PINTU YANG TERBUKA, POLISI YANG BEKERJA DENGAN HATI (RMD, TVRI - MINGGU, 21 AGUSTUS 1988 Pkl: 12.30 WIB)

TERKEJUT. Pak Musa (Hamid Arief), kanan, terkejut begitu tahu yang mencuri uang kas perusahaan penggergajian kayu milik pak Surki (Deddy Sutomo), kiri, adalah Sugeng, pegawainya sendiri

SUGENG mengalami nasib buruk. Ibunya yang mengidap kanker paru-paru mesti dioperasi. Sudah beberapa lama dirawat di sanatorium Cisarua. Ia bingung. Ke mana mesti mencari uang? Meminjam kepada pak Sukri, juragannya di penggergajian kayu, ia malu. Sugeng keppet. Kebetulan, Karna, suruhan Haji Suaib datang, membawa uang pembayar utangnya pada pak Sukri. Kebetulan juga, pak Sukri dan pak Musa sedang tak ada – mereka sedang mengirim papan ke sebuah proyek di Jakarta.

Kebetulan juga, bu Sukri meletakkan uang itu di peti besi kecil, bersama uang kas lain, di laci meja kantor. Sugeng khilaf. Karena keadaan yang begitu memepetnya, ia menyambar uang itu. Tentu, pak Sukri dan pak Musa kaget, ketika uang yang disimpan bu Sukri sudah raib.

Polisi pun dipanggil untuk menyelidiki kehilangan itu. “yang mengambil adalah dia yang tahu persis situasi kantor ini,” ungka polisi. “Pelakunya orang dalam?,” tanya pak Musa. “Orang luar mana mungkin berhasil dalam waktu singkat bisa masuk ke sini, mencari dan menemukan di mana uang itu disimpan!,” seru polisi. Seluruh pegawai penggergajian kayu pak Sukri pun diperiksa. Kecuali Sugeng yang tak masuk beberapa hari, lantaran menemani ibunya.

Karenanya, penyelidikan pun diarahkan ke Sugeng. Anak ini, tentu, tidak mengatakan uang yang diserahkan pada ibunya itu hasil curian, tapi pinjaman dari pak Sujkri. Jadi, ya wajar saja kalau dia mengucapkan terima kasih pada pak Sukri, yang datang ke sanatorium itu bersama polisi.

Sugeng sendiri kaget. Tapi buru-buru mengaku. “Uang itu masih ada, utuh pada saya, pak,” tutur Sugeng, sambil menjelaskan pada pak Sukri dan polisi – semata-mata semuanya dilakukan untuk membiayai operasi dan pengobatan.

TENANG, TERANG. Episode Pintu Yang Terbuka, yang berkisah tentang Sugeng yang kepepet dan lalu mencuri uang pak Sukri itu memang mengundang belas kasihan. Tapi, Ali Shahab menggarapnya dengan sentuhan yang sederhana.

Sugeng, yang mestinya mengalami kejutan psikologis ketika kedatangan pak Sukri dan polisi di sanatorium, dibuat tenang. Artinya, bisa menjelaskan segala hal-ihwal yang mendorong dia mencuri secara lancar. Tentu, dengan sedikit tekanan irama yang mengundang pak Sukri tergelitik hatinya.

Memang, ada kecenderungan Ali Shahab untuk menggiring cerita supaya penonton bisa memandang suatu persoalan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang lebih kompleks. Tak hanya melihat sesuatu kasus tertentu hanya berdasarkan faktanya semata.

Bahkan ada kesan, Ali Shahab hendak menampilkan citra polisi sebagai perangkat negara yang bisa juga berbicara dengan hati, tak cuma dengan tangan. Polisi ideal yang mampu mempertimbangkan sesuatu perkara tindak pidana dengan keselarasan dan keseimbangan rasio dan nurani.

Tapi, ada dimensi lain yang tampaknya agak terlupakan. Yakni, proses terbukanya pintu hati keluarga pak Sukri. Terutama bu Sukri dan pak Musa, yang mudah menerima tindakan bajik pak Sukri secara serta-merta, meski dengan sedikit sentak keterkejutan. Akibatnya, kecurigaan yang sudah membumbung tinggi dan cenderung menjadi kesimpulan pak Musa, mesti diturunkan intensitasnya secara mendadak.

Pintu Yang Terbuka, lepas dari soal itu, menawarkan suatu pelajaran yang menarik. Yakni, bagaimana semestinya seseorang menggunakan akal dan pikirannya sebagai kendali perilaku dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.

Pesona itu mungkin sekali hadir secara visual, karena Ali Shahab, dalam episode ini, tampak semakin terasa mengorganisasikan para pemerannya dalam suatu rentang yang terjaga satu dengan lainnya. Artinya, antara pemeran yang satu dengan yang lainnya ada jarak. Jarak untuk mengeksploitasi akting masing-masingnya. Juga wataknya masing-masing. Meski konflik yang terdapat di dalam cerita terasa cair.

Ditulis oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy

PINTU YANG TERBUKA

Pak Sukri – Deddy Sutomo

Bu Sukri – Aminah Cendrakasih

Pak Musa – A. Hamid Arief

Mak Wok – Wolly Sutinah

Bayu – Septian Dwicahyo

Gerhana – Andi Anzi Septavi

Penulis skenario/produser/sutradara: Ali Shahab

Kameramen: Boy Bermaki, Priyono

Produksi: Sepro Karya Pratama-TVRI

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer