PEJUANG TUA, BERJUANG MENUNGGU EPISODE BERIKUTNYA YANG SEKIAN LAMA MACET (TVRI - RABU, 17 AGUSTUS 1988 Pkl: 12.30 WIB)
PENGARAH acara Yossie Enes dalam membesut sinetron yang
berdasarkan skenario Asrul Snai, jumlahnya sedikit sekali. Berbeda dengan Dedi
Setiadi, Irwinsyah, maupun almarhum Tiar Muslim, Yossie boleh dibilang (waktu
itu) belum terbiasa.
Catatan M. (Monitor), baru 3 kali (sampai saat itu) Yossie menangani. Itu pun 2 sinetron yang dikerjakan di luar studio. Data ini perlu dikemukakan, sebab seorang pengarah acara yang (waktu itu) belum lengket mengenal skenario Asrul Sani, pasti kerap mengalami kesulitan interpretasi. Tentu ada sutradara atau pengarah acara yang mampu mleakukan, kendati (waktu itu) baru sekali bekerjasama dengan Asrul Sani. Tetapi harus diakui itu perkecualian.
Di sinilah akhirnya dibutuhkan dialog antara sang sutradara dengan penulis skenario. Tatap muka itu jelas bermanfaat, mengingat skenario Asrul Sani bak sebuah puisi. Puisi perenungan pribadinya, dan bukan semata-mata letupan emosi belaka. Bagaimanapun sebuah sinetron, jika skenarionya ditulis Asrul, merupakan bagian dari nuansa kehidupan yang kita alami.
Bila Yossie yang menggarap Pejuang Tua (PT) jadi kedodoran, dapatlah dimengerti. Ada beberapa hal yang layak disimak dari garapan Yossie, bahwa sang pengarah acara tersebut memiliki semangat meletup-letup. Karena saking meletupnya, dia lupa terhadap sesuatu yang mendasar. Yossie (waktu itu) belum sanggup membebaskan hambatnanya alam soal teknis. Maunya dia ingin melontarkan segala sesuatunya yang serba besar.
Lakon PT sangat sederhana. Dikisahkan, 3 pejuang TNI yang kehilangan induk pasukan. Mereka, Rakhmat, Sutomo, dan Kadir, berusaha terus mencari untuk bergabung kembali. Sampai terjadi mereka terdampar di desa Gambir. Konflik bermuara dari desa itu. Tetapi hanya bersifat pengenalan saja. Pasalnya, menurut si pengarang, PT adalah episode pertama dari serial Daerah Tidak Bertuan.
Meski sekadar pengenalan terhadap 3 pejaugn itu, toh Yossie tidak mengangkat dalam bingkai yang gamblang. Kesannya bagai cerita silat. Apa beda 3 pejuang dengan 3 pendekar yang mengembara setelah menumpas kejahatan?
Terdapat beberapa adegan yang sebetulnya menarik tatkala tentara Belanda mencoba mengancam penduduk desa Gambir. Desa gambir akan dibumihanguskan jika tidak menyerahkan ketiga pejuang itu. Yang tampil justru adegan verbal. Pertentangan antara para penduduk yang menyetujui dan yang menolak untuk menyerahkan ketiga pejuang, tidaklah menggugat.
Dialog yang diletupkan Asrul Sani – biasanya sangat bernas – tiba-tiba mengambang. Dengan kata lain, Yossie tidak menangkap esensi yang ada dalam PT. Dia cuma menangkap kulit ketimbang visinya. Ketiga pejuang itu, seperti penuturan Asrul Sani, dalam episode berikut malah kembali ke masyarakat. Mereka tidak berjuang terus-menerus dalam pengertian fisik, namun berjuang kepada dirinya di alam kemerdekaan ini.
“Masih tetap berjuang, hanya format peristiwanya yang lain,” tutur Asrul. Itulah, kalau PT yang diproduksi 2 tahun sebelumnya – 1986, red – (syuting di daerah Semarang) pada babak berikutnya macet di tengah jalan, dan nasibnya sama dengan serial sinetron Tompo Kersan (TVRI)-nya Emil Sanossa (M. 93 – Monitor 10-16 Agustus 1988, red) yang baru episode pertama, Napak Tilas, ditayangkan.
Lalu, muncullah gerutu: apa memang begitu nasib seorang pejuang yang kelahirannya selalu bersifat ‘premature’? Atau memang karnena episode awal (baik serial Daerah Tidak Berutan maupun Tompo Kersan) yang menurut TVRI tidak memenuhi persyaratan mutu, lantas episode selanjutnya distop?
Pertanyaan tersebut patut kita renungkan, sebagaimana lakon-lakon Asrul. Tetapi, bagi Yossie, kegagalan PT adalah pengalaman terbaik buatnya untuk lebih memahami karya Asrul Sani secara akrab.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
PEJUANG TUA
Rakhmat – Alfian
Sutomo – Gito Rollies
Kadir – Edward Bahar
Pengarah acara: Yossie Enes
Skenario: Asrul Sani
Produksi: TVRI Pusat Jakarta dibantu SPK Semarang
Batas usia: 13 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar