RETNO DWIASTUTI (TANAH MERDEKA, TVRI YOGYA - SELASA, 26 JANUARI 1988 Pkl: 20.00 WIB)


MESKIPUN cita-cita menjadi penerbang tidak lagi diidamkan, JE Retno Dwiastuti alias Wiwis, kesampaian bertandang ke Madiun. Di sana, wanita kelahiran Surabaya, 7 Maret 1969 ini, bisa memelototi berbagai jenis pesawat terbang. “Sekalipun terpaksa membolos sehari, kesempatan itu tidak saya sia-siakan,” ujar siswi SMA Stella Duce, kelas III A-3, Yogya (era itu).

Bisa melongok wilayah eksklusif kayak di Madiun itu, memang merupakan “bagian enaknya” ikutan kru Tanah Merdeka. Kecuali itu, “Jadi tambah pengalaman dan bisa ngobrol dengan para tokoh.”

Paling tidak, sampai Tanah Merdeka ke-6, dia sudah mewawancarai Sarwo Edi Wibowo, SP Paku Alam VIII, dan Hilman “Lupus” Hariwijaya. Yang (waktu itu) belum terlaksana, ngobrol dengan tokoh idolanya: Fuad Hassan. Penggemar es teler dan bakso ini bilang, “Wawancara dengan pejabat atau intelektual enak, deh. Bisa improvisasi dengan pertanyaan spontan, dan mereka langsung tanggap.”

Yang menyebalkan, menurut anak kedua dari empat bersaudara keluarga Drs. IM Suyoko ini, “Kalau menghadapi tokoh yang maunya formal, terlalu banyak unggah-ungguh, bikin kaku.”

Komentarnya tentang kekeberatan di Tanah Merdeka? “Belum 100% solid. Idealnya, memang harus kompak. Tapi berhubung tempat tinggal kami berjauhan, dan masing-masing merasa top, jadinya semua merasa super. Gampang muncul kecemburuan.” Wiwis yang di sekolah rangking ke-2, terpilih menjadi kru TM setelah berhasil menyisihkan 51 kawan sekampus.

Penggemar warna putih yang merasa gemes setiap melihat alis tebal ini tidak merasa dirinya terlalu Istimewa. “Cuma mata yang nggak beres,” seloroh Wiwis sambil membetulkan letak kacamatanya yang (waktu itu) minus tiga per empat.

Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer