RASA BERSALAH ANAK YANG DITANAMKAN OLEH IBU DAN AYAH (PSIKOLOGI, TVRI - SELASA, 26 APRIL 1988 Pkl: 18.35 WIB)

DR. Sarlito Wirawan Sarwono

PERASAAN bersalah merupakan salah satu emosi manusia yang paling kuat dan paling merusak. Menurut DR. Sarlito Wirawan Sarwono, (saat itu) 44 tahun, anak yang terlalu sering disalahkan akan tumbuh menjadi anak yang tidak punya kepercayaan diri dan tidak berani ambil inisiatif.

Orang yang perbuatannya paling sering menyebabkan kita mreasa bersalah adalah orang yang paling dekat dengan kita. Orangtua misalnya. Celakanya, banyak orangtua yang tidak begitu sadar, perbuatan-perbuatan yang kecil-kecil, yang menurut mereka tidak apa-apa, justru membawa dampak negatif yang besar untuk anaknya.

DR. Sarlito mencontohkan. Dalam suatu pesta keluarga, misalnya. Si anak ingin membantu ibunya membawakan piring berisi makanan ke meja makan. Niat baik si anak dipatahkan ibunya dengan berkata, “Awas, nanti pecha, itu khan barang mahal!” Hal seperti ini membuat anak merasa kecewa. “’Wong’ perbuatan yang terbaik pun hasilnya begini. Yah sudah, sekalian nakal saja.”

Setiap anak ingin merasa dirinya berarti untuk orang lain. Orangtua bisa memberi kesempatan kepada anaknya untuk mewujudkan keinginannya dnegan menyuruhnay mengerjakan sesuatu yang tidak merugikan. Misalnya sebelum si anak mengangkat piring mahal itu, si ibu sudah memintanya menolong membawakan tempat buah yang terbuat dari plastik.

Ada juga orangtua yang memanfaatkan rasa bersalah ini untuk memacu anaknya. Sikap yang menurut Sarlito salah besar. Orangtua misalnya, suka membandingkan anaknya dnegan anak lain. Padahal, orang itu lain-lain. Atau sikap tidak menghargai prestasi anak yang kecil.

“Misalnya, suatu hari, anak pulang dengan membawa hasil ulangan matematika. Nih, ma, matematikanya dapat 7. Si ibu lalu jawab, “Ala, yang 7 aja yang dibawa pulang, yang dapat 5 nggak dibawa”.” Dengan demikian, anak tidak diberi kesempatan untuk menghayati keberhasilannya. Segi positif dirinya dan kebesarannya.

“Yang dihantam yang jelek terus. Lama-lama yang besar, ya yang jelek itu. Dia merasa dirinya jelek, kecil. Akhirnya, dia cari kebaikan dan popularitas lewat cara yang nggak benar.” Sarlito percaya, pada dasarnya, anak itu nggak jahat. Dia jadi jahat, jadi tukang tipu, tukang bohong, karena reaksi terhadap perlakuan orang-orang dewasa. Begini dimarahi. Begitu dimarahi. Akhirnya dia cari jalan sendiri. Ambil uang orangtua, misalnya, untuk menarik perhatian teman-temannya.

KECEWA. Anak yang terus-menerus kecewa, jadi nakal di belakang orangtua 

Satu hal yang wajar saja, kalau orangtua ingin anaknya maju dan berhasil dalam hidupnya. Tapi sering, tanpa disadari, yang terjadi malah salah dorong.

Di tempat yang tak boleh dikutak-katik, malah dipacu. Dalam hal ini, menurut Sarlito, yang penting, anak harus dibina agar nanti bisa mandiri. Untuk itu, dia harus berusaha sebaik mungkin di bidang dia. “Pokoknya, ‘U do the best’, kalau kau terbaik di situ, kau pasti bisa maju, apakah nanti dia lebih besar dari orangtuanya atau tidak, itu urusan dia.”

Menghargai prestasi anak, membanggakan sesuatu yang kuat pada dirinya tidak berarti lalu tidak boleh menghukum anak. Kalau dia salah, tetap harus dihukum, tapi hukumannya harus konsisten, jangan kalau suasana hati lagi keruh, hukumannya lalu jadi berat, kalau lagi senang, tidak dihukum. Yang jelas, setiap perkataan dan perbuatan orangtua akan direkam anak dalam inagatannya. Apa yang terekam ini, turut menentukan pembentukan kepribadiannya.

Dan pada hakikatnya, mendidik anak merupakan praktek cinta. Rumusan cinta ada macam-macam, salah satunya, adalah membiarkan orang yang dicintai menjadi dirinya sendiri, dan bersedia menerima dia apa adanya. Dengan sikap seperti ini, kita bisa menghindarkan diri membuat anak terus-menerus merasa dirinya bersalah.

Ditulis oleh: Irene Suliana 

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer