REMAJA DAN MURID SMTA DISAMAKAN DI BAHANA REMAJA SURABAYA (TVRI SURABAYA, TIAP KAMIS KE-3)

ARSITEK. Salah satu isian Bahana, wawancara dengan Ir. Soejasmono, arsitek Tugu Pahlawan Surabaya

MEMASUKI produksi ke-21, Desember 1987 ini, Bahana Remaja (TVRI Surabaya) masih menyisakan kelemahan. Dari segi pra-produksi, rekaman, sampai penyiar pembawa acara. Belum lagi ditambah kegiatan lain yang melingkupinya, seperti aktivitas kru dan perizinan.

Menilik namanya, Bahana memang sebuah acara dari dan untuk remaja. Tema-tema yang diangkat, berkisar soal remaja putus sekolah, upaya mengangkat prestasi, pemberantasan penyalahgunaan narkotika, sampai pembangkitan nasionalisme. Gambaran jelas, kira-kira seperti Temu Remaja TVRI Stasiun Pusat atau Tanah Merdeka-nya TVRI Yogyakarta.

Spesifikasi secara nyata adalah: pembawa acara atau sebagian pengisi yang dilibatkan pelajar-pelajar SMTA (era itu). Semestinya memang diwarnai canda ria atau kepolosan model remaja (era itu). Apalagi dunia sekolah memang sudah kepalang dibilang sebagai masa-masa indah.

Tapi ternyata kriteria seperti itu tak mampu berjalan semestinya. Atau kesesuaian dengan judul acara, malah boleh dibilang, keharusan mencari membikin kesulitan. Lagi-lagi, ini persoalan kemampuan membuat. Jamak dan lumrah, terjadi di hampir semua stasiun siaran kita.

Pembawa acara, juga masalah khas stasiun daerah lebih-lebih kalau kecakpaannnya – melakukan wawancara, memberi variasi isian, serta imajinasi adegan – tidak pas. Betapa kedodorannya Bahana. Betapa berbedanya membuat sesuatu yang semestinya alamiah terjadi dalam diri remaja, kemudian jadi serba sulit lantaran dibikin-bikin. Kaku.

Dulu (jauh sebelum 1988-red) memang pernah ada seorang pembawa acara yang lumayan bagus. Yang diambil berdasarkan pemilihan atas wakil-wakil kiriman tiap sekolah yang dihubungi TVRI Surabaya. Banyak yang hadir, tak sedikit pula yang berpotensi. Tapi soal penampilan? Nanti dulu. “Sekolah-sekolah kadang tidak ngerti maunya TV. Yang mereka kirimkan hanya mengandalkan kepinteran,” kata Kendro, salah satu di antara beberapa pengarah acara yang sering menangani Bahana.

Batasan sekolah pun jadi pengikat. Pembawa acara bersangkutan tak dipekerjakan lagi, mengingat sekolahnya sudah tamat. Penggantian harus dicari, dan harus mengawali dengan proses yang sama. Begitu dan begitu, seterusnya. Kesulitan berulang kembali.

TIAP KALI. Kekurangsiapan pengisi, bisa dimengerti, kalau itu dihdaapkan pada kemepaetan waktu produksi, miskin latihan, atau jadwal rekaman yang sering berbenturan dengan kegiatan sekolah. Nah. Kecuali itu, kesulitan acap muncul dari pihak pelaksana. Waktu yang tersedia sekitar 15 hari rata-rata, pun sering untuk 2 paket secara susul menyusul. Bisa dihtung, berapa bagian untuk cari pengisi, produksi, berapa bagian untuk ‘editing’.

Mungkin tak terlalu soal, kalau semua yang terlibat sudah jago di bidang ini. Tapi mereka? Jalur tema yang datang dari pihak TV, kemudian diserahkan ke calon penggarap, untuk dicarikan kelengkapannya, secara umum (waktu itu) sudah cukup bagus. Ada profil tentang pelajar STM yang mencari biaya dengan mengayuh becak atau jadi tukang batu.

Ada juga pembahasan tentang bahayanya anak-anak muda (era itu) bersepatu roda di jalan raya dengan berpegangan pada ‘bumper’ belakang sebuah mobil, wawancara dengan eks-pejuang peristiwa 10 November, atau penyobekan bendera di Hotel Oranye, Iskandar Yasin, dan Ir. Soejasmono, atau obrolan dengan seorang pleukis. Barangkali semuanya merupakan tema yang lebih dari menarik.

Apalagi kalau rencana kemudian diwujudkan. Omong-omong dengan Menteri P dan K Fuad Hassan, Menteri Negara KLH Emil Salim, atau tokoh-tokoh penting lain. Juga, pembagian persentase yang semula 40% pendidikan dan 60% hiburan, tapi (belakangan itu) dibalik, bisa jadi pangkal, mengapa Bahana terasa kurang greget.

Faktor pembawa acara pun bisa dibicarakan lebih banyak lagi. Ria Enes, (kala itu) pelajar SMA yang juga penyiar radio Carolina, Surabaya, sesekali juga dibantu Glemboh yang eks-finalis ‘coverboy’ majalah MODE, tak sepenuhnya berkemampuan. Lantas, bagaimana?

Belum lagi pertanyaan terjawab alias beban teratasi, muncul kesulitan lain, yakni dari segi penyelenggaraan. Tayangan di bulan November 1987 lalu, dengan lokasi syuting di taman sekitar Tugu Pahlawan, adalah contohnya. Pintu taman terkunci, padahal syuting harus di situ. Pihak pemda merasa belum dihubungi oleh TVRI. Apalagi menerima surat izin.

Jadinya, banyak orang terherna-heran saat pengambilan gambar berlangsung. Para pemakai jalan menghentikan kendaraan, lantas menonton. Alhasil, lalu lintas pun macet. Turunlah pengarah acara jadi petugas lalu lintas, mengatur lajunya kendaraan, dan menegur penonton tak diundang yang melototkan mata ke arah kamera.

Mengherankan? Lumayanlah. Kemudian, persoalan berikut adalah perluasan isian. Bukan apa-apa, karena sampai Januari 1988, trubadur beken Leo Kristi, ataupun Gombloh, yang sudah membuktikan nasionalisme, belum pernah hadir sebagai pengisi acara. Itu kalau mau konsekuen dengan upaya membangkitkan nasionalisme, lho. Juga penyempitan pengertian “remaja” menjadi sekadar “Tingkat SMTA”, rupanya menarik dipersoalkan. Betapapun kalau mau konsekuen dengan judulnya.

Akhirnya, tak lebih tak kurang. Bahana (waktu itu) masih butuh perbaikan. Itu pun rasanya mustahil, kalau setiap kali harus berganti, lantaran pembawa acara telah mengakhiri masa tugas. Tak berlebihan rasanya, kalau di hari-hari nantinya kita menuntut, Bahana akan semutu tayangan-tayangan lain, terutama dari jenis musik. Bukankah (waktu itu) masih tersedia lahan subur sekian luas untuk di-Bahana Remaja-kan?

Ditulis oleh: Slamet Riyadi

Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer