PELAKU & PERISTIWA (MONITOR NO. 193/IV/MINGGU, 18 MARET 1990)
RUTH SAHANAYA. BAJU. Genap 24 tahun, 1 September 1990
nantinya. Rupanya pertambahan umrunya nantinya tidak turut menambah tinggi
badannya yang 153 cm itu. Penyanyi ini memang cantik, manis, dan imut-imut,
persis seperti lagu baru (kala itu) pelawak Kadir.
Lalu, apalagi yang dibicarakan bila bertemu artis, kalau bukan penampilannya? Kali ini ditemui TVRI Jakarta saat ‘shooting’ Berpacu Dalam Melodi. Uthe, demikian nama pangilannya, mengenakan baju, ‘show’ terbarunya (waktu itu) yang berwarna biru gemerlap.
Berapa harganya? “Yang ini di bawah 500 ribu rupiah,” ujarnya malu-malu. Lantas, sambil masih tersipu diakuinya harga baju-baju ‘show’-nya berkisah 100 sampai 500 ribu rupiah. “Tidak ada yang lebih dari itu kok. Dan itu dipakai 2 sampai 3 kali ‘show’,” katanya. “Bahannya pun dari dalam negeri,“ katanya lagi, sambil berlari untuk menyanyi lagunya yang berjudul Astaga (karya James Sundah-red).
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
BENYAMIN S: SAYANG ANAK. Rupanya hubungan bapak dan anak
memang mesra. Buktinya, saat Benyamin mengisi acara di TVRI Jakarta, 14 Maret
1990, anaknya yang (waktu itu) terkecil, asyik menemani dan memperhatikan
bapaknya yang beraksi di depan kamera.
Ben, begitu panggilannya, rupanya juga sayang pada anaknya. Beberapa kali Ben menyempatkan diri mendatangi anak dan istrinya saat menunggu naik panggung untuk menyanyikan beberapa lagu, yang ternyata kerap diulang-ulang saat pengambilan gambarnya.
Ben pun mengelus kepala anaknya dan menyuruh sabar menunggu. Ketika selesai, dengan bergegas membawa anak dan istrinya keluar. “Maaf, saya ada acara lagi,” kilahnya ketika diminta ngobrol dengan MM (Monitor Minggu), tapi tak menolak untuk foto sekeluarga.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
PETTY TUNJUNGSARI: KELUAR. Anak sulung dari penyanyi kawakan
Titiek Puspa yang kegemaran makan bakso ini, ternyata (waktu itu) sudah tidak lagi
duduk di ‘public relations department’ Hotel Sahid Jaya Jakarta. “Sejak 2 bulan
yang lalu (Januari 1990-red),” katanya (waktu itu).
Kenapa? “Sebetulnya nggak ada apa-apa, cuma di sana terlalu sibuk saja,” jawabnya saat ditemui di ruang ganti TVRI seusai mengisi acara Berpacu Dalam Melodi, 13 Maret 1990, untuk menyambut hari Kartini. Apa tidak sayang melepas jabatan itu?
“Yah, gimana ya? Sekarang (1990-red) saya juga berkecimpung dalam bidang yang sama kok,” ujar penggemar baju warna hitam, putih, dan kuning ini (waktu itu). Untuk itu, ia mulai menempati kantor barunya (waktu itu) di Warung Buncit, Jakarta Selatan.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
LAILA SARI: NGE-ROCK. Umurnya (saat itu) sudah 57, tapi
ternyata (waktu itu) masih energik. Ini dibuktikannya ketika tampil sebagai
bintang tamu untuk acara Berpacu Dalam Melodi di TVRI Jakarta, 14 Maret 1990.
Saat itu, dengan dandanan ciri khasnya sebagai nenek-nenek, lengkap dengan
kebaya panjang, rambut putih, dan gigi yang dihitamkan untuk mengesankan ompong.
Lalu mengalunkan lagu I Can’t Stop Loving U yang dinyanyikan dengan gaya dan suara rock, persis penyanyi rock yang (waktu itu) banyak bermunculan. Berapa lama hafalnya lagu itu? “2 bulan,” jawabnya terkekeh-kekeh. “Maklum, orangtua, sering lupanya,” sahutnya lagi. Sampai Maret 1990, ia masih kerap mengisi acara drama di TV (TVRI-red) bersama dengan kelompoknya, Laila Group.
Kegiatan terakhir (kala itu)? “Ikut main dalam film terbarunya Dorce (Gamalama-red),” katanya (waktu itu) sambil sibuk membersihkan warna hitam di gigi yang ternyata (waktu itu) masih utuh dan putih.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
Dok. Monitor – No. 193/IV/Minggu, 18 Maret 1990, dengan sedikit perubahan






Komentar
Posting Komentar