengan jenis pop atau dangdut. Mungkin salah satu alasan karena TVRI sebagai media promosi (waktu itu) masih malu-malu.

Kalau ada yang sempat melejit keras macam Euis Darliah, Sylvia, dan Anggun C. Sasmi, karena lebih banyak mendapat kesempatan. Padahal, masih banyak nama andal lain, seperti Ayu Wedayanti, Chetty Wulansari, Riza Rasio, yang bercokol di Surabaya. Lalu ada lagi Rose Kusumadewi. Masih dari kota buaya, muncul satu nama lagi, Ita Purnamasari, dan dari Bandung, Yossie Lucky.

Sejak Euis Darliah dan Nicky berhasil di dunia rekaman kaset nama-nama rockerwati makin kelihatan di kancah msuik cadas. Produser rekaman juga cepat tanggap dengan situasi. Yossie Lucky, Anggun, dan Ita Purnamasari, pantas dibanggakan. Yossie lewat album Tabrak Lari, mulai mencoba eksis (waktu itu), memahami benar-benar dunia macam apa yang digeluti. Lalu Anggun, bisa dibilang hampir jadi. Remaja (era itu) yang tiap penampilan menunjukkan kemapanan ini, selalu memukau.

 

Ita Purnamasari

Ita Purnamasari, sejak serius ditangani Arthur Kaunang, tahun 1984, semakin menunjukkan kematangannya. Lewat lagu Penari Ular, ciptaan Arthur, dia muncul prima. Tarikan suara berat, kadangkala memecah membuat warnanya makin pas. Tempaan Arthur, pencabik bass di grup cadas SAS itu cukup memadai.

Maka, jangan kaget, jika dalam waktu dekat (stelah bacaan ini dimuat Monitor-red), warna rock makin diberi peluang, remaja-remaja (era itu) ini (waktu itu) akan makin jadi dan melebihi kemampuan pendahulunya. Dibanding penyanyi karbitan, mereka ini sebetulnya punya kelebihan.

Mereka lahir dari gojlokan yang keras. Berangkat dari panggung-panggung yang bisa membentuk kematangan. Jangan heran, di balik kecadasan lagu-lagu yang dibawakan, mereka punya vokal yang ampuh.

Lidya Natalia 

Pada ARS kali ini, selain Ita, juga ada Benyamin S. Menyanyikan lagu ciptaan Pompi berjudul Janjian. Tak perlu dikomentari, si Ben pasti hadir dengan segala banyol dan konyol. Orkes Moral Pengantar Minum Racun (PMR) yang tahun 1987 lalu melambung lewat lagu Judul-Judulan, kali ini menyanyikan Pancaran Itu Apa Sih ciptaan Kuntet.

 

Ervina 

Keinginan mengulang sukses tahun 1987 lalu, rasanya jenuh. Lagu mereka memang sama-sama konyol, tapi tak punya gigitan seperti Judul-Judulan. Ervina, hadir lewat judul Hatimu Bahagia, ciptaan Elfa Secioria/Inggrid W. Pencipta, tampaknya sengaja mencipta lagu ber-‘beat’ cepat untuk putri Surabaya ini. Tapi kadang-kadang pengucapan kata per katanya tak enak didengar.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Penyanyi/judul lagu (dalam Aneka Ria Safari edisi 15 Januari 1988): 

1.       Ita Purnamasari – Penari Ular **

2.       Hamdan ATT – Cerita Cinta *

3.       Lidya Natalia – Biasanya Kau Berterus Terang *

4.       Hanny Tuheteru – Mataku Berbicara

5.       Ratna Juwita Sari – Keringat Dingin

6.       PMR – Pacaran Itu Apa Sih

7.       Betharia Sonatha – Hati Yang Luka

8.       Tommy J. Pisa – Di Batas Kota Ini *

9.       Ervina – Hatimu Bahagia *

10.   Benyamin S. – Janjian *

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer