PRANADJAJA (PEMBINAAN BAHASA INDONESIA, TVRI - SELASA, 19 JANUARI 1988 Pkl: 20.30 WIB)
SEORANG pencipta lagu harus banyak membaca karya sastra,
baik karya barat maupun timur. Supaya mereka memiliki kosakata yang banyak. Yang
bicara demikian Pranadjaja, komponis kelahiran Yogya, 11 Desember 1929.
“Melodi dan lirik itu harus selaras. Karena setiap melodi punya sifat yang sama.” Dan Pran banyak melihat aksentuasi melodi dan lirik kurang sinkron. Hal tersebut, menurut lulusan Universitas Tokyo Geidai ini disebabkan minimnya perbendaharaan bahasa para pencipta lagu. “Banyak pencipta lagu di Indonesia yang berbakat, tapi mereka tidak mau belajar kembali, dan gampang puas.”
Tambahnya, “Bakat seni hanya 10%, sedangkan 90%-nya harus belajar.” Akhirnya, ia menyarankan pada pemusik agar jangan gampang tergiur materi, sehingga mutu karyanya menurun.
Ia kemudian menyebut nama Guruh Sukarno Putra dan Ebiet G. Ade sebagai contoh pencipta lagu yang memperhitungkan mutu. “Saya suka Guruh, karena setiap lagunya memiliki bahasa terobosan. Ia tidak tiru-tiru. Lihat saja, Madu dan Racun sukses (karya Arie Wibowo Billbrod-red). Segera saja banyak lagu yang melodi dan liriknya nyaris sama.” Pencipta lagu kita (waktu itu) masih “kanak-kanak” – suka latah – ya, pak Pran…
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
Dok. Monitor – No. 63/II/minggu ke-3 Januari 1988/13-19 Januari 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar