PANGKALAN HUMOR MENGAJAK TERTAWA LEWAT WASPADA (PANGKALAN HUMOR, TVRI - JUMAT, 19 AGUSTUS 1988 Pkl: 21.30 WIB)

CUBIT. Wieke mencubit Kadir untuk melampiaskan rasa kesal akan kebodohan suaminya

(HARAPAN waktu itu) semoga saja lakon Waspada tidak mengalam inasib seperti Kalung Permata Biru, yang bulan Juli 1988 lalu batal ditayangkan. Kalau diambil perbandingan, paket ini lebih bagus dan menarik dibanding Kalung Permata Biru.

Rupanya, Timbul yang bertindak selaku pengatur laku, ingin mengulang keberhasilan tayangan sebelumnya, yakni E…. Lhadalah. Maka, dalam pergelaran kali ini, ia membuat ‘casting’ dan susunan adegan yang hampir sama. Babak pertama dibuka pasangan suami-istri Timbul-Susi Sunaryo. Suasana belum menahngat. Yang mereka sajikan masih terasa datar. Dapat dimaklumi, permulaan memang biasanya tak menghentak.

Munculnya Kentus dan Susi Handoko yang berperan sebagai adik Timbul, dimaksudkan sebagai jembatan untuk menuju permasalahan dan pemancing perhatian penonton. Adanya mereka berdua memang memberi peluang pada Timbul dan Susi Sunaryo untuk meletupkan tawa.

Adalah tepat tindakan Susi Sunaryo untuk mengalah, memberikan lebih banyak kesempatan pada Timbul yang mulai gencar menyambar umpan-umpan yang ada. Pelesetan geraknya yang khas tetap mengundang senyum. Adegan ini menjadi milik timbul dan Naryo. Soal kedatangan Kentus dan Susi Handoko meminjam uang, terolah baik.

Celetukan Naryo tak terduga dan tepat. Pelawak ini begitu jeli membaca suasana. Gayanya yang kalem dengan sesekali berkomentar atau mempermainkan mainan anak-anak, terasa pas. Dengan satu, dua kalimat ia mampu mengimbangi dan menjaga irama permainan. Masih dengan gaya lawakan yang sama, Naryo semakin esring menciptakan gerr di adegan selanjutnya.

Nongolnya George Sauplete, teman Timbul dalam jual-beli barang-barang antik, sebagai jembatan selanjutnya melicinkan Timbul dan Naryo dalam menyebar kelucuan. Setelah George menghilang, Bauski menggantikan. Dari sinilah sesungguhnya cerita dimulai. Basuki yang tak jelas identitasnya itu mengatakan ingin membeli tiga barang keramik milik Timbul. Naryo yang diminta menjaga, takt ahu kalau Basuki sebenarnya seorang penipu. Maka, ia kena tipu.

 

SUASANA. Tarsan dan Yati Surachman, bintang tamu yang menghidupkan suasana

IRAMA, PRIMA. Babak kedua pindah ke keluarga Kadir yang beristrikan Wieke Widowati. Pasnagan ini berniat menjual berlian. Peminat pertawa adalah Pete dan Bowo. Adegan yang melibatkan empat orang itu tak istimewa, dalam kata lain datar-datar saja. Meskipunb ukan berarti tak ada kelucuan mengalir. Tetap ada, cuma tak begitu meriah. Kelemahan di adegan ini, terlihat kekosongan atau menurunnya irama.

Malah untuk sesaat mereka terjebak dengan misi. Pembicaraan yang menyinggung transmigrasi rada mengendorkan suasana. Kayaknya (perkiraan waktu itu) masih merupakan suatu masalah dalam pergelaran komedi, bila harus menyentil yang begitu. Belum ada yang menemukan resep pas rupanya (sampai saat itu).

Juga permainkan kata perihal telur agak kepanjangan. Pete yang sebenarnya memmiliki potensi besar dalam meletupkan gerr, sayang pada penampilannya ini kurang menonjol. Basuki muncul kembali. Bersama Yati – yang belakangan itu ternyata juga kena tipu – ia menipu keluarga Kadir.

 

PERTAMA. Salah satu adegan di babak pertama, Susi Handoko dan Timbul 

Adanya Basuki suasana menghangat lagi. Kendati ia sendiri tidak terlalu banyak membuat gelak, tapi permasalahan jadi berkembang. Kalaupun kemudian petualangan Basuki berakhir di tangan polisi, itu cuma lewat penuturan Tarsan. Tarsan seperti biasanya jadi tokoh yang bijak, penengah, atau sejenisnya. Dengan gaya seperti itu pula lawakan yang ia sajikan. Dan (saat itu) masih lumayan mengggelitik.

Secara keseluruhan, Waspada merupakan tontonan yang apik dan segar. Para pendukungnya pun bermain bagus. Lebih dari itu, kekompakan sangat terasa sekali. Hampir tak ada acara saling serobot memakan umpan. Barangkali yang perlu dijadikan catatan, bila melihat dalam beberapa penampilan Susi Sunaryo selalu bermain prima, ada baiknya jika dalam cerita selanjutnya ia dicoba untuk dijadikan tokoh utama, bukan hanya bermain dalam satu babak seperti 1988 ini.

Ditulis oleh: Tavip Riyanto  

Dok. Monitor – No. 94/II/minggu ke-3 Agustus 1988/17-23 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer