RITA MATU MONA (GELAS RETAK, SEPEKAN SINETRON/TVRI - SENIN, 29 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.35 WIB)

 
RITA Matu Mona, biasa dipanggil Ita, (saat itu) 29 tahun, bergabung dengan Teater Koma, Jakarta, sejak 1980. Keterampilannya dalam berteater tentu saja berkat semangatnya yang tak pernah mengendor. Bahkan saat ia harus memilih antara kerja kantor dengan berkarya lewat teater, ia tetap memilih yang terakhir.

Apakah bisa buat hidup? “Tergantung kita saja. Kalau memang ada niat untuk mengembangkan dan tidak fanatik hanya pada satu kelompok saja, saya kira tidak ada masalah.” Berpikir demikian, Ita akhirnya juga mencoba ikutan mengurusi teater yang diadakan oleh Direktorat Kesenian. Nggak ikut film? “Apa pantes, ya? Saya ini khan tidak punya tampang. Kalau main film hanya sekadar lewat sih, mending tidak sekalian.”

Cewek yang masa kecilnya pernah bercita-cita jadi presiden ini biasanya mendapat peran lucu, tapi untuk Gelas, ia mendapatkan peran serius. Makanya, kesempatan ini ta kia lewatkan begitu saja. Ita punya kebiasaan menyelipkan rokok di bibir saat harus menghafal atau mendalami cerita. “Sebenarnya saya benci rokok.”

Tapi, ya sudahlah. Yang penting, saat itu, Ita sedang konsentrasi latihan karena (waktu itu) akan pentas dengan lakon Sam Pek Eng Tay, di Gedung Kesenian Jakarta, dari 27 Agustus 1988.

Ditulis oleh: Gregorius “Gege” Sarsidi

Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer