PONDOKAN 1988: "SOAL TRANSMIGRAN TANPA MENYINGGUNG YANG KENA "PUSO" DAN KECURIGAAN TERHADAP FOTOMODEL PORNO" (PONDOKAN, TVRI - RABU, 6 JANUARI 1988 Pkl: 21.30 WIB)

 KANTIN. Sebuah adegan Pondokan di luar studio. Keke sedang mempengaruhi Enny sambil makan-makan. Aslinya, restoran ini cuma salah satu sudut kantin TVRI Jakarta

MASIH dalam bayangan sukses seri sebelumnya – Nyanyian Untuk Winda – lagu You Are Dolly Parton masih terdengar dalam seri berikutnya; Suara-Suara Sahabat. Bukan itu saja. Sebuah lagu berbau rock mengawali kisah ini, selain lagu kelompok pengamen. Tidak ada kaitannya dengan pengamen gadungan alias Rio di episode sebelumnya.

Dalam sebuah kemasan yang berbau kasus aktual, Hari Ibu dan Tahun Baru, penulis naskah Daniel Conk memfokuskan tokoh Enny, seraya sambil lalu memasukkan tokoh baru, Dahniar, dimainkan oleh Sabrina.

Wajah baru (era itu), masih segar (waktu itu), dan (kala itu) masih pantas disebut mahasiswi, bisa jadi cara menjadi seri Pondokan untuk secara bertahap mengoreksi ‘casting’ para pemainnya. Lepas dari kualitas, permainan Tetty Liz Indriati (Wenny), Alicia Djohar (Lia), dan Hanna Wijaya (Rani), aslinya (saat itu) sudah ibu-ibu dengan beberapa putra.

PORNO. Diceritakan, Enny kesulitan keuangan. Ibunya sakit ginjal, harus cuci darah. Ayahnya kerepotan. Dalam keadaan bingung, muncul seorang teman lama, Keke (Yantri Yanuarti), bekas teman SMP. Tidak jelas bagaimana dan apa kegiatan wanita yang berpenampilan bak peragawati ini. Yang jelas, ia menawarkan suatu kesempatan untuk mencari uang buat Enny: menjadi fotomodel.

Enny menyambutnya dengan baik. Berkenalan dengan sang fotografer Jerry, Enny langsung dapat jatah pemotretan. Demi profesi baru, demi meringankan beban orangtua, Enny lebih memilih untuk bekerja menjelang liburan Tahun Baru ketimbang pulang kampugn menemui ibunya yang sakit. Teman sepondokan, entah punya firasat jelek atau bagaimana, curiga saja kepada Keke yang menor.

Enny marah mendengar kecurigaan tanpa dasar itu. Masak ia akan dijadikan fotomodel porno? Yang namanya cerita, kebetulan sang ibu pelindung, ibu Dedeh, tidak di tempat. Lia yang biasanya cerewet juga sudah mulai sadar diri. Gantian Winda yang berani mengotak-atik bahayanya profesi ini.

Apalagi setelah datangnya Zul. Pemuda yang bekerja di biro perjalanan ini, rupanya tahu banyak. Ia pernah mendengar nama Jerry dan apa kira-kira profesinya. Saat-saat keberangkatan Enny untuk pemotretan, bu Dedeh pulang. Tapi, Enny menolak anggapan jelek semua teman sepondokan, termasuk nasihat bu Dedeh. Ia tetap saja berangkat. Sebuah adegan yang khusus diambil di kawasan puncak, menjadi klimaks dari kisah ini.

Ditulis oleh: Rachmat Riyadi

Dok. Monitor – No. 62/II/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer