PAKET MUSIK DUA NEGARA, KAWIN DI UDARA, "PENGHULUNYA" SATELIT PALAPA (TITIAN MUHIBAH, TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 23 SEPTEMBER 1989 Pkl: 20.00 WIB)

Masnait VG

PAKET yang (waktu itu) sudah alam sebagai kerjasama TVRI dan RTM (Malaysia) digarap lagi. Untuk kedua kalinya pertukaran terjadi di udara. Kalau sebelumnya kita saling mengunjungi dan paketnya disiarkan dari satu tempat, (belakangan itu) berbeda. “Ini sekaligus penghematan biaya,” kata Helan Abu, penanggung jawab acara di RTM.

Pada awalnya, paket ini tidak sekadar hiburan. Tapi juga dimanfaatkan untuk pertukaran budaya dan mempererat hubungan dua negara seurmpun, Indonesia-Malaysia. “Kita mencoba rancangan baru, pengenalan budaya itu kita buat di paket lain. Apalagi sudah ada ASEAN Pop Songs Festival,” kata Helan.

Maka mulai 1989, rancangan itu dirombak. Chris Pattikawa dari TVRI pun harus berdialog langsung dengan pihak RTM membahas masalah pergantian bentuk acaranya. Ada baiknya, selain memanfaatkan kecanggihan teknologi, akhrinya pemirsa juga disuguhi bentuk siaran yang rada beda. Seperti awal siaran bentuk lain ini, dua penyiar kita berdialog dnegan dua penyiar RTM yang di sini dapat terlihat di layar khusus.

Teknisnya juga nggak begitu ruwet. Di auditorium RTM yang terletak di antara studio televisi dan radio telah siap kru dan artis Malaysia, sementara kru dan artis Indonesia siap di studio VII, lengkap dengan penontonnya. Maka ketika waktunya tiba, satelit Palapa menjadi “penghulu”, “mengawinkan” acara dua negara itu di udara.

Neno Warisman

Sebetulnya yang begini bukan hal baru. TVRI juga beberapa kali menayangkan bentuk wawancara lewat satelit. “Yang jelas, selain menghemat biaya, juga waktu dan tenaga,” kata Helan.

 

Tetty Manurung 

TETTY MANURUNG. Situasi seperti ini juga membuat dua stasiun televisi lebih leluasa. Sebab, selain yang ‘live’, waktu yang lowong bisa dimanfaatkan untuk membuat stok rekaman. Seperti untuk yang September 1989, TVRI telah merekam gambar sebagian pengisi di luar studio. Ini berarti menambah variasi. Ketimbang sekadar pertunjukan panggung yang sebelumnya sudah teramat sering dilakukan.

Yang menjadi bahan perhatian, justru materi yang dihidupkan. Untuk yang September 1989, TVRI (waktu itu) bakal mengirimkan variasi lagu-lagu yang lumayan banyak. Mulai dari lagu bertema kepahlawanan sampai lagu-lagu yang (saat itu) tengah merangkak di pasar. Dan jangan kaget kalau nantinya (waktu itu) melihat budaya musik atau lagu keroyokan pun muncul di sana. Pengaruh pasar, lagu-lagu, mau nggak mau mempengaruhi tayangan.

Akan muncul Billboard All Stars, pasukan Rock Kemanusiaan, dan segudang artis cadas lainnya yang (waktu itu) bakal menyanyikan Kebyar-Kebyarnya Gombloh. Lantas, ada lagi Bimbo, sanggar tari punya Ati Ganda, tari Sentot Grup.

Lantas masih ada lagi nama-nama lain, Elfa’s Grup, Neno Warisman, Masnait VG, Nainggolan Sisters, Mus Mulyadi, dan Tuty Trisedya. Kalau dihitung-hitung, jumlah pengisinya lebih dari 50 artis. Tapi dari pemilihan materi lagu-lagu, bahan yang disiapkan TVRI cukup bermutu.

Yang berbau pahlawan adalah lagu-lagu yang melegenda. Lantas yang dipilih dari daerah pun demikian. Dan dari jalur pasar yang (waktu itu) tengah berjaya, juga yang memang pantas didengar, macam Jangan Buang Waktu oleh Tetty Manurung dan rombongan Geronimo, Katakan Kita Raskaan dan Esok Penuh Harapan.

Lantas (waktu itu) masih ada lagu keroncong yang berjudul Pahlawan Merdeka. Semua materi ini (kala itu) bakal dibikin gonta-ganti. Beberapa lagu ditayangkan, kemudian disusul oleh paket Malaysia. Dan di penghujung acara, perkawinan paket (waktu itu) akan terlihat jelas. Semua artis Indonesia dan Malaysia yang mendukung acara (waktu kitu) akan menyatu di layar televisi menyanyikan lagu ciptaan Franky, Kemesraan.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Dok. Monitor – No. 151/III/minggu ke-4 September 1989/20-26 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer