RATNA DEBBY: "TOKO SEPATU" (LOSMEN, TVRI - KAMIS, 14 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

IBET, nama akrab Ratna Debby, (saat itu) 27 tahun, tinggi-berat (waktu itu) 167-57, pemeran bu Karim dalam Losmen (TVRI), kawin di usia 21. Setelah putranya berumur 5 bulan, tahun 1983, ia cerai. Menjandalah dirinya. “Begitulah gosip. Begitulah janda, ada yagn bilang, saya dipiara. Daripada dipiara, mending saya ajak kawin saja.”

Belum dapat (waktu itu), ya? “Nggak ada yang mau sama saya.” Ah, ah, ah. Dan sementara menunggu kesempatan, Ibet, setelah mengantar-jemput putranya sekolah, selain sibuk syuting film, ia menjaga toko sepatunya. (Soal daya tariknya, di hal. 10 Monitor No. 63/Tahun II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988).

RATNA DEBBY TAK LAGI BERADEGAN RANJANG. SUMPAHNYA DIOMONGKAN DI SEBUAH MAKAM

GAGAL. Ratna Debby mendekap Reza, anak dari buah perkawinan yang gagal 

BARU, BERI. Ratna Debby tak menyangka watak suaminya yang (saat itu) sudah berumur itu ternyata (waktu itu) masih “kanak-kanak”. Tidak pernah “dewasa” dan tidak pernah mandiri. “Saya malu, masa sudah beristri kok masih ‘netek’ pada orangtuanya?” Karenanya, perkawinannya tidak bisa lagi dipertahankan. Dan ia melarikan diri dari rumah mertuanya. “Lebih baik saya cerai saja deh!”

Nggak kesepian? “Seorang wanita tidak begitu gatal masalah seks, kecuali wanita hiperseks,” jelas lulusan SKKA ini. Perkembangan Reza, sang putra, tanpa papa? “Reza agak nakal dan manja. Saya hanya memberi pengarahan. Saya kira itu sudah cukup.”

Katanya, anak 1988 kritis-kritis. Pernah ia mencoba mencarikan papa baru untuk Reza. Namun, begitu ketahuan lebih jauh tentang identitas lelaki itu, Ibet ogah meneruskannya. “Ia sudah beristri dan beranak,“ tutur anak ke-8, H. Bagindo Amir ini. Ia tidak mau mengulang perceraian untuk kedua kalinya.” Trauma? “Trauma sih tidak, saya memang harus kawin lagi.”

Keinginan untuk kembali membina rumah tangga, itu bukan semata-mata untuk menghapuskan kesepian anaknya dna kesepiannya sendiri, melainkan lebih dimaksudkan untuk menanggulangi serbuan desas-desus mengenai kejandaannya.

Tapi, sebelum menemukan jodoh, kegelapan demi kegelapan akan ia lalui saja. Sebab, baginya tidak ada prinsip untuk berkeluh kesah terhadap orang, walaupun dalam keadaan sedih. “Biarpun saya janda, saya tidak mau jadi pengemis. Semangat inilah yang membuat saya mampu berdiri sendiri. Tapi orang iri melihat saya,” jelas pengagum bung Karno (Presiden Sukarno-red) ini. Padahal, katanya, selama tahun 1987 ini, ia tidak pernah keluar rumah.

HABIS, KIKIS. Sekalipun Ibet menyadari bahwa dirinya seksi, bintang yang kerap membintangi film-film yang mengeksploitasi keseksian ini tak mau mengandalkan keseksiannya. “Keseksian itu bisa habis dimakan waktu. Itu saya sadar benar. Cinta karena cantik itu, cepat habis.” Tidak lagi percaya pada cinta? “Saya percaya pada kasih sayang. Kasih sayang itu tidak pernah kikis. Makanya kalau saya kawin, yang saya pentingkan pribadinya.”

Dan pemeran film Montir-Montir Cantik ini senantiasa menghindar jika diajak bicara mengenai eks suaminya. “Pokoknya saya sakit hati dan benci sama dia. Dia sekarang (1988-red) ada di Jerman. Ibet merasa bahgaia menggulati dunia akting.

Dari dunia ini ia bisa bergaul dengan orang-orang yang latar belakangnya bermacam-macam. Kehidupan akting ia kenal ketika ia bergabung dengan Teater Hitam Putih pimpinan Adi Kurdi. Tapi, ia kemudian keluar setelah mendapat kesibukan main film. Walaupun itu hanya peran pembantu, tapi juga menyita waktu.”

Toh, sebetulnya, ia lebih senang main di teater. Hanya karena kebutuhan rumah tangga, ia harus juga main film. Tapi film-film Ibet banyak adegan ranjangnya, ya? “Dulu (jauh sebelum 1988-red)! Sekarang (1988-red) saya sudah bersumpah di kuburan papa, untuk tidak lagi melakukan adegan ranjang. Sekarang (1988-red) saya ketat menyeleksi.”

Diakuinya, perubahan cara berpikir ini disebabkan oleh permintaan almarhum papanya, selain dikarenakan pergaulannya dengan anggota Teater Populer, pimpinan Teguh Karya. “Sudah janda, main film panas. Itu akibatnya tidak baik bagi saya.” Siapapun yang mempengaruhi, perubahan ke kesadaran dan penyadaran ini sudah jadi satu nilai untukmu, Bet. Syukurlah…

Ditulis oleh: Bujang Praktiko

Alamat Ratna Debby (waktu itu):

Jl. Kavling 12

RT 809 RW 014

Kebun Baru – Tebet

Jakarta Selatan

Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer