RETNO INTANI
JEPANG, TANTANG. Bagi Retno Intani Za, (saat itu) 29 tahun, air membawa berkah. Bukan saja lantaran di kantornya, TVRI Yogya, saban hari Ia (belakangan itu) meneguk air putih yang konon bisa bikin sehat, tetapi juga disebabkan paket garapannya, Air Sumber Kehidupan, mendapat ‘Special Prize’ pada ‘Japan Prize Contest in the TV Category’.
Kemenangan yang diraihnya dua tahun (yang saat itu telah) lewat (1986-red) itu, memang tidak menjadikannya dolan ke Jepang, misalnya untuk mengambil hadiah.
“Yang pasti, prestasi itu menuntut tanggung jawab. Menantang saya untuk selalu belajar dan menambah wawasan,” ujar pengarah acara Profil Budayawan (TVRI Yogya) yang sering dipuji orang itu. Retno yang punya NIP 050033927 ini, memang tidak mimpi terbang ke “negeri Sakura”, meski akhirnya, Mei 1988 lalu, ia berangkat juga ke sana. “Nggak ngerti, kenapa kok saya yang ditunjuk?”
Dia berangkat mewakili TVRI, mengikuti proyek ASEAN Documentary Film-ABU (Asia Pacific Broadcasting Union). Di sana ia didapuk jadi produser – kalau di sini semacam pengarah acara. Itu sebabnya, September 1988 nantinya dia berangkat lagi, setelah tempo hari ‘hunting’ lokasi selama sebulan.
“Kami ingin mengekspos sisi-sisi kehidupan tradisional di tengah kemajuan teknologi Jepang. Tentang pola hidupnya, tentang petaninya, adat, dan juga seni kerajinan. Benturan yang terjadi, tampaknya menarik disajikan,” jelas wanita yang (waktu itu) bleum mau berterusterang kapan naik pelaminan ini.
Tema begituan baginya tidak terlalu asing, untuk tak menyebutnya akrab. Setidaknya, pengalamannya mengelola acara Lembar Sastra Budaya dan Profil Budayawan –termasuk garapannya tentang budayawan Romo Mangun yang baru-baru itu ditayangkan TVRI Pusat – merupakan “guru” yang baik. Di situ, Retno cukup sering kena damprat dan kritik, baik dari pemirsa maupun obyek garapannya. Kupingnya terlatih menjadi “merah”.
“Terhadap seniman dan budayawan, kita memang harus sabar. Mereka kritis dan kreatif. Tetapi saya khan harus tahu diri. Biar bagaimana, saya ini khan aparat pemerintah. Jadi, kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang rada minor dari mereka, saya musti hati-hati mengendalikan,” ujar Retno yang karena “mengendalikan budayawan” pernah “disemprot” di muka banyak orang oleh tokoh yang diprofilkan.
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 87/II/minggu ke-1 Juli 1988/29 Juni-5 Juli 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar