PADA HARI TERAKHIR, GOMBLOH MERASA SEGAR KE RUMAH SAKIT, ISTRINYA LONCAT PAGAR

 Searah jarum jam:

Menyadari diri sakit, di manapun jika tiba waktunya, Gombloh menyempatkan diri menelan obat.

Barangkali gerah buat Gombloh, tapi sebelum tampil, mau tak mau harus dirias.

Tanpa ekspresi, menyanyikan Kugadaikan Cintaku di televisi. Syukur Titi bisa menghangatkan sajian lewat tarian enerjik. Lantas meledak, Gombloh melambung.

Kematian itu datang juga. Di rumah duka, keluarga Gombloh berbincang dengan Titi Qadarsih. Saing berbagi kenangan.

Ketika dimakamkan, lautan manusia berbondong ke pemakaman Tembok. Mereka menyanyikan lagu-lagu ciptaan Gombloh.

Rumah yang baru selesai dibangun, belum sempat dihuni Gombloh, Tuhan telah memanggilnya. 

PESAN, KESAN. Semua keluarga tersentak saat Sabtu subuh, 9 Januari 1988, ada yang memberitahu Gombloh di rumah sakit. Wiwik, nyonya Gombloh, terpaksa meloncati apgar rumahnya, karena pada malam hari kunci selalu dikantongi sang suami. Di rumah sakit, Gombloh yang sudah siuman dari pingsan setelah muntah darah, malah menyebut dirinya segar buar. “Ini biasa kok. Nanti juga sembuh sendiri.”

Lantas, kecuali seorang keponakan, semua keluarga pulang. Pukul 13.15 WIB, ternyata Tuhan memanggilnya. Tanpa sempat berpesan apa-apa, tanpa mencium kening istri dan putra mereka, Remy. Bahkan tanpa sempat memenuhi hasratnya, melepas rasa kangen pada anaknya, yang pernah lahir dari rahim gadis Perancis. Mereka ketemu di Bali. Dan pada Titi Qadarsih pernah dia ceritakan betapa kangennya pada sang anak. Bahkan pernah dikirimi duit.

Menjelang akhir hayatnya, Gombloh ternyata semakin takut mati. Pernah kabur dari rumah sakit karena teman sekamar meninggal. Lalu dia rutin berobat pada mbah Kiran di Blitar. Obat dari sim bah inilah yang belakangan itu sering dibawa-bawa ke mana dia pergi.

Menurutnya, dia sudah sehat betul. Bahkan pada rekaman Selekta Pop, acara TV (TVRI-red) yang diisinya terakhir, sempat berkelakar dengan Titi. Titi memukul-mukul bahu Gombloh yang terdiri dari kulit dan tulang. “Biar saja tinggal tulang, khan enak bunyinya kemeretek,” komentar Gombloh. Di malah semakin bisa bercanda. Sudah mulai ‘jogging’ pagi hari, bahkan mencoba menari berputar-putar. Titi pulalah yang datang telat saat penguburan di Tembok, Surabaya, Minggu, 10 Januari 1988.

Dia mengungkapkan rasa sedih, melihat lautan manusia yang mengantar ke tempat peristirahatan menyanyikan lagu-lagu Gombloh. Kesedihannya bertambah ketika menabur bunga di atas makam, mengambang. Karena malam sebelumnya hujan deras. Dan Titi, di sela tangisnya cuma bilang, “Mbloh, ‘kon turu nok kene’?” Seakan nggak percaya melihat tempat itu bagai kubangan.

Padahal, Titi semakin akrab dengan Gombloh. Mereka seharusnya masih mengisi acara Kamera Ria (TVRI). Masih punya rencana bikin duet, seperti keinginan Arie Wibowo, si Singkong Keju.

Gombloh yang ‘super’ sosial, masih sempat meninggalkan sebuah rumah yang baru selesai dibangun untuk anak istri. Ini pun satu hal yang tak pernah terbyaangkan. Yang namanya Gombloh, jika punya duit 100 perak, pengennya memberi 200 perak. Ada cerita temannya, suatu malam, Gombloh dapat duit 2 juta. Pagi esoknya, dia malah minta duit 200 perak buat ongkos pulang dari studio ke rumah. Yang 2 juta sudah ludes.

Atau seperti cerita salah seorang anggota keluaranya, suatu pagi Gombloh minta duit istrinya, 50 ribu. Sorenya habis, waktu ditanya, dia menjawab, “Aku ngajak makan ‘arek-arek’. Masak aku bisa makan, mereka nggak?”

PUTIH, KOCAK. Saat rekaman Selekta, Gombloh yang biasanya pakai jin belel, mendadak datang dengan pakaian serba putih. Orang yang mengantarnya juga. Dan Titi yang mengiringi tari, tanpa sengaja juga pakai kostum putih. Gombloh berseloroh waktu ditanya, “Tahun 1988 ‘iki’, tahun ‘resik’, bersih.”

Lalu, ketika makan bersama, Gombloh pun bisa menghilangkan kebiasaan cueknya. Bisa kocak, ketawa dengan teman-teman. Bercerita tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dia makan.

“Kadang saking banyaknya makanan yang nggak boleh dimakan, akhirnya tak makan juga.” Sementara keinginan hidupnya semakin tebal, saat namanya kian membumbung, Tuhan menyuratkan lain. Padahal, masih ada beberapa pesanan lagu, termasuk dari pemerintah daerah Jawa Timur, bertema kebersihan.

Di Jakarta, Titi Qadarsih memenuhi permintaan anak-anak didiknya membuat acara kenangan Gombloh. Dilaksanakan tanggal 23 Januari 1988 di Pasar Seni Ancol, Jakarta, menmapilkan lagu-lagu ciptaan Gombloh diiringi tari-tarian sekitar 150an anak didik Titi. Sekali lagi, (pihak Monitor waktu itu mengucapkan) selamat jalan sahabat.

Ditulis oleh: Hans Miller Banureah

Foto-foto: Atok Sugiarto, Gunawan Wibisono (Dok. Titi Qadarsih)

Dok. Monitor – No. 64/II/minggu ke-4 Januari 1988/20-26 Januari 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer